Menjadi pengikut Kristus harus siap hidup dengan paradoks.
Kita percaya bahwa manusia adalah debu, sedangkan Allah (Tuhan Pencipta Alam Semesta) adalah maha mulia; tetapi, kita juga percaya bahwa Allah pernah menjadi manusia.
Kita percaya bahwa Allah itu maha esa; tetapi, kita juga percaya bahwa Allah dapat dikenal dalam pernyataannya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus
Kita percaya bahwa Allah itu maha kasih; tetapi kita juga percaya bahwa Dia akan membakar dan menyiksa orang-orang berdosa dalam neraka
Dalam kadar yang lebih ringan, sering kita merasa begini : Allah Maha Tahu, tetapi Dia sepertinya membiarkan hal-hal buruk terjadi pada orang yang percaya kepadaNya. Allah Maha Pengasih, tetapi Dia sepertinya tak perduli pada tangisan anak-anak di negeri yang tertimpa perang dan bencana. Allah Maha Pemurah, tetapi Dia sepertinya enggan menjawab doa-doa kita.
Lalu di hadapan kita terbentang kenyataan : Kristus mengajarkan kasih dan damai, tetapi banyak orang-orang Kristen menindas dan ribut satu sama lain. Kristus memberitakan 'Kabar Baik' mengenai pengampunan dosa, tetapi banyak orang Kristen hidup dalam percabulan dan sebagai pembunuh, pencuri, perampok, koruptor dan pendusta. Kristus mendoakan "ut omnes unum sint" (agar mereka satu adanya), tetapi banyak orang-orang Kristen menjadi eksklusif, mendakwa satu sama lainnya, dan memonopoli klaim sebagai orang benar. Duh....
Andaikan konsitensi dan logika ilmiah yang semata-mata menjadi dasar untuk mempercayai Allah, maka (saat ini) lebih banyak yang menarik kesimpulan 'there is no God' atau 'God is dead'.
Andaikan perilaku orang Kristen yang menjadi dasar untuk mempercayai Kristus, maka (dan memang semakin) banyak orang enggan menjadi Kristen.
Tetapi, ketika aku belajar bahwa hidup adalah soal "mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan akal budi" dan "mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri", aku tahu apa yang utama dalam hidup. Paradoks atau pun fakta yang terlihat kontradiktif seringkali adalah keterbatasan indra manusia untuk mencermati dan memahami dunia di dalam dan di luar dirinya. Dalam keadaan demikian, maka kita hanya dapat berpegang pada satu hal yang paling penting dan tak terbantahkan. Dan untuk kita halak Batak Kristen, yang terutama adalah mengasihi; aku percaya Tuhan tak akan menolak orang-orang yang telah berupaya untuk menjalankan apa yang telah diperintahkanNya secara gamblang kepada kita.
21 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.