14 Januari 2009

Partuturan

Dalam suatu acara Batak sering kita yang hadir kaget bertemu dengan orang lain yang sudah kita kenal sebelumnya ternyata juga menjadi undangan di acara yang sama. Muncullah pertanyaan,"Beha do parromuna tu ulaon on?"

Penjelasannya adalah partuturon. Partuturan dapat menjelaskan bagaimana kaitan antara sang tuan rumah dengan sang tamu, walaupun tidak tertutup kehadirannya karena pertemanan atau perkolegaan langsung atau melalui saudara sang suhut.

Inilah yang sangat menarik tentang bangso Batak. Kalau kita mau menelusuri cukup jauh dan ada waktu untuk mempelajari tarombo, tampaknya siapapun orang Batak yang kita temui akan mempunyai hubungan tertentu dengan kita. (OK lah, semua bersaudara melalui Si Raja Batak; tapi, tak usah sampai ke sana pun, mungkin sekitar lima atau enam garis hubungan kita sudah bisa menemukan kedekatan satu sama lain antara sebagian besar kita.)

Memang partutoron tak selalu mudah terlacak, karena kita satu sama lain bisa terkait melalui jalur yang tidak kita duga. Misalnya, pariban mertua itoku adalah amangboru dari tetangga sebelah rumah kami. Memang, tak dekat-dekat 'kali, tapi 'kan ternyata "kita orang semua bersaudara".

Jadi, agak lucu juga kulihat para caleg Batak menampilkan partuturonnya sebagai cara memikat pemilih. Bukankah praktis semua caleg adalah saudara kita ? Mungkin dia adalah boru salah satu marga, atau dongan tubu marga lain, atau hula-hula ni angka na mangalap boru sian marga i.

Sedih rasanya melihat generasi muda Batak sekarang ini tak begitu peduli dengan partuturan. Mereka menganggap tutur yang banyak sebagai beban. Padahal tutur adalah 'network' yang menjadi "support system" kita sebagai makhluk sosial. Alai aha ma naboi dohonon be, di dunia yang semakin individualistik sekarang ini, masing-masing merasa bisa hidup sendiri. Orang-orang semakin enggan terlibat dalam kehidupan orang lain, dan pada saat yang sama juga tidak berharap orang lain memperdulikannya. Maka, tak heranlah kita melihat begitu banyaknya manusia, termasuk halak Batak Kristen, yang dengan mudah bunuh diri, bercerai, melakukan korupsi dan kejahatan lain, karena menurutnya,"Hidup gue, bini gue, bisnis gue,... emang siape loh usil ikut campur urusan gue."

Ironis memang. Ketika sebagai orang Kristen kita diminta untuk mengasihi semua orang termasuk musuh, kepada orang-orang dekat kita pun kita sudah semakin tidak peduli. Boro-boro menjadi 'orang Samaria yang baik hati', jangan-jangan kita sudah lebih buruk dari orang Lewi yang membiarkan orang asing yang terlantar di jalan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.