26 Januari 2009

Orang-tua dan anak-anaknya yang telah dewasa

Beberapa ibu-ibu tua halak Batak bertemu lalu memperbincangkan banyak hal, dan diskusi akhirnya bermuara pada kondisi anak-anak mereka.
Seorang ibu mengeluhkan keluarga anaknya yang di ambang perceraian, padahal keluarga tersebut telah menikah lebih dari 10 tahun dan telah memiliki 4 anak.
Ibu yang lain menimpali dengan kisah KDRT yang dialami putrinya yang menikah dengan lelaki pilihan hatinya, yang kemudian ternyata memiliki perilaku kasar dan suka main tangan.
Ibu lain lagi, dengan berhati-hati dan suara tersendat, curhat tentang anaknya yang akan segera menggelar pernikahan dengan wanita non-Batak non-Kristen menurut agama mempelai wanita; sang anak telah meninggalkan iman Kristianinya, dan mengatakan siap berpisah dengan keluarga besarnya kalau pernikahan tersebut tak disetujui.

Beberapa ibu tersebut, usia mereka semuanya sudah di atas 60 tahun - sudah bisa digolongkan sebagai 'ompung-ompung' - sama-sama merasakan kepedihan yang disebabkan oleh perilaku dan kondisi rumah-tangga anak-anaknya. Di wajah mereka tampak jelas kegundahan dan rasa putus asa melihat kegagalan rumah tangga anak-anak mereka. "Mengapa ?" Pertanyaan itu menyeruak dari hati yang penat. Mereka dituntut (atau lebih tepatnya : merasa merupakakan kewajibannya) terlibat dalam permasalahan anak-anak mereka, padahal mereka sendiri masih memiliki problem yang segudang (sebagian ada yang sudah mabalu, pendapatan dari marengge-rengge juga terbatas). Haruskah mereka mengurusi lagi anak-anaknya yang sudah berusia 25 tahun bahkan lebih dari 40 tahun ?

Kadang aku berpikir : Bukankah orang-tua sudah diberi waktu sekitar 18 tahun untuk membesarkan dan membentuk karakter anak-anaknya ? Mengapa mereka tidak menggunakan waktu tersebut untuk sungguh-sungguh mengajar dan memberi teladan ?

Teramat banyak kita lihat sekarang ini orang-orang muda melakukan kebodohan dalam hidup. Jika ditelusurui, sebabnya, sebagai besar, adalah akibat salah didik atau kurang pengarahan di masa kecil dan remaja mereka. So, orang tua memang berperan dalam kegagalan rumah-tangga anak-anaknya. Namun, sebenarnya, daripada terus-menerus ikut campur dalam kehidupan pribadi seorang anak yang telah dewasa (yang seringkali membuat keadaan semakin runyam), orang-tua masa kini haruslah lebih banyak berdoa : mohon berkat untuk pemulihan anak-anak mereka dan mohon ampun untuk kelalaian orang tua di masa lalu.

Untuk keluarga muda yang diberkati Tuhan dan dipercayai untuk mengasuh anak-anakNya, mari kita berupaya untuk tidak mengulangi kekeliruan orang tua kita yang abai menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang kuat. Mari kita beri waktu, hati dan doa yang tak putus bagi anak-anak kita, terutama ketika mereka masih di bawah pengasuhan kita. Setelah mereka dewasa... lepaskanlah mereka menjalani hidup mereka sendiri. Kalau kita telah mengasuh dan mendidik mereka dengan benar di masa muda mereka, mereka tak akan mengecewakan orang-tua dan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.