31 Januari 2009

Pemilik hidup

Dua hari lalu ada berita di koran tentang sepasang suami isteri di Amerika Serikat yang melakukan bunuh diri setelah membunuh kelima anak mereka. Alasannya : putus asa setelah mereka berdua di PHK dari tempat mereka bekerja.

Ini mengingatkanku tentang kejadian tahun lalu ketika seorang bapak Batak Kristen yang juga membunuh putranya, kemudian bunuh diri setelah bertengkar dengan istrinya dan merasa dirinya sebagai suami yang gagal.

Ada banyak kejadian sejenis : orangtua membunuh anak-anak mereka, karena merasa itu adalah yang terbaik bagi anak-anak itu setelah orang-tuanya merasa tidak mampu lagi melanjutkan hidup dalam kondisi/permasalahan yang sedang dia hadapi.

Benarkah orang-tua berhak mengambil nyawa anak-anaknya? Benarkah kita berhak menentukan sendiri kapan kita mau mati ? Kita kah pemilik roh yang ada di dalam tubuh kita?

30 Januari 2009

Kemerosotan moral (Mikha 7)

Jika kita melihat perilaku makhuk yang disebut manusia, khususnya kebobrokan moral dan rendahnya akhlak para pemimpin dan rakyat banyak, kita tercenung : inikah dia makhluk yang diciptakan serupa dengan Penciptanya ?

Apa yang ada di depan mata kita saat ini bukanlah hal baru.

Mikha 7:2-6

Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia.
Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring.

Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!

Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri;
hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka!

Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan!
Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu!

Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya,
menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Sound familiar, isn't it?

Lalu apakah respon kita?

Mikha 7:7

Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!

29 Januari 2009

Sibuk

Lama tak berjumpa dengan seseorang, setelah bertukar salam dan kabar, orang-orang dewasa biasa bertanya,"Sibuk apa sekarang?"

Biasanya, jawaban yang keluar adalah berkaitan dengan kegiatan proyek-proyek yang sedang berjalan, tugas kantor, atau rutinitas bisnis (untuk yang aktif bekerja) atau berbagai kegiatan kemasyarakatan (untuk halak Batak yang sudah pensiun, khususnya ulaon adat).

Untuk apa dan siapakah semua kesibukan itu kita jalankan ?

Apakah kita sedang mengumpulkan uang 'cukup' (btw, please define 'cukup') untuk mencapai tingkat hidup tertentu (yaitu : ukuran dan fasilitas rumah yang kita huni, jumlah dan merk mobil yang kita kendarai, frekuensi dan lokasi liburan etc,etc) ?

Ataukah kita memerlukan uang untuk menjamin hidup di waktu akan datang (perlu uang berjaga-jaga kalau perlu untuk tindakan medis di Singapura atau Amerika ? bayar premi asuransi ? dana abadi dalam deposito ? warisan untuk satu atau dua generasi ke depan ? imperium bisnis yang akan bertahan 100 tahun ?)

Akh, sibuk maradat...Untuk berpartisipasi sukarela atau terpaksa ?

Apakah segala kesibukan kita akan membawa kita kepada suatu yang berharga saat ini dan di masa yang akan datang ?

Ketika tiba hariNya, sanggupkah kita menjawab mengenai pertanggung-jawaban yang diminta dari kita ? Mungkinkah berbagai kesibukan itu membuat kita lupa melakukan hal yang paling penting dalam hidup, sehingga Raja itu berkata :

Matius 25:42-43

Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;

ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku

Sibuk apa sekarang?

28 Januari 2009

Kasih itu...

Tidak perlu bersusah payah mencari arti kasih :


I Korintus 13: 4-6

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.


Berapa orangkah dari kita yang dapat mengatakan telah menjalankan hukum kasih ? Bukankah kita lebih banyak beromong-kosong tentang hal-hal yang sebenarnya tak mampu kita pikirkan untuk menghindar dari apa yang nyata-nyata diminta Tuhan ?

27 Januari 2009

Ketika cinta kandas...

Karena liburan Imlek, kemarin aku punya waktu untuk membaca-baca majalah lama. Kebetulan aku menemukan beberapa edisi majalah bacaan istriku yang membahas tentang kisah cinta sepasang selebriti : seorang cantik, seorang tampan, dua-duanya terkenal, kaya; singkat cerita mereka menikah secara spektakular di Pulau Dewata dengan acara yang didesain seperti pernikahan dewa dewi (btw, apakah dewa dewi menikah?). Dalam berbagai wawancara mereka menunjukkan besarnya cinta mereka satu sama lain (larger than life) dan betapa mereka adalah pasangan yang memang ditakdirkan untuk bersatu.

Tapi, itu cerita beberapa tahun lalu.

Majalah edisi terakhir menceritakan sang istri mengeluhkan bagaimana dia sungguh-sungguh tidak memahami suaminya. Karena memang mereka selebriti, maka keretakan rumah tangga ini terrekam oleh media, dan tampaknya perpisahan tinggal menunggu waktu.

Lalu, apa kaitannya dengan hita halak Batak Kristen ?

Cerita ini sudah jadi tipikal dalam rumah-tangga masa kini. Tak lihat suku, tak lihat agama, tak lihat status sosial. Plotnya begini : Cinta menggebu...muncul perselisihan...bubar (pecah kongsi, kata orang Medan). Di komunitas Batak Kristen pun ini bukan cerita asing, padahal dulu (akh, itu kan cerita tahun 70-an), kalau ada yang sirang...betapa tabunya. Orang yang bercerai kena "ban" dari gereja. Sekarang ? Gereja pun sudah menerima perceraian (artinya : mudah-mudahan Tuhan bertoleransi dengan kedegilan hati manusia).

Mengapa pasangan bercerai, padahal pernikahan didasari cinta yang mendalam dan menggebu ? Dan, bukankah janji pernikahan mempersyaratkan tidak ada perpisahan kalau bukan karena kematian ? Juga, suami dan isteri akan saling menghormati dan menolong dalam susah dan duka? Kemanakah perginya gebu semangat di masa pacaran dan awal pernikahan itu ?

Sejak lama aku sudah "mencurigai" kata 'jatuh cinta'. Aku tak percaya bahwa jatuh cinta itu dikendalikan oleh suatu yang murni, apalagi tuntunan supranatural dari Tuhan. Aku lebih percaya bahwa jatuh cinta (aku berbicara antara lelaki dan wanita dewasa) lebih digerakkan oleh suatu dorongan biologis dan psikologis, yang dikemas dalam kata-kata penuh bunga dan sayap bidadari. Jatuh cinta sering kali impulsif dan emosional.

Manusia diminta untuk mengasihi Tuhan Allah dan sesama, bukan untuk jatuh cinta kepadaNya dan kepada mereka. Mengasihi bukanlah sesuatu yang muncul secara impulsif, tetapi itu adalah perintah. Artinya : mau tidak mau, kita diwajibkan untuk mengasihi. Ini berbeda dengan jatuh cinta : boleh pilih-pilih. Mengasihi Tuhan Allah haruslah juga dengan menggunakan akal budi. Ini berbeda dengan jatuh cinta : 'kalau sedang jatuh cinta xxxxxx jadi rasa coklat'.

Kembali tentang pernikahan. Manakala 'sihir cinta' sudah berakhir bagi pasangan yang menikah, saatnya ingat tentang apa yang utama dalam hidup, termasuk pernikahan : kasihilah suamimu (apapun keadaannya dan kesalahannya kepadamu), kasihilah istrimu (apapun keadaannya dan kesalahannya kepadamu)...bisa diteruskan : kasihilah anak-anakmu, kasihilah natorasmu, kasihilah simatuamu, kasihilah edamu, kasihilah laemu, kasihilah sude hula-hulamu, kasihilah sude dongan tubumu, kasihilah sude borumu, kasihilah dongan sahuta dohot hombar balokmu, kasihilah pangula huriamu, kasihilah pemerintah setempat...singkatnya, kasihilah mereka yang hadir dan mendoakan pernikahanmu, jangan tipu mereka dengan janji pernikahanmu yang kau ucapkan di hadapan Tuhan dan mereka semua.

Matius 5: 32
Tetapi Aku berkata kepadamu : Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah, dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah

Matius 19: 8
Kata Yesus kepada mereka : "Karena ketegaran harimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian".

26 Januari 2009

Orang-tua dan anak-anaknya yang telah dewasa

Beberapa ibu-ibu tua halak Batak bertemu lalu memperbincangkan banyak hal, dan diskusi akhirnya bermuara pada kondisi anak-anak mereka.
Seorang ibu mengeluhkan keluarga anaknya yang di ambang perceraian, padahal keluarga tersebut telah menikah lebih dari 10 tahun dan telah memiliki 4 anak.
Ibu yang lain menimpali dengan kisah KDRT yang dialami putrinya yang menikah dengan lelaki pilihan hatinya, yang kemudian ternyata memiliki perilaku kasar dan suka main tangan.
Ibu lain lagi, dengan berhati-hati dan suara tersendat, curhat tentang anaknya yang akan segera menggelar pernikahan dengan wanita non-Batak non-Kristen menurut agama mempelai wanita; sang anak telah meninggalkan iman Kristianinya, dan mengatakan siap berpisah dengan keluarga besarnya kalau pernikahan tersebut tak disetujui.

Beberapa ibu tersebut, usia mereka semuanya sudah di atas 60 tahun - sudah bisa digolongkan sebagai 'ompung-ompung' - sama-sama merasakan kepedihan yang disebabkan oleh perilaku dan kondisi rumah-tangga anak-anaknya. Di wajah mereka tampak jelas kegundahan dan rasa putus asa melihat kegagalan rumah tangga anak-anak mereka. "Mengapa ?" Pertanyaan itu menyeruak dari hati yang penat. Mereka dituntut (atau lebih tepatnya : merasa merupakakan kewajibannya) terlibat dalam permasalahan anak-anak mereka, padahal mereka sendiri masih memiliki problem yang segudang (sebagian ada yang sudah mabalu, pendapatan dari marengge-rengge juga terbatas). Haruskah mereka mengurusi lagi anak-anaknya yang sudah berusia 25 tahun bahkan lebih dari 40 tahun ?

Kadang aku berpikir : Bukankah orang-tua sudah diberi waktu sekitar 18 tahun untuk membesarkan dan membentuk karakter anak-anaknya ? Mengapa mereka tidak menggunakan waktu tersebut untuk sungguh-sungguh mengajar dan memberi teladan ?

Teramat banyak kita lihat sekarang ini orang-orang muda melakukan kebodohan dalam hidup. Jika ditelusurui, sebabnya, sebagai besar, adalah akibat salah didik atau kurang pengarahan di masa kecil dan remaja mereka. So, orang tua memang berperan dalam kegagalan rumah-tangga anak-anaknya. Namun, sebenarnya, daripada terus-menerus ikut campur dalam kehidupan pribadi seorang anak yang telah dewasa (yang seringkali membuat keadaan semakin runyam), orang-tua masa kini haruslah lebih banyak berdoa : mohon berkat untuk pemulihan anak-anak mereka dan mohon ampun untuk kelalaian orang tua di masa lalu.

Untuk keluarga muda yang diberkati Tuhan dan dipercayai untuk mengasuh anak-anakNya, mari kita berupaya untuk tidak mengulangi kekeliruan orang tua kita yang abai menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang kuat. Mari kita beri waktu, hati dan doa yang tak putus bagi anak-anak kita, terutama ketika mereka masih di bawah pengasuhan kita. Setelah mereka dewasa... lepaskanlah mereka menjalani hidup mereka sendiri. Kalau kita telah mengasuh dan mendidik mereka dengan benar di masa muda mereka, mereka tak akan mengecewakan orang-tua dan Tuhan.

25 Januari 2009

Menghadapi perbedaan

Setiap kali seseorang mengajakku diskusi tentang "pandangan yang benar" tentang cara pembaptisan, makanan yang haram dan halal, Kristiani tidaknya merayakan Natal, penguburan/kremasi orang mati, bahasa Roh, tanda-tanda akhir zaman dll, biasanya aku enggan. Orang yang mengajak diskusi seperti ini biasanya sudah punya pandangan sendiri dan punya agenda untuk membuatku 'bertobat' dengan mengikuti pemahamannya. Padahal, aku tak memandang penting mempersoalkan hal-hal seperti itu. Aku jauh lebih tertarik dan ingin belajar praktik tentang hukum yang utama dan terutama, karena ternyata sangat sulit untuk mengasihi Allah dan sesama. Mungkin, kalau ada hirarki atau level, maka aku ini ada di level 1, yaitu level paling dasar dalam pemahaman agama Kristen. Tetapi, entah mengapa, kalau memang level itu ada, aku tak merasa penting untuk dapat naik level demi memahami apa yang menjadi concern kawan-kawan itu.

Bagiku : baptisan yang diselamkan atau dipercikkan, makan daging dan darah hewan tertentu atau tidak, sah atau tidaknya merayakan Natal tanggal 25 Desember, apakah orang mati boleh dikremasi atau tidak, benar tidaknya konflik Timur Tengah sebagai tanda akhir zaman dan sebagainya...tidaklah sepenting diskusi dan tindakan untuk mengasihi dengan sungguh-sungguh.

Teramat banyak sekarang ini orang Kristen suka memperdebatkan firman Tuhan, mendadak menjadi 'ahli agama' dan (sepertinya) piawai menafsir Firman Tuhan. Padahal, Yesus sendiri jelas-jelas menunjukkan bahwa yang utama dan terutama adalah menjalankan hukum kasih. Tetapi, sebagian orang Kristen begitu ingin menonjolkan perbedaan pemahaman tentang hal-hal yang trivial dibandingkan dengan hal yang utama. Menurut pengamatanku, sebagian alasan melakukan hal tersebut adalah untuk menghindar dari menjalankan hukum yang utama, misalnya : pendeta atau evangelis yang berteriak lantang di depan podium mengenai baptisan ternyata belum berdamai dengan saudara-saudaranya (padahal untuk pergi pergi beribadah saja Tuhan menyuruh kita berdamai dulu dengan saudara kita). Gembala jemaat yang mendakwa orang yang makan X akan dihukum mati oleh Tuhan, ternyata adalah orang yang masih memendam dendam terhadap seseorang dan tidak akan mau mengampuni orang yang bersalah kepadanya itu. Mengasihi memang lebih sulit daripada mengikuti aturan keagamaan tertentu.

Sebagai orang bodoh, apalagi soal-soal agama, aku tak sanggup memikirkan hal-hal yang tinggi. Aku bersyukur bahwa orang pintar seperti Paulus telah mengingatkan bahwa pemahaman dan pengetahuan yang hebat bukanlah jalan untuk menyenangkan hati Allah. Karena itu, aku tetap merasa nyaman saja ketika terlihat bodoh dan berbeda dalam banyak hal dengan saudara seiman yang sudah cekatan mengutip firman dan mendemonstrasikan kehebatan pemahamannya atau doktrik gereja/alirannya, tetapi aku merasa sangat tidak nyaman setiap kali kusadari bahwa aku belum mengasihi dengan sungguh-sungguh.

I Korintus 13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

24 Januari 2009

Tirani Orang Kecil

Ketika terungkap berbagai penyelewengan, korupsi, persekongkolan dan sebagainya yang dilakukan oleh orang-orang terhormat yang berpendidikan tinggi di negeri ini, banyak orang mencibir betapa bobroknya kelakukan "orang besar." Melihat jumlah uang yang ditilep, busuknya dusta yang coba ditutupi dan kejinya fitnah yang disebar, mau tak mau orang membelalakkan mata menyadari bahwa orang-orang yang selama ini 'manusia-manusia teladan' itu tak lebih dari penjahat berjas.

Di kedai kopi dan warung makan pinggir jalan kita orang kecil merasa kejahatan sekaliber itu hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang ber'kaliber'. Dan, kerusakan negeri ini merupakan akibat dari 'kejahatan' para pemimpin.

Betulkah ?

Betulkah orang-orang 'besar' itu mendadak besar atau dilahirkan sudah 'besar' dan mendadak melakukan 'dosa besar' ? Rasanya...tidak. Semua dimulai dari pelanggaran kecil dan dosa-dosa sepele yang, menurut kita, seharusnya boleh ditoleransi.

Jika kita berpikir bahwa hanya orang besar yang menindas orang kecil, cobalah lihat jalan-jalan di sekitar pasar tradisional. Pedagang merangsak menguasai jalan umum sehingga jalan yang tiga lajur hanya tersisa satu lajur...dan jangan coba-coba melarang mereka atas nama Perda atau apapun.

Sepeda motor dan kendaraan angkutan kota (angkot) menerabas lampu merah (btw, apakah ini mengingatkanmu akan kota Medan?)...dan tak usah mengingatkan mereka akan peraturan lalu lintas, kalau tak mau dimaki-maki jika kita 'menghalangi' mereka dengan berhenti di depan mereka di perempatan yang sedang mendapat giliran lampu merah.

Beca barang atau beca penumpang dengan penuh percaya diri berjalan melawan arah dan di kawasan yang menurut peraturan bebas becak.

Pegawai rendahan di kantor kelurahan meminta 'uang rokok' Rp.20 ribu untuk meminta tanda-tangan lurah bagi sebuah surat keterangan yang secara resmi adalah gratis.

Lantas ? Ya, sudahlah, seberapalah itu. Atau, sudahlah, kasihan...mereka cuma cari makan. Atau, 'kan 'gak apa-apa, yang penting tak ada yang celaka.

Banyak orang-orang besar memang telah menzalimi kita. Tetapi, orang-orang kecil pun tak lebih baik. Pada waktunya orang kecil yang menjadi orang besar atau anak-anak orang kecil inilah yang akan menjadi penjahat besar di negeri ini.

Sebagai pengikut Kristus, kita diminta untuk setia pada perkara kecil. Menjadi "wong cilik" bukanlah alasan dan pembenaran untuk melakukan pelanggaran apapun.

23 Januari 2009

Lagi tentang caleg Batak Kristen

(1)

Beberapa hari yang lalu aku dikagetkan oleh sebuah iklan/pesan politik di sebuah radio swasta. Seseorang (aku tidak mengikuti bagian awalnya) memperkenalkan diri sebagai orang yang diberkati Tuhan dan saat ini terpanggil / digerakkan oleh Tuhan untuk menjadi caleg. Ujung-ujungnya beliau meminta dukungan para pendengar untuk memilihnya.

(2)

Dalam kesempatan lain, seorang kawan mengeluh karena partangiangan yang dihadirinya berubah menjadi ajang para caleg mencari dukungan.

(3)

Melihat foto-foto para caleg bermarga yang terpajang di seantero kota, padahal tak pernah terdengar sepak terjangnya untuk mewakili kepentingan orang banyak, aku bertanya lirih : Where were you all this time, Bro ? What have you been doing lately, Sis ?

Sekedar catatan sajalah. Tak tahu mau komentar apa.

22 Januari 2009

Kehilangan

Beberapa hari yang lalu kami mengadakan acara mangapuli di sebuah keluarga yang baru saja berpisah dengan kepala keluarganya karena kematian. Sementara anak-anaknya (semua sudah dewasa dan bekerja, meskipun belum menikah) terlihat tegar, sang ibu masih tampak tertekan dan tak bersemangat. Kepergian sang bapak secara tiba-tiba rupanya telah membuat sang ibu sangat terpukul.

Ditinggal mati oleh orang yang kita kasihi adalah suatu kehilangan yang amat mendukakan. Kepergian itu menyisakan ruang-ruang kosong di hati dan pikiran kita. Yang hilang bukan hanya orang yang kita kasihi, tetapi juga beberapa elemen eksistensi kita yang kita konstruksi di alam pikiran kita. Inilah yang membuat keguncangan, kebingungan, dan kegelisahan.

Setiap kali aku menghadiri ulaon parmondingan atau kegiatan mangapuli, aku diingatkan bahwa segala yang disebut sebagai milikku bukanlah milikku. Ketika ayahku tercinta dipanggil Tuhan, aku disadarkan bahwa dia pun adalah milik Tuhan yang telah dipinjamkan Tuhan kepadaku selama puluhan tahun dan akhirnya dimintaNya kembali. Kesadaran itu mengingatkanku : secara biologis dan kultural aku adalah turunan dari ayahku, tetapi aku (dan juga ayahku) ada di bumi adalah atas kehendak Tuhan.

Rasa kehilangan memang adalah reaksi manusiawi ketika ada satu tali yang mengikat kita dengan seseorang terputus. Ketika satu per tali temali hubungan keluarga atau pertemanan hilang diputuskan oleh kematian, kita tahu bahwa kita memerlukan tangan yang kokoh untuk menatang kita dan menjaga kita dalam keseimbangan. Tangan itu Tangan Tuhan.

21 Januari 2009

Le chose plus important = Yang terutama

Menjadi pengikut Kristus harus siap hidup dengan paradoks.

Kita percaya bahwa manusia adalah debu, sedangkan Allah (Tuhan Pencipta Alam Semesta) adalah maha mulia; tetapi, kita juga percaya bahwa Allah pernah menjadi manusia.

Kita percaya bahwa Allah itu maha esa; tetapi, kita juga percaya bahwa Allah dapat dikenal dalam pernyataannya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus

Kita percaya bahwa Allah itu maha kasih; tetapi kita juga percaya bahwa Dia akan membakar dan menyiksa orang-orang berdosa dalam neraka

Dalam kadar yang lebih ringan, sering kita merasa begini : Allah Maha Tahu, tetapi Dia sepertinya membiarkan hal-hal buruk terjadi pada orang yang percaya kepadaNya. Allah Maha Pengasih, tetapi Dia sepertinya tak perduli pada tangisan anak-anak di negeri yang tertimpa perang dan bencana. Allah Maha Pemurah, tetapi Dia sepertinya enggan menjawab doa-doa kita.

Lalu di hadapan kita terbentang kenyataan : Kristus mengajarkan kasih dan damai, tetapi banyak orang-orang Kristen menindas dan ribut satu sama lain. Kristus memberitakan 'Kabar Baik' mengenai pengampunan dosa, tetapi banyak orang Kristen hidup dalam percabulan dan sebagai pembunuh, pencuri, perampok, koruptor dan pendusta. Kristus mendoakan "ut omnes unum sint" (agar mereka satu adanya), tetapi banyak orang-orang Kristen menjadi eksklusif, mendakwa satu sama lainnya, dan memonopoli klaim sebagai orang benar. Duh....

Andaikan konsitensi dan logika ilmiah yang semata-mata menjadi dasar untuk mempercayai Allah, maka (saat ini) lebih banyak yang menarik kesimpulan 'there is no God' atau 'God is dead'.

Andaikan perilaku orang Kristen yang menjadi dasar untuk mempercayai Kristus, maka (dan memang semakin) banyak orang enggan menjadi Kristen.

Tetapi, ketika aku belajar bahwa hidup adalah soal "mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan akal budi" dan "mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri", aku tahu apa yang utama dalam hidup. Paradoks atau pun fakta yang terlihat kontradiktif seringkali adalah keterbatasan indra manusia untuk mencermati dan memahami dunia di dalam dan di luar dirinya. Dalam keadaan demikian, maka kita hanya dapat berpegang pada satu hal yang paling penting dan tak terbantahkan. Dan untuk kita halak Batak Kristen, yang terutama adalah mengasihi; aku percaya Tuhan tak akan menolak orang-orang yang telah berupaya untuk menjalankan apa yang telah diperintahkanNya secara gamblang kepada kita.

20 Januari 2009

Susahnya jadi halak Batak Kristen

Entah mengapa, pada masa dua minggu di awal tahun ini banyak sekali na masa di lingkunganku. Praktis tiap dua hari ada yang meninggal dunia. Entah itu dari kalangan keluarga, kalangan teman dan kalangan dongan sahuta.

Setiap hari Jumat dan Sabtu selalu ada acara pernikahan. Pada awal tahun ada juga yang menikah di hari Senin.

Banyak saudara, banyak teman, banyak kenalan memanglah baik. Ikut menangis dengan orang yang berduka, ikut tertawa dengan orang yang bahagia : itu adalah tanda sahabat dan saudara yang baik. Aku layak mengucap syukur, karena di sekitarku terdapat begitu banyak yang bisa kuhitung sebagai saudara, teman dan tetangga.

Yang menjadi soal, kalau ada acara halak Batak Kristen, kita harus hadir pada saat tertentu, yaitu acara puncak yang ditandai dengan rap mangan dan rampak mangan. Akibatnya, susah mengatur waktu untuk kita yang bekerja kantoran; konon, susah juga untuk yang martiga-tiga. Hanya para bos dan pengusaha besar yang bebas mengatur waktunya. Kita-kita orang kecil ini terpaksa mencuri waktu kerja kalau mau menghadiri berbagai acara yang dilaksanakan pada jam kerja.

Paling susah adalah menjelaskan kepada bos yang bukan Batak tentang "kedekatan" kita dengan seseorang yang meninggal atau yang menikah. Apa yang bagi kita adalah keluarga dekat "apala tulanghu, apala anggi/haha ni simatua, apala ompung na marhaha maranggi,...", bagi mereka 'tak perlu-perlu kalilah meninggalkan kantor untuk itu. Susah menjelaskan bahwa kehadiran kita dibutuhkan pada saat tertentu di dalam acara itu.

Meminta dispensasi dari tempat kerja bagi orang Batak Kristen tentulah bukan solusi, bahkan (menurutku) sangat jelek. Cuek dengan acara adat dengan alasan tak ada waktu...sama jeleknya.
Jadi macam mana ? Dapatkah kita orang Batak membuat suatu mekanisme atau prosedur adat yang baru untuk mengakomodasi perubahan zaman ?

19 Januari 2009

Gondang dan Musik

Dalam suatu acara parsarimatuaon aku ikut dalam rombongan pelayat yang akan 'pasahaton adat' kepada keluarga almarhum. Ketika akan mangulosi (kami termasuk horong hula-hula), parhata meminta kepada parmusik/pargoci yang sebelumnya mengiringi tor-tor dengan gondang "Musik i ma bahen hamu, amang parmusik nami". Musik di sini berarti alat musik modern. Aku pikir permintaan wajar saja, karena untukku juga suara gondang yang relatif monoton kurang asyik kalau terus menerus diperdengarkan ketika manortor. Tetapi, salah satu dari anggota rombongan kami yang berada di sebelahku mencoba menjelaskan," Molo hami par Kharismatik ndang boi margondang."

Musik tradisional (gondang) yang sudah dikenal oleh angka ompungta najolo memang terkait erat dengan tradisi menyembah leluhur, yang sayangnya masih diteruskan oleh sebagian halak Kristen Batak secara sadar atau tidak sadar. Ini jelas bertentangan dengan iman Kristiani yang hanya boleh menyembah Tuhan Yang Esa. Maka, bisalah dipahami mengapa gondang ditolak oleh sebagian umat.

Nah, persoalannya : apakah alat musik gondang yang harus ditolak atau penyembahan leluhur? Jawabannya jelas : Gondang yes! Menyembah leluhur No! Kekhawatiran bahwa gondang akan membawa umat kepada dosa menyembah nenek moyang memang haruslah diatasi dengan melatih lebih banyak musisi Kristen yang mampu menggunakan alat musik tradisional itu tanpa mengkompromikan imannya.

Ketika kawan-kawan Kharismatik khawatir tentang (bahkan menolak) penggunaan gondang, aku pun sebenarnya khawatir (tetapi tidak menolak) penggunaan musik modern yang menghentak bagaikan konser musik metal dalam kebaktian. KKR yang seyogyanya berpusatkan pada pekerjaan Roh Kudus seringkali digantikan oleh 'trance' buatan manusia.

Jadi, soalnya bukanlah gondang atau musik modern. Semuanya itu berasal dari Allah Pencipta Semesta. Kita manusialah yang harus menggunakannya untuk kemuliaan Tuhan.

18 Januari 2009

Cita-cita orang Batak

Apa yang dicari orang ?

"Hamoraon, hagabeon, hasangapon ido dilului na deba....
....
anggo di ahu tung asing do sinta-sinta, asing pangidoanhu
....
tung holong ni roham do sambing na huparsinta-sinta"

(Lagu "Alusi Au")

Seorang bapak, pensiunan pejabat menegah dari sebuah departemen di negeri ini, mengeluh kepada temannya bahwa dia merasa hidupnya belum lengkap sebagai orang Batak, karena 'meskipun pernah menapaki karir yang baik, cukup berpunya (memiliki tempat tinggal di daerah elit), cukup terpandang (dianggap sesepuh di kalangan marganya), tetapi.... masih ada anaknya yang belum menikah, dan hingga kini belum ada satu pun pahompu dari anaknya yang sudah berrumah tangga.'

Amang ini kadang-kadang stress memikirkan kondisi ini. Baginya, memiliki anak cucu yang banyak ("marpinompar na godang" sebagai wujud hagabeon) adalah sesuatu yang sangat dicita-citakannya. Di usia yang semakin senja, dia merasa cita-cita itu semakin kecil kemungkinan tercapai. Menurutnya, Alkitab juga menunjukkan bahwa keturunan yang banyak adalah berkat Tuhan dan amanah Tuhan.

Benar juga ya. Tetapi, apakah setiap orang mendapat berkat dan amanah itu ?

Sepanjang yang kubaca di Perjanjian Baru, tidak ada penekanan tentang amanah berkembang biak seperti yang dituliskan di awal penciptaan. Tidak pernah disebut-sebut bahwa orang-orang percaya mendapat berkat berlimpah dengan jumlah anak cucu yang banyak. Yang ada ialah, "kepada mereka ditambahkan jumlah orang percaya". Tidak ada segurat tulisanpun mengenai anak dan cucu para rasul.

Jadi, layakkah kita stress (menyesali hidup dan Tuhan, mencari dosa yang belum diakui, menyalahkan anak dan menantu....) karena belum beroleh cucu ? Tidakkah waktu yang ada lebih baik digunakan untuk menikmati kebahagiaan karena Tuhan telah memberikan begitu banyak dalam hidup (isteri yang setia, anak-anak yang telah dewasa, karir yang dapat diselesaikan dengan mulus....) dan berbagi dengan banyak orang ? Mengapa kita harus selalu menuntut lagi...dan lagi...dan lagi... untuk diri sendiri ?

Orang-orang Batak yang dibesarkan dalam lingkungan Kristen sebenarnya tidak asing dengan berbagai ayat Alkitab yang mengajarkan apa yang penting dalam hidup, termasuk "Cari dahulu kerajaan Allah dan KebenaranNya." Tetapi, ya, alasan yang umum terdengar adalah "darah dan budaya Batak masih kental dalam diriku, jadi...ukuran pencapaian dalam hidup adalah hamoraon, hagabeon, hasangapon".

Pertanyaan : Apakah jika telah mencapai ketiga hal tersebut seseorang akan bahagia ? Jawaban : Ya, orang-orang akan mengatakan "na martua ma halak si songon i, dapotan arta, sangap dohot gabe."

Think again. Begitukah cita-cita yang layak dikejar dalam hidup ? Apakah memiliki semuanya itu akan memberikan kebahagiaan ? Apakah bahagia itu ?

17 Januari 2009

Kultus : Mengikut pemimpin yang mengikut Yesus

Masih tentang mengikut Yesus.

Ikut-ikutan bukanlah ciri pengikut Kristus. Yesus bertanya kepada muridNya,"Menurutmu, siapakah Aku?" Setiap orang yang mengikut Yesus diminta untuk mengenalNya secara pribadi.

Sayangnya, banyak orang menjadi pengikut Kristus, seperti gerbong kereta yang selalu ikut lokomotif di depannya. Mereka tidak mengarahkan dan menjalani hidup sesuai dengan iman kepercayaannya, tetapi bergantung pada arahan pemimpinnya. Alih-alih menerima dan menjalankan fungsi sebagai "imamat yang rajani", mereka membiarkan hidup rohaninya disetir oleh pemimpin umat. Mereka malas merenungkan firman Allah melalui pembacaan Alkitab dan enggan berdoa sendiri dalam saat teduh pribadi. Kekaguman yang berlebihan kepada kharisma seorang tokoh jemaat dan kepatuhan kepada arahan pemimpin yang melebihi ketaatan kepada Allah telah memunculkan berbagai aliran dan gereja baru di lingkungan Kristen.

Beberapa orang meng-klaim telah mendapatkan mandat langsung dari Tuhan untuk mengembalikan umat dari kesesatan yang dilakukan oleh gereja. Berbekal karunia penyembuhan, karunia mengusir setan, karunia retorik, karunia kekayaan (untuk beli air time atau buat stasiun televisi/radio sendiri) dll , mereka memisahkan diri dari jemaat lama dan membuat jemaat baru yang "murni, benar, sejati." Yang menarik bagiku, kebanyakan pengurus gereja baru ini biasaya adalah 'inner circle' nya, yaitu orang-orang yang dekat dengan tokoh sentral yang mendirikannya. Seringkali kepemimpinan gereja diteruskan kepada anaknya. Aliran baru ini biasanya merasa "benar sendiri", sedangkan jemaat gereja yang lain, khususnya yang bernaung di gereja lama (mainstream), adalah 'sessaaa....tttt.'

Nah, yang menjadi perhatianku adalah unsur peng-kultus-an pemimpin jemaat. Seakan-akan apa yang dikatakan oleh pemimpin jemaat adalah kebenaran, bukan penjabaran dan interpretasi tentang kebenaran. Seakan-akan setiap ucapan sang pemimpin yang mengutip ayat Alkitab sama nilainya dengan ayat itu sendiri. Jemaat digiring pada suatu pemahaman tunggal, yaitu pemahaman sang tokoh sentral. Tema khotbah dan lagu pujian dan penyembahan pun berfokus pada salah satu aspek ajaran Yesus yang menjadi "differentiation" dari jemaat baru tersebut.

Alih-alih merangkul umat Tuhan untuk bersama-sama menyembahNya dan mempelajari firmanNya, orang-orang digiring ke dalam 'ajaran yang benar'. 'Ajaran alternatif' yang menggantikan 'pakem' seakan-akan menjadi jawaban atas 'kegagalan' gereja lama untuk menghidupi iman Kristen yang benar. Dalam kenyataannya, 'ajaran yang benar' tersebut seringkali hanyalah penonjolan dari salah satu aspek ajaran Kristen; pemberian perhatian pada aspek ajaran tersebut akhirnya mengaburkan esensi ajaran Kristus yaitu : kasih Allah yang besar akan manusia ciptaanNya sehingga Dia mengutus AnakNya yang Tunggal untuk menebus kita dari dosa dan perintah kepada manusia untuk mengasihi Allah dan saling mengasihi sesama. Para pemimpin yang dikultuskan dengan sengaja menonjolkan 'kelebih-benaran' pemahaman mereka, sehingga mereka dapat memiliki posisi yang unik di benak pengikutnya. Dan para pengikutnya ? Seperti gerbong yang manut dengan lokomotifnya, tak lagi mempertanyakan apakah sang pemimpin akan membawa kepada Yesus atau kemana.

Setiap kali ada kejadian - entah itu di kalangan Kristen atau di kalangan agama lain - yang menyangkut aliran sempalan, aku bersyukur kepada Bapa di Surga, bahwa setiap umatnya diberi kesempatan untuk berdoa langsung kepadaNya dan FirmanNya telah terdokumentasi di dalam Alkitab, sehingga setiap umatNya sebenarnya diberi karunia untuk menilai manakah yang benar manakah yang keliru. Merenungkan FirmanNya dan berdoa mohon petunjukNya akan menghindarkan kita dari kesesatan yang bermula dari peng-kultus-an pemimpin jemaat.

16 Januari 2009

Mengikut Yesus atau Mengikut Orang yang Mengikut Yesus ?

Ada hal yang sedikit aneh kulihat pada kebaktian rutin atau kebangunan rohani yang diiklankan di koran atau di spanduk dan pamflet di pinggir jalan. Seringkali dalam undangan kebaktian tersebut ditonjolkan akan kehadiran artis atau selebriti Kristen. Atau, ada juga yang menonjolkan pendetanya yang mantan xxxyyyzzz yang telah bertobat. Undangan tersebut kental dengan gimmick pemasaran untuk menarik orang datang. Nama jemaat gerejanya dan motto jemaat tersebut pun kadang-kadang beraroma superlatif (serba hebat, super terpilih,...). Yang lebih mengejutkan adalah seringnya muncul kata-kata "Gratis". Ya,....,apa-apaan ini? Sejak kapan ikut kebaktian perlu bayar? Apakah persembahan dianggap sebagai bayaran untuk menghadiri kebaktian (karena ada artisnya).

Konon, KKR atau apapun nama kebaktian yang dilakukan secara secara besar-besaran ini sering dibanjiri oleh pengunjung. Banyak orang disembuhkan. Kabarnya, banyak orang bertobat dan menerima Kristus. Puji Tuhan.

Tetapi, lihatlah juga banyaknya orang-orang yang meninggalkan Kristus. Aku bukan bicara hanya tentang orang yang nyata-nyata menyangkal iman kepada Kristus (menjadi bukan Kristen secara formal), tetapi juga tentang orang-orang yang hingga saat ini tetap terdaftar sebagai Kristen tetapi menghidupi kekristenannya secara nominal (Kristen = gereja dan natal). Orang yang disebut belakangan ini adalah orang-orang yang mengikut orang yang mengikut Yesus. Karena keluarga besarnya Kristen, maka jadilah mereka Kristen. Tetapi, mereka tidak pernah sungguh-sungguh mengenal Yesus. Nah, ketika lingkungan barunya (karir, bisnis, pacar) mepersyaratkan penerimaan atau kemudahan jika meninggalkan iman Kristen, maka dengan mudah mereka 'tukar perahu'. Ketika ada sosok kondang meninggalkan iman Kristianinya, ada pengajaran lain yang berbeda dengan apa yang biasa dipahaminya, atau orang yang selama ini dia jadikan panutan tidak lagi tampak 'sesuci' sebelumnya, dia mulai meragukan imannya sendiri.

Pernah aku bertanya dalam hati : Jika setengah dari orang yang disebut Kristen sekarang meninggalkan imannya, apakah aku masih meyakini apa yang kuyakini saat ini ? Jika seorang pendeta yang telah menobatkan puluhan ribu orang tiba-tiba mengatakan bahwa dia keliru dan iman lain adalah yang benar, apakah aku masih mempertahankan imanku? Jika tinggal 1 juta orang di seluruh dunia yang masih percaya kepada Kristus, apakah aku ada di antara mereka yang bertahan ? Bagaimana jika tinggal 100.000 orang ? Atau tinggal 1000 orang ? Atau tinggal 100 orang ? Apakah iman kepercayaanku tergantung pada jumlah mereka yang berkeyakinan sama ? Akankah aku akan seperti kambing yang bebal mempertahankan sesuatu yang sudah ditolak oleh ratusan juta orang ? Atau, akankah mataku tertuju kepada Dia dan kakiku melangkah mengikut Dia yang telah menyelamatkanku, whatever men may say?

Kembali ke cerita KKR, selebriti dan marketing gimmicknya. Berapa banyakkah di antara murid Yesus yang merupakan selebriti pada zamannya? Bukankah andalan mereka satu-satunya adalah keinginan yang kuat menyampaikan Injil Kerajaan Allah, baik atau buruk waktunya ? Injil tersebut tidak perlu dikemas dalam balutan slogan buatan copywriter biro iklan. Injil tersebut tidak perlu disajikan oleh artis yang sohor dengan sinetron yang memiliki rating tinggi. Injil tersebut tidak perlu dipresentasikan dengan peralatan multimedia yang spektakuler. Semua pernik-pernik yang mencoba memikat tersebut potensial menjadi berhala yang mengambil tempat Allah Yang Maha Tinggi.

Baiklah kita mengikut Yesus, bukan mengikut orang yang - katanya - pengikut Yesus. Roh Kudus saja yang dapat menuntun orang untuk mengakui bahwa Yesus adalah tuan di atas segala tuan. Setiap manusia telah diberi hati dan akal budi untuk mengenal Dia dan tirai bait Allah telah terkoyak untuk memberi kesempatan bagi tiap-tiap orang berdoa dan bertemu langsung dengan Allah. Kepercayaan yang didasarkan oleh pesona pemimpin, trik pemasaran dan manipulasi psikologi massa akan berakhir pada penyangkalan kepada Kristus 'sebelum ayam berkokok tiga kali.'

15 Januari 2009

Antara Ucapan dan Tindakan

Di masyarakat halak hita sangatlah lazim untuk memberi kesempatan bagi orang yang hadir di suatu acara untuk mandok hata. Nah, kesempatan ini digunakan oleh banyak orang untuk memberikan sambutan dan ucapan terima kasih hingga petuah dan nasihat tertentu. Mula-mula tentulah tidak semua fasih untuk mandok hata, tetapi karena kebiasaan maka jadi lancar juga. Biasanya seorang pemula meniru apa yang dikatakan oleh orang lain, kemudian mengembangkan 'style'nya sendiri. Tetapi, tentunya, tidak semua orang berbakat menjadi parhata.

Yang aku perhatikan ada kemiripan orang Batak mandok hata, yaitu dibuka dengan intro "Parjolo tadok ma mauliate tu Amanta Debata na mangalehon di hita...." (dengan varian-nya). Sayangnya, itu sering menjadi sekedar kata-kata tak bermakna, karena dalam kenyataan orang-orang lebih mengandalkan uang, koneksi dan kekuasaan untuk mencapai tujuannya. Sebagai contoh, pernah ada yang berhasil mendapatkan suatu pekerjaan, jabatan, proyek atau bisnis dengan kecurangan tertentu lalu mengadakan syukuran yang dimulai dengan doa "Mauliate ma di Ho, Debata nami, ..." Ikutkah Tuhan dalam konspirasi itu ?

Lalu, jika konteksnya adalah memberikan nasihat, maka meluncurlah berbagai pepatah yang sudah dihapalkan atau pun ayat-ayat Alkitab yang lazim dikutip. Pada awalnya aku sering kagum akan keluhuran kata-kata yang diucapkan. Sebagai contoh, seseorang memberi nasihat,"Sai masi amin-aminan ma hamu, masi tungkol-tungkolan, songot suhat di robean". Dalam kenyataan, orang yang mengucapkan kata-kata tersebut terlibat 'perang' dengan saudara-saudara kandungnya.

Mungkin tidak disadari, umpasa atau ayat Alkitab yang asal diucapkan tanpa sungguh-sungguh disampaikan akan membuat orang yang mendengar menjadi jenuh dan semua itu seperti omong-kosong. Ada iklan rokok yang menuliskan "talk less, do more." Tampaknya di samping "raja parhata", kita juga memerlukan "raja pangalaho sitiruon".

14 Januari 2009

Partuturan

Dalam suatu acara Batak sering kita yang hadir kaget bertemu dengan orang lain yang sudah kita kenal sebelumnya ternyata juga menjadi undangan di acara yang sama. Muncullah pertanyaan,"Beha do parromuna tu ulaon on?"

Penjelasannya adalah partuturon. Partuturan dapat menjelaskan bagaimana kaitan antara sang tuan rumah dengan sang tamu, walaupun tidak tertutup kehadirannya karena pertemanan atau perkolegaan langsung atau melalui saudara sang suhut.

Inilah yang sangat menarik tentang bangso Batak. Kalau kita mau menelusuri cukup jauh dan ada waktu untuk mempelajari tarombo, tampaknya siapapun orang Batak yang kita temui akan mempunyai hubungan tertentu dengan kita. (OK lah, semua bersaudara melalui Si Raja Batak; tapi, tak usah sampai ke sana pun, mungkin sekitar lima atau enam garis hubungan kita sudah bisa menemukan kedekatan satu sama lain antara sebagian besar kita.)

Memang partutoron tak selalu mudah terlacak, karena kita satu sama lain bisa terkait melalui jalur yang tidak kita duga. Misalnya, pariban mertua itoku adalah amangboru dari tetangga sebelah rumah kami. Memang, tak dekat-dekat 'kali, tapi 'kan ternyata "kita orang semua bersaudara".

Jadi, agak lucu juga kulihat para caleg Batak menampilkan partuturonnya sebagai cara memikat pemilih. Bukankah praktis semua caleg adalah saudara kita ? Mungkin dia adalah boru salah satu marga, atau dongan tubu marga lain, atau hula-hula ni angka na mangalap boru sian marga i.

Sedih rasanya melihat generasi muda Batak sekarang ini tak begitu peduli dengan partuturan. Mereka menganggap tutur yang banyak sebagai beban. Padahal tutur adalah 'network' yang menjadi "support system" kita sebagai makhluk sosial. Alai aha ma naboi dohonon be, di dunia yang semakin individualistik sekarang ini, masing-masing merasa bisa hidup sendiri. Orang-orang semakin enggan terlibat dalam kehidupan orang lain, dan pada saat yang sama juga tidak berharap orang lain memperdulikannya. Maka, tak heranlah kita melihat begitu banyaknya manusia, termasuk halak Batak Kristen, yang dengan mudah bunuh diri, bercerai, melakukan korupsi dan kejahatan lain, karena menurutnya,"Hidup gue, bini gue, bisnis gue,... emang siape loh usil ikut campur urusan gue."

Ironis memang. Ketika sebagai orang Kristen kita diminta untuk mengasihi semua orang termasuk musuh, kepada orang-orang dekat kita pun kita sudah semakin tidak peduli. Boro-boro menjadi 'orang Samaria yang baik hati', jangan-jangan kita sudah lebih buruk dari orang Lewi yang membiarkan orang asing yang terlantar di jalan itu.

13 Januari 2009

Holan Jesus do hubaen donganku

(1)

Ketika tiba saat menunaikan ibadah agama tertentu dalam suatu pertemuan bisnis yang aku hadiri ternyata aku sendiri yang tak ikut, sehingga tinggalah aku sendiri di ruang rapat. Seseorang kemudian bertanya apakah aku bukan xxxxxx ? (agama mereka). Sebelum aku menjawab, kolegaku mendahului menjawab untukku,"Belum,Pak." Aku hanya tersenyum, tak perlu menjelaskan. Dan dengan bercanda temanku bertanya,"Kapan Pak? Pindah jadi xxxxxx saja." Tidak ada yang SARA dalam hal ini, karena aku tahu selama ini di tempat pekerjaan aku tak pernah didiskriminasi karena agama yang berbeda. Itu cuma tawaran yang simpatik dari seorang sahabat yang barangkali baru mendapatkan nikmat dan kedamaian dari ritual keagamaan yang baru dijalankannya. Setelah itu kami cuma diskusi pekerjaan.

(2)

Sekali waktu lagi, ada seorang kenalan mengajakku menghadiri suatu pertemuan kelompok aliran kebatinan lintas agama yang sama-sama mencari Tuhan. Aku tak tahu persis acaranya, yang pasti bukan sekedar diskusi, tetapi akan ada ceramah 'pencerahan' dan kontemplasi atau meditasi. Aku pun menolak dengan halus.


(3)

Ketika aku kuliah dulu, ada matakuliah Agama dan Etika, dimana aku belajar tentang agama lain selain Kristen dan beberapa aliran kepercayaaan serta 'aliran sempalan' Kristen. Pelajaran ini memberiku pemahaman tentang apa yang jadi dasar kepercayaan orang lain. Akhirnya aku mencari tahu lebih banyak pertanyaan yang paling mendasar bagiku : Mengapa seseorang harus beragama dan mempercayai sesuatu yang transendental ?
Aku belum tahu jawaban yang pasti.

(4)

Sejak lama aku memperhatikan semakin menjamurnya buku-buku dan pelatihan motivasi yang meningkatkan kesadaran akan kehebatan pribadi manusia (kita ini manusia super, unggul, dahsyat, luar biasa, unlimited, giant, whatever...). Sejalan dengan itu, berkembang pula pengungkapan "the secret" : apa yang menjadi rahasia keberhasilan orang-orang hebat. Salah satu cara untuk mendapatkan kekuatan adalah menghubungkan diri dengan 'universal power' yang maha dahsyat. Kadang-kadang ramah terhadap agama (tetapi bersifat sinkretisme), kadang-kadang sinis terhadap agama (bersifat humanisme), berbagai aliran 'new age' menggantikan Tuhan Pencipta Alam sebagai pribadi, dengan 'ultimate power' yang tak punya pribadi.

(5)

Bagiku sendiri : Apakah hidupku lebih baik dan lebih bermakna jika mempercayai adanya Pribadi Tuhan pencipta alam semesta ? Dan mempercayai adanya kejatuhan manusia ke dalam dosa dan penebusan oleh AnakNya yang tunggal ? Apakah aku memerlukan cara lain memahami apa yang kupercayai di samping yang kudapat dari Penelaahan Alkitab, Partangiangan, Saat Teduh, dan khotbah di gereja ? Apakah Yesus masih harus disertai 'suplemen' ?
Jawabannya kutemukan dalam berbagai peristiwa hidup yang kualami atau kusaksikan. Tanpa Tuhan segalanya menjadi tak bermakna. Cukup dengan Yesus saja, makna hidupku dipulihkan kembali.

Inilah lagu dan doaku :

Holan Jesus do hubaen donganku
Ai Ibana pasonangkon au
Ingkon sai tong-tong tiur langkangku
Molo raphon Jesus i au lao
Molo raphon Jesus i au lao

(Buku Ende No.260)

12 Januari 2009

Mago Ruas Alani Parbadaan Angka Pangula Huria

Namanya Aduena boru Aduena (real person, disguised to protect those who are innocence). Usianya 20 tahunan. Setiap minggu rajin ke gereja. Sebelum makan selalu berdoa seperti orang Kristen lain. Jadi, tak pernah terbersit sedikit pun di pikiranku bahwa dia bukan Kristen menurut definsi orang Kristen umumnya, karena ternyata dia belum pernah malua atau tardidi. Ini baru aku tahu ketika dia beberapa waktu yang lalu akhirnya menjalani ritual tersebut dan menceritakan latar belakang hidupnya.

Konon orang tua dan orang sekampungnya (suatu desa yang terpencil di hita an) sebelumnya sebagian besar adalah pengikut Kristus. Mereka mempunyai gereja yang dulu menjadi pusat pembinaan iman umat. Pada suatu masa tertentu, para petinggi jemaat gerejanya di Pusat, berkelahi habis-habisan memperebutkan jabatan tertinggi di gereja, dan ini merembet menjadi perpecahan jemaat. Termasuk di gereja orangtua Aduena. Perpecahan ini memuncak dengan perkelahian fisik, fitnah, permusuhan, perusakan...(kalian pasti membaca juga di koran, karena itu jadi isu nasional). Jemaat kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin jemaat. Juga kehilangan kepercayaan terhadap iman Kristen. Mereka akhirnya kembali kepercayaan orang Batak asli. Di komunitas ini mereka kembali mendapatkan kedamaian dan kasih yang "...holan hata do i di halak Kristen." Ketika perseteruan dan perebutan jabatan tersebut akhirnya selesai, mantan jemaat tersebut sudah 'alergi' terhadap hipokrisi orang-orang Kristen.

Begitulah. Aduena yang lahir dan dibesarkan pada masa pergolakan gereja itu tak dibaptiskan oleh orangtuanya, dan akhirnya juga dibesarkan sebagai penganut agama Batak. Tetapi, rupanya Tuhan tidak mau kehilangan milikNya; ketika tinggal berpisah dari orangtua dan melanjutkan sekolah ke ibukota kecamatan, Aduena (dan juga beberapa saudara kandungnya) tinggal di komunitas Kristen, dan dimulai dari ikut-ikutan pergi ke gereja, akhirnya beriman kepada Kristus. Orangtua mereka cukup toleran membiarkan anak-anak mereka mengikuti kebiasaan 'agama baru', hanya meminta anak-anak mereka agar jangan mengajak-ajak kembali ke agama itu. Bagi orang tua mereka keputusan meninggalkan agama Kristen sudah final, tetapi anak-anaknya boleh memilih.

Tetapi, karena tidak ada pembinaan dan pengarahan, Aduena dan saudara-saudaranya tidak pernah dibaptis atau belajar katekisasi. Setelah Aduena pindah ke ibukota provinsi, bertemulah dia dengan orang-orang Kristen yang menganjurkan untuk 'memformalkan' imannya. Itulah yang membawanya ke sakramen 'pandidion nabadia' dan 'manghatindanghon haporseaon' tersebut. Menurut Aduena, di kampungnya hingga saat ini banyak mantan Kristen (termasuk orangtuanya) yang emoh kembali kepada Kristus.

Hatiku terenyuh. Beginilah akibat keserakahan para pemimpin jemaat. Alih-alih membina jemaat, mereka berebut jabatan dan pengaruh, dan tidak sedikitpun mereka menunjukkan kasih Kristus. Mereka manipulasi jemaat demi kepentingannya sendiri. Ini cerita lama. Mungkin ada yang mengatakan, tak usahlah diungkit-ungkit. Tetapi, tolonglah lihat akibatnya hingga saat ini.

Apakah yang akan dikatakan Tuhan nanti kepada para gembala yang membunuhi domba milikNya? Kepada para penggarap yang mencuri dari kebun anggurNya? Akankah para pemimpin jemaat itu 'ngeles' dan berkata seperti Kain, "Akukah penjaga adikku?"

Marilah kita tidak menghakimi mereka. Itu adalah hak Tuhan. Sebagai halak Batak Kristen awam aku hanya bisa berdoa dan berharap agar setiap anggota tubuh Kristus mendapatkan hikmat dari Tuhan untuk mengenali para pemimpin rohani yang palsu dan jemaat berani secara terang-terangan membukakan kemunafikan mereka ketika pemimpin palsu tersebut masih berstatus penipu kelas teri. Jika kita sungguh-sungguh meminta kepada Pemilik Kawanan Domba dan Pemilik Ladang, maka Ia akan mengirim penjaga dan penuai yang benar pada waktunya. Sementara kita terus membangun persekutuan di dalam gereja sebatas kapasitas jemaat awam, baiklah kita memelihara iman melalui persekutuan pribadi dan persekutuan rumah tangga.

11 Januari 2009

Dasar Iman

Ada ratusan atau bahkan ribuan agama dan kepercayaan di dunia. Mengapakah seorang mempercayai (atau tidak mempercayai) Dewa Q, Dewi R, Rasul S, Maha Guru X, Nabi Y, Juruselamat Z ? Mengapakah seorang mengimani (atau tidak mengimani) adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta dan berkuasa atasnya ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas selalu menimbulkan kontroversi. Banyak orang mencoba melakukan generalisasi, yaitu mencari satu jawaban tunggal. Padahal, begitu banyak jawaban.

Mengimani atau mempercayai sesuatu (Sesuatu) yang ada di luar nalar memang penuh kontroversi. Berbagai interpretasi dan spekulasi muncul untuk menjelaskan hal-hal yang tak terjelaskan. Nah, di sinilah persoalan besar muncul : karena tidak ada dasar yang sama untuk melakukan penilaian, maka berbagai interpretasi dan spekulasi dapat dihadirkan (bahkan dipaksakan) sebagai kebenaran. Putus asa dengan ketidakmampuan manusia untuk memahami rasionalitas kepercayaan/iman, ketidakkonsistenan satu kepercayaan/aliran/agama dengan lainnya serta dampak buruk dari mengikuti kepercayaan/aliran/agama, banyak orang mengambil posisi yang berseberangan : menolak keberadaan Tuhan dan segala pernik-perniknya (Penciptaan, Nabi, Rasul dll).

Memang tidak mudah menjadi orang yang sungguh-sungguh percaya. Di satu sisi kita harus menjawab skeptisme (keragu-raguan) yang, entah bagaimana, sudah tertanam di dalam diri masing-masing kita. Di sisi lain, antara sesama orang percaya pun kita tidak memiliki pemahaman yang sama mengenai apa yang kita percayai. (Aku jadi ingat tentang Bunda Theresa yang juga kadang-kadang mempertanyakan imannya...sekali waktu aku perlu baca bukunya)

Masalahnya begini. Kalaulah iman memang harus didasarkan pada pemahaman yang mendalam mengenai sesuatu yang kita percayai, khususnya yang berkaitan dengan agama, maka hanya orang-orang pintarlah yang bisa memiliki iman yang benar (yaitu yang bisa membaca kita suci langsung dalam bahasa aslinya dan tahu mana versi aslinya). Tetapi, kalau iman cukup didasarkan pada 'asal percaya' apa yang ada di depan mata (artinya : yang selama ini kita percayai secara turun temurun atau dipercayai oleh lingkungan kita), maka kepercayaan/iman tersebut tak lebih dari tahayul dan dongeng nenek moyang.

Mencari dasar iman melalui pengetahuan ternyata tidak benar-benar 'tokcer'; buktinya : pada tiap agama dan aliran selalu terdapat cerdik cendikiawan hingga profesor cerdas yang memiliki argumen untuk membuktikan kebenaran pemahamannya, yang sayangnya, berseberangan dengan apa yang dipercayai agama dan aliran lain. Anehnya lagi, ada yang setelah mendalami agamanya, lalu berpindah ke agama lain atau bahkan menjadi tidak beragama. Demikian pula sebaliknya, ada yang tadinya tidak percaya Tuhan, setelah mendalami "ketidakpercayaan"nya dengan dalam, malah 'bertobat' menjadi percaya.

Memiliki iman yang semata-mata setia pada tradisi kelompok asal kita, jelas hanya menciptakan manusia boneka yang bertentangan dengan fitrah manusia. Orang-orang yang sekedar manut kepada norma kelompok tanpa pernah mempertanyakannya adalah boneka-boneka lucu para pemimpin yang pintar memainkan psikologi massa. Keluguan pengikut dibiarkan oleh para pemimpin untuk kepentingan mereka.

Kalau begitu, apakah yang layak dijadikan dasar iman ? Biasanya jawabannya menjadi suatu tautologi : imanku benar karena aku yakin akan kebenarannya. Nah loe....

Karena itu, diskusi para ahli agama atau ahli filsafat (baik yang theist maupun atheist) tentang kebenaran dan iman tidak begitu menarik untukku. Kebanyakan buang-buang waktu dan lebih banyak pamer kepiawaian memilin ayat dan teori.

Aku beriman kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta yang pada suatu masa mengambil rupa sebagai manusia untuk memperdamaikan diriNya dengan manusia. Aku tahu ada banyak yang tak mempercayai hal ini. Aku juga tahu bahwa ada banyak versi pemahaman mengenai Tuhan Pencipta Alam Semesta dan mengenai Yesus Kristus yang aku percaya sebagai Allah yang mengambil rupa manusia. Aku tak tahu mengapa aku memilih untuk mempercayai daripada tidak mempercayai. Dan ketika aku mempercayai, aku dituntun pada ayat Alkitab bahwa Roh Kudus lah yang menuntun orang mengenal Allah dan menyebut Yesus sebagai Tuhan. Jadi, kalau kupikir-pikir aku percaya karena kepadaku telah diberikan tuntunan untuk percaya. Lebih jauh lagi, aku dituntun untuk percaya bahwa sebenarnya bukan aku yang memilih siapa yang kupercayai, tetapi Dia yang telah memilih aku.

Lalu, bagaimanakah dengan orang-orang yang tidak percaya Tuhan atau menganut kepercayaan lain ? Mereka tentu punya versinya sendiri mengenai ketidakberimanan atau imannya itu.

Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Tidak ada yang perlu dipaksakan.

Kembali ke topik hari ini : apakah yang dapat dijadikan sebagai dasar iman ? Untukku, jawabnya adalah : kesungguhan hati mencari kebenaran dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan untuk memahami kebenaran.


Haporseai ma hata i
Ai i do haluaon
Haposi Tuhan Jesus i
Mudarna i ma golom
Ai nang gok dosa rohami
Malua do bahenon ni
Tutu, tutu...Malua bahenon ni

(Buku Ende No. 174)

10 Januari 2009

Salah kaprah soal takut akan Tuhan

Ketika aku kecil dan cukup berani untuk keluar masuk gudang barang rongsok di belakang rumah, orang-orang dewasa di sekitarku sering menakut-nakuti (agar aku terhindar dari bahaya paku berkarat, beling, binatang berbisa) dengan mengatakan "awas, di sana ada hantu". Dan ketakutan akan hantu mencegahku untuk pergi ke tempat berbahaya.

Apa yang dilakukan oleh orang tua dan orang dewasa kalau anak-anaknya nakal, berbohong dan tidak patuh ? "Awas ya, jangan nakal, nanti dihukum Tuhan. Orang berdosa akan dimasukkan ke neraka." Tuhan menjadi pribadi yang menakutkan. (Btw, juga polisi : "awas nanti kau kukasitahu sama polisi, biar ditangkap kau")

Rupanya banyak juga orang yang "trauma dengan Tuhan" karena pada masa kanak-kanaknya sering ditakut-takuti. Termasuk orang-orang di luar negeri.

Konon di Inggris ada sekolompok atheist (orang yang menolak eksistensi Tuhan) dan humanist (orang-orang yang mengagungkan manusia) sangat terganggu dengan iklan di bus umum yang memperkenalkan sebuah situs, yaitu JesusSaid.org. Nah, di situs tersebut ada kutipan-kutipan Alkitab yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya akan Yesus dan tetap tinggal di dalam dosa akan dihukum. Maka, mereka membuat tandingan iklan di bus dengan slogan "There’s probably no God. Now stop worrying and enjoy your life." (artinya : mungkin tidak ada Tuhan, buanglah cemasmu dan nikmatilah hidup). Gerakan ini mendapat dukungan luas dari masyarakat, terbukti dengan cepatnya dana terkumpul untuk mendukung program tersebut.

Tampaknya ada salah pemahaman mengenai "takut akan Tuhan" pada orang yang percaya maupun tidak-percaya. Seakan-akan Tuhan ada untuk menjadi "hantu yang menakuti-nakuti anak kecil."

Padahal Tuhan ada, karena Ia ada. Dia adalah yang "ada pada mulanya", tanpa sebab, tanpa perlu menjelaskan kepada yang lain mengapa Ia ada dan bagaimana Ia ada. Ia adalah Pencipta yang mengasihi ciptaanNya, tetapi juga memiliki hukum sendiri terhadap pelanggaran. Ia juga konsisten terhadap hukum-hukum yang difirmankanNya. Tetapi, lihatlah pengampunan yang tak henti Dia berikan. Hukum-hukumNya tetap dijalankan, tetapi pengampunannya pun tak berkesudahan. Kulminasinya adalah pengampunan di dalam karya Yesus.

Perlukah takut kepada Tuhan karena "api telah tersedia bagi orang-orang jahat" ?

Kalau kita tergolong orang jahat yang telah menerima pengampunan melalui Yesus, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Bagi mereka yang tergolong orang jahat yang tidak percaya kepada Tuhan dan Yesus, juga tidak ada yang perlu ditakukan, karena hukum tersebut (setidak-tidaknya dalam pengertian mereka) tidak akan pernah ada.

Jadi, mengapa harus 'alergi terhadap Tuhan' ? Mengapa harus alergi terhadap orang Kristen yang sekedar menyampaikan apa yang dipercayainya ? (Aku buka situs www.JesusSaid.org dan isinya tidak ada yang menakuti-nakuti). Aku melihat bahwa atheisme dan humanisme sekarang ini sudah menjadi seperti 'agama' yang mengabarkan 'kabar baik' versinya sendiri.

Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Apakah kita mendapat damai sejahtera dan hidup yang bermakna dari posisi kita yang 'takut akan Tuhan' atau 'tidak takut akan Tuhan' ? Baiklah kita memilih sendiri dengan hati dan pikiran yang jernih. Ujilah setiap ajaran dan propaganda.


Aku memegang apa yang dikatakan oleh penulis Amsal, "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan/kebijakan". (Takut di sini berarti rasa hormat dan ketaatan yang tinggi kepada Tuhan). Aku lebih bisa memahami kehidupan dan makna keberadaanku di bumi saat ini dengan mengakui adanya Tuhan. Jadi, slogan "stop worrying and enjoy your life" akan tercapai ketika aku menyerahkan hidupku kepada Yesus.

Jadi, i hita halak Batak Kristen, mungkin boi do kasus on gabe parsiajaran. Unang taboan halak, termasuk ma i angka dakdanak ta, tu haporseaon ta alana mabiar tu api narokko (hei, bukankah banyak gereja, khususnya 'gereja baru' yang begitu menekankan armageddon dan zaman akhir?). Ajarkanlah selalu tentang hukum yang utama : Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Maka, yang terutama bagi kita adalah memahami dan menjalankan hukum itu, soal neraka dan pernik-perniknya adalah 'pembalasan adalah hakKu, kata Tuhan'. Sementara kita tetap percaya akan ada hari penghukuman dan neraka bagi orang-orang tertentu, mari kita fokuskan hidup kita untuk menyembah dan memuliakan Tuhan, menikmati kasih dan pengampunan Tuhan dan membagikannya kepada sesama manusia.

09 Januari 2009

Parsaripeon ni Halak Batak Kristen

Aku tak begitu tahu sejarah ompung-ompung nenek moyang orang Batak. Sejauh yang kutahu, di tarombo ompung kami (kira-kira 17 generasi ke belakang), rata-rata beristeri satu. Kalau ada yang isterinya dua, biasanya karena dari isteri pertama tidak punya anak laki-laki. Tampaknya ada kecenderungan orang Batak bersifat monogami. Ketika kekristenan masuk ke Tanah Batak, tampaknya perilaku monogami menjadi tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi. Dulu, sempatnya pria Batak Kristen terkenal sebagai suami yang setia, yang tak akan menceraikan isterinya (molo so sinirang ni hamatean).

Alai, saonari on ?

Pernikahan orang Batak Kristen yang berujung di meja pengadilan sudah jamak. Segala kekhidmatan peneguhan pernikahan di gereja dan kesempurnaan acara adat di sopo godang dengan mudah dilupakan. Sabda 'apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia' dianggap angin, ketinggalan zaman, seakan-akan "Tuhan tidak gaul, tidak mengerti problematika rumah tangga masa kini". Beberapa gereja pun mulai menerima jemaat yang bercerai hidup. Dan menikahkan orang yang pernah bercerai. Lalu, mereka mencari pembenaran akan kelakuan tersebut, sehingga perceraian menjadi sah secara hukum dan secara gereja (tertentu).

Dulu...seorang isteri Batak sangat hormat dan tunduk kepada suaminya. Suami adalah kepala rumah tangga yang berdaulat atas rumahnya. Sekarang...lihatlah sendiri. Dulu...seorang suami setia pada satu isteri dan menyanjung isterinya sebagai "parsonduk bolon naburuju". Sekarang...KDRT dan selingkuh pria Batak Kristen bukanlah berita baru.

Ketika di awal tahun lalu aku menghadiri pesta pernikahan anak seorang dongan tubu, air mataku menitik. Ini bukan pertama kali aku menitikkan air mata jika melihat sepasang pengantin berlutut dan menerima pemberkatan nikah. Aku sangat terharu... sepasang orang muda berani berjanji di hadapan Allah yang maha tinggi bahwa mereka akan saling mengasihi, saling menghormati, saling menjaga dalam susah dan duka...dan tak ada yang dapat memisahkan mereka kecuali kematian. Luar biasa! Sungguh janji yang luar biasa! Jemaat seperti sedang memeberangkatkan seorang tentara muda ke medan perang yang dahsyat dimana harapan untuk kembali dalam keadaan hidup sangat tipis; begitulah, harapan untuk memenuhi janji pernikahan tersebut sangat tipis. Aku teringat orang-orang sekitarku dan keluargaku sendiri : betapa banyak yang telah menyangkal janji itu. Dan di depan altar itu...ada lagi yang mengucapkan janji yang sama.

Aku merindukan parsaripeoan Halak Batak Kristen seperti yang kita pahami dulu : satu suami dan satu isteri... di tambah anak cucu jika Tuhan berkenan. Di rumahnya hanya ada kasih dan damai yang tak berkesudahan. Dalam susah dan duka mereka saling menjaga dan saling menghormati. Rumah tangga mereka dipelihara oleh Tuhan yang telah menebus mereka.

Martua dongan angka na sabagas, na mardonganhon Tuhan Jesus i
Namangoloi Ibana mansai ringgas, na so marholang tangiang na i
Tongtong holong rohana di Ibana
Manungkun lomo ni rohana i
Huhut tongtong marguru tu hatana
Dihaben sandok pangalaho na i


Martua baoa dohot ina-ina, sisada roha mida Jeusi i
Na rap marholong roha di Tuhanna, marsaulihon hatuaon i
Na sahat sian asi ni rohana
Tu halak na porsea sasude
I do dibaen nasida haposanna
Manang beha parsorionna pe

(Buku Ende No. 159)

08 Januari 2009

Halak Batak Kristen Marpolitik

Melihat ramainya baliho, spanduk, poster para caleg di seantero kota, mau tak mau muncul diskusi tentang perilaku dongan sabangso sahaporseaon menjelang pemilu legislatif 9 April 2009. Komentar berragam : ada yang mendukung "ta tangianghon ma sai dapot nasida ma karosi i..." atau menolak "angka na mabuk jabatan dohot di arta do i...".

Yang banyak diobrolkan adalah cara-cara caleg Batak Kristen menarik simpati dari komunitasnya. Cara paling sederhana adalah bagi-bagi kartu nama yang dilengkapi dengan partuturonna. Ada yang bagi-bagi kalender. Ada yang datang ke gereja bawa bika ambon, atau bawa semen untuk memelester dinding gereja, atau menyumbang dalam lelang pembangunan gereja. Ada yang datang ke punguan marga (padahal bertahun-tahun 'so hea tinanda bohina') lalu menyumbang acara natal manang bona taon.

Yang asyik punya...ada yang mencantumkan jabatan gerejani pada namanya : ada yang pandita, sintua, penatua,...Akh, sejak kapan pula jabatan gerejawi boleh untuk menarik simpati umat ? Ai tung ula hamu ma na gabe tanggung-jawab muna. Nungga magodang hu gareja dohot ruas dipolitisir secara diam-diam saleleng on. Molo bo i nian, ingkon steril ma gareja sian kepentingan politik. Biarlah umat menggunakan hak suaranya sebagai WARGA NEGARA bukan sebagai WARGA GEREJA. Kalau anggota gereja memang memiliki karunia untuk memimpin di dunia politik, silakan maju : apa yang baik yang dilakukannya selama ini pastilah menarik hati umat untuk memilihnya. Strategi pencitraan melalui spanduk dan sumbangan tak lebih dari pembohongan oleh orang-orang yang tak punya basis massa.


Kalau dilihat-lihat jejak rekam para calon, sebagian adalah orang-orang yang tak punya pengalaman dan pendidikan yang cukup untuk dapat membuat undang-undang, perda, atau mengawasi eksekutif. Andalan mereka adalah kesempatan karena kedekatan dengan petinggi atau pengurus partai, atau nepotisme, atau karena bisa bayar,... Lihat, mereka ada di berbagai partai yang tak jelas juntrung visinya.

Pertanyaanya kepada kita-kita yang awam politik ini : siapa yang kita pilih? Apakah berdasarkan partondongon ? Apakah berdasarkan partondian ? Atau 'logika politik' ? Tapi jelaslah, jangan melihat banyaknya kue yang dibawa, besarnya namargoar manang horbo yang disumbangkan, tingginya nilai uang yang di'hekter' di selebaran partai...palias ma i. Jadi, kek mana? Aku pun bingung : hampir tak ada caleg yang layak pilih.

Alai...tung gomos ma hita martangiang...asa dilehon habisukon di ganup hita mamillit caleg na boi gabe pangusandeaonta molo adong na masa di halak hita. (Btw, ini tidak berarti harus orang Batak atau Kristen... banyak juga halak Batak Kristen na gabe legislator atau pejabat eksekutif yang bikkin malu dan menjadi batu sandungan).

07 Januari 2009

Halak Batak Kristen Naburju

Bosan bercerita tentang yang buruk-buruk, seorang dari dongan parkomburan bercerita tentang halak Kristen naburju. Salah satunya adalah tentang seorang purnawirawan jenderal Batak, tapi lahir dan besar di tanah perantauan. Konon sang purnawirawan punya bisnis yang sangat baik, sehingga punya banyak dana, yang kemudian dia gunakan untuk membangun lembaga pendidikan yang bertaraf internasional di bona pasogit. Masih menurut kawan yang rupanya pernah beberapa kali bertemu bapak itu ... "na burjuan amanta on...dilehon do rohana tu hamajuon ni halak hita."

Awak 'ni yang tak kenal orang hebat dan terkenal hanya bisa manggut-manggut lah. Terpujilah Tuhan. Sai lam ganda ma angka jolma na boi gabe sitiruon.

06 Januari 2009

Marbada

Ketika orang-orang yang bekenalan baik berkumpul dari berbagai lokasi dan daerah di suasana tahun baru, maka cerita yang asyik-asyik juga bertebaran. Bagi orang Batak Kristen rupanya salah satu topik yang menarik adalah parbadaan ni angka pangula atau majelis jemaat. Muncullah kisah gereja-gereja yang mengadakan dua kelompok kebaktian terpisah (satu jemaat, tetapi dua kebaktian dengan 'pemimpin jemaat' yang berbeda). Dengan mata telanjang, jemaat dapat pula melihat bagaimana, setelah berakhirnya konferensi puncak/muktamar/sinode gereja, jabatan di struktur gereja dibagi-bagi sesuai dengan kedekatan dengan pemimpin tertinggi yang terpilih di organisasi gereja, sementara pecundang di-'bye-bye beibeh'-kan. Inilah yang manambah banyak benih-benih parbadaan.


Sebenarnya, aku sebal mendengar 'fakta dan peristiwa' seperti ini dan biasanya tidak tertarik untuk mempersoalkannya karena ujung-ujungnya muncul kesimpulan "...ia nuaeng dang Pandita be na tajou martangiang molo adong angka na masa di hita ruas,...alai angka Pandita i do sitangianghon on ni hita ruas, ai holan namarbadai do ulaon ni angka naposo ni Debata i." Terlalu menyakitkan dakwaan ini, tetapi faktanya terbeber nyata di seantero tanah air. Jadi, bagaimanakah umat dapat dibina, jika mereka sudah kehilangan respek dan kepercayaan terhadap para pemimpinnya ?

Di tengah kekelaman dan carut marut organisasi gereja yang tampak di permukaan, ada sekelompok kecil pelayan Tuhan yang tak dikenal namanya, tak jelas lokasinya, tak jelas bagaimana hidup dengan pendapatan yang sangat kecil...dengan keikhlasan dan ketaatan kepada Sang Pemberi Amanat Agung menggembalakan domba-domba yang tersesat. Ladang penggembalaan mereka terlalu kecil dan tak berarti untuk dijadikan ajang parbadaan. Itulah usulku kepada angka dongan : marilah kita kurangi pelean dohot hamulaiateon ke gereja kita yang di kota ini, tapi marilah itu kita salurkan secara langsung ke jemaat yang terpencil untuk mendukung pendeta/guru huria/penilik jemaat/hamba Tuhan yang melayani di sana dan menjangkau umat yang tak sanggup beli buku Kristen, atau tak bisa menyaksikan tele evangelist, atau tak bisa mendengar siaran rohani di radio... Mudah-mudahan ketika gereja kota sudah lagi tidak marlomak, hanya mereka yang sungguh-sungguh mendapat panggilan dari Tuhan yang akan tertarik untuk melayani gereja kota. Pada saat itulah parbadaan... mudah-mudahan ... akan mereda.

05 Januari 2009

Marsiurupan

Di daerah Sumatera Utara (aku tak tahu di daerah lain) biasanya komunitas halak Kristen yang tinggal berdekatan membentuk suatu perkumpulan kemasyarakatan atau syarikat (atau sarekat) yang lazim disebut Syarikat Tolong Menolong alias STM. Jika ada ulaon las ni roha atau habot ni roha, maka anggota STM lah yang aktif membantu suhut (sebagai dongan sahuta).

Sungguh mengagumkan 'institusionalisasi' kepedulian antar tetangga di masyarakat Batak Kristen. Memang, akhir-akhir ini peran STM tampak makin berkurang, berhubung semakin sulitnya mengharapkan kehadiran anggotga STM dalam jumlah besar jika ada ulaon, khususnya pada hari dan jam kerja. Pekerjaan marhobas semakin tergantikan oleh 'boru na burju' alias catering. Nevertheless, semangat bersekutu untuk tolong menolong masih menjiwai eksistensi STM.

Dapatkah semangat ini kita ejawantahkan secara lebih mendasar? Seberapa banyakkah di antara kita yang peduli sungguh-sungguh hingga rela mengorbankan sebagian dari hak miliknya (harta, waktu atau kesempatan) demi menolong sanak saudara, kerabat atau tetangga ? Misalnya, dapatkah kita menggalang dana untuk menolong yang putus sekolah di antara kita melalui program tertentu (bukan sekedar 'manjanglangkon sadia na taronjor sian roha') ? Atau, menyediakan bantuan ambulans, peti mati, dan sebagainya (bukan sekear 'pangganti krans bunga') ? Tentu, ini bukan program satu STM, tetapi program komunitas Batak Kristen yang lebih luas. Tegakah kita berpesta besar (entah mengawinkan anak atau saur matua) atau mangolopi rumah seukuran istana, sementara.... di antara pemulung jalanan yang putus sekolah, pelacur ingusan yang mencari makan dengan menjajakan tubuh, ibu muda yang terkapar di beranda rumah sakit menangisi anaknya yang kena DB tak terrawat karena tak ada biaya... terdapat 'sesamamu manusia' dan 'lebih-lebih kawan seimanmu' ?

04 Januari 2009

Menghormati Para Pemimpin Jemaat

Para pemimpin jemaat Kristen mula-mula sebagian besar bukanlah orang berpendidikan tinggi, tetapi jemaat menghormati mereka dengan layak.

Sekarang ?

Banyak pemimpin jemaat bergelar STh, MTh, MDiv, Doktor dan sebagainya. Tetapi, jemaat pun banyak pula yang berpendidikan tinggi, berjabatan hebat atau berkekayaan banyak.
Di dalam pertemuan non-formal dengan ringan anggota jemaat akan mengritik perilaku dan unjuk kerja pemimpin jemaat. Kalau ada yang tidak cocok di hati, kadang-kadang mereka akan melakukan gerakan untuk 'menyingkirkan' sang pemimpin. Gereja menjadi tidak berbeda dari organisasi sekuler. Di sisi lain, memang ada pula pemimpin jemaat yang mencari 'ladang' yang subur dalam arti memberi jaminan finansial; berbeda sekali dengan pemimpin jemaat mula-mula yang kerinduannya adalah memberitakan Injil hingga keujung dunia, bahkan dengan membiayai sendiri (ada yang jadi pembuat tenda) atau dengan dana dukungan dari jemaat asalnya.

Pertanyaannya : layakkah jemaat memandang rendah kepada pemimpin rohaninya ? Jelas tidak! Kepemimpinan rohani bukanlah hirarki organisasi semata, tetapi perwujudan amanat Sang Immanuel untuk 'menggembalakan domba-dombaNya'. Betapa tidak wajarnya jika jemaat mencoba 'mengatur-atur' para pemimpinnya.

Sebenarnya, pemimpin rohani haruslah menjadi teladan dan tempat pengaduan terakhir bagi umat. Sayangnya, banyak pemimpin jemaat tidak mempunyai kapasitas sebagai pemimpin (sebagian menjadi pemimpin jemaat sebagai 'profesi'). Di sinilah dilemanya.

Di masyarakat Batak Toba yang dari sononya sudah egalitarian, sungguhlah sulit untuk memberi hormat kepada seseorang yang tidak punya kapasitas menjadi jadi pemimpin. Oleh karena itu, baiklah gereja sungguh-sungguh menyiapkan para pemimpin rohani yang sungguh-sungguh melayani jemaat karena panggilan Tuhan. Terlepas dari pendidikan formal (ingat murid-murid Yesus yang berasal dari nelayan) dan kemampuan bawaan mereka (ingat Musa yang tak berbakat pidato), para pemimpin yang diurapi Tuhan akan membawa umat kepada kebaikan.

Betapa indahnya jika kita bisa melihat gereja dimana jemaat menghormati para pemimpinnya dan bahu membahu mencukupi kebutuhan pemimpinnya, sementara pemimpin jemaat pun mengayomi umat tanpa pilih kasih.

Galatia 6:6

Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

03 Januari 2009

Manjalang Pangula

Somal do di halak hita molo nunnga sidung sada-sada ulaon di tingki parmulak ni pangula manang parhata dijalanghon suhut do ampelop to nasida.

Salam tempel mula-mula bertujuan untuk memberikan pengganti ongkos (atau bensin kendaraan), tetapi lama-lama kurang sedap akibatnya. Di antara jemaat mulai muncul bisik-bisik bahwa seseorang pangula (entah pandita atau sintua) memilih menghadiri acara yang diadakan oleh anggota yang relatif berpunya. Paling gampang melihat ini adalah jika ada yang tardidi atau malua; karena banyak yang mengadakan 'selamatan' dan mengundang pangula, maka mau tak mau pangula harus berbagi. Lihatlah, di rumah siapakah amang Pandita hadir ?

Sebenarnya, molo nirimang-rimangi, soalnya tidaklah melulu salam tempel itu. Biasanya anggota jemaat yang lumayan berpunya cukup aktif juga gereja, entah sebagai pelindung, ketua atau bendahara pembangunan; dengan perkataan lain, status ekonomi sosial sering kali menjadi status partisipasi di kegiatan gereja. Biasanya pula, jika ada kegiatan gereja yang membutuhkan dana, termasuk lelang-melelang, orang-orang yang berpunya ini pulalah yang banyak menyumbang atau aktif mencari dana melalui koneksinya.

Jadi, tidaklah terlalu salah Amang Pandita menghadiri acara di rumah 'jemaat andalan' tersebut alih-alih di rumah jemaat non-tokoh.

Kembali soal jalang menjalang, sebenarnya tak usahlah itu dilakukan di tempat. Bisanya itu dilakukan dengan cara mangalehon hamuliateon langsung ke gereja dengan menyertakan catatan alokasi dana yang disumbangkan. (Tetapi, ada juga gereja yang tidak membiasakan jemaat ikut mengatur alokasi dana yang disumbangkan,ya).

Bagaimana pun juga, janganlah kiranya Pangula sampai menganakemaskan anggota jemaat karena pamrih tertentu. Baiklah kita mengingat bahwa Pelayan Jemaat bertugas untuk melayani kehidupan rohani jemaatnya, sedangkan jemaat berperan untuk mencukupi kebutuhan Pelayan Jemaat berdasarkan kesanggupannya, bukan berdasarkan 'service' yang didapat dari Pelayaan Jemaat.

02 Januari 2009

Para "ahli agama"

Ini cerita lain yang aku dapat di masa Natal/Tahun Baru.

Cerita (1)

Seorang guru huria dipecat/diusir oleh majelis jemaat (parhalado) karena anaknya kedapatan menjadi melakukan perbuatan dosa. Tanpa basa-basi sang guru yang telah bertahun-tahun melayani di gereja tersebut diminta segera angkat kaki. Akh, betapa ini mengingatkanku pada cerita Alkitab mengenai pelacur yang akan dilempari batu oleh para ahli Taurat dan umat ....


Cerita (2)

Di Internet sekarang ini mudah sekali menemukan informasi tentang iman Kristen. Berjibun pula blog dan forum yang membahas kekristenan. Hebatnya, forum dan blog tersebut banyak yang berubah menjadi ajang diskusi antar iman. Lalu, berjibun pula orang yang mendadak menjadi 'ahli agama'. Dengan cara yang sangat halus hingga sangat kasar, masing-masing men
unjukkan kebenaran dan keunggulan kubu agamanya hingga kekeliruan dan kebobrokan agama lain. Entah benar atau tidak soal keterlibatannya, orang Batak terbawa-bawa pula dalam kasus kartun yang menghina agama tertentu.

Kesimpulan parkomburan :
Mau 'ahli agama' beneran atau 'ahli agama' karbitan... kelakuan sama saja. Baiklah tiap-tiap orang menjaga kelakuan dan hidupnya bersih. "Melihat serpih di seberang lautan dan tak melihat gajah di pelupuk mata" tak membuat kita lebih benar dari orang lain.

01 Januari 2009

Doa awal tahun (1)

Ya Tuhanku,
Segala yang disebut milikku adalah berasal dariMu,
Segala yang disebut saudara dan kerabatku adalah dariMu,
Raga dan jiwaku adalah milikMu,

Aku tak tahu apa yang akan hilang dariku di tahun yang baru ini
Aku mungkin akan kehilangan harta milikku yang kunilai berharga
Aku mungkin kehilangan pekerjaan, karir dan bisnis yang kunilai prospektif
Aku mungkin kehilangan orang-orang yang kucintai
Aku mungkin kehilangan jiwaku

Sesungguhnya aku tak akan pernah kehilangan apapun
Karena aku tak pernah memiliki apapun

Hidupku adalah nafas yang Kau tiupkan ke dalam ragaku,
Apalah arti semua yang lain, jika yang paling berarti bagi diriku pun bukan milikku ?

Engkau, Engkau sajalah yang berarti
Janganlah aku pernah kehilangan Engkau
Peliharalah hidupku yang telah Engkau anugerahkan kepadaku
Jadikanlah hidupku bermakna di mataMu

Jadikanlah tahun 2009 di dalam hidupku bermakna di mataMu
Jadikanlah aku berkat bagi banyak orang

Dalam nama Yesus
Amin

Doa awal tahun (2)

Tuhanku,

Kumulai awal tahun ini dengan doa yang berisi ketakutanku
Ampunilah aku

Inilah permohonanku :

Berikanlah kedamaian di setiap jiwa, setiap rumah tangga dan setiap komunitas
Teduhkanlah setiap hati yang mudah murka, redamkanlah setiap hati yang angkuh
Bukakanlah pintu setiap hati yang tertutup, celikkanlah mata setiap hati yang berselaput

Tuntunlah setiap tangan untuk menjangkau orang-orang yang terpinggirkan
Bimbinglah setiap bibir untuk berhenti mengucap kata dusta dan janji manis

Terangilah setiap pikiran untuk mencari pengertian kepada Mu saja

Sentakkanlah aku setiap kali aku berhenti pada pengertian dan tidak melangkah pada tindakan.

Dalam nama Yesus

Amin