Para pemimpin jemaat Kristen mula-mula sebagian besar bukanlah orang berpendidikan tinggi, tetapi jemaat menghormati mereka dengan layak.
Sekarang ?
Banyak pemimpin jemaat bergelar STh, MTh, MDiv, Doktor dan sebagainya. Tetapi, jemaat pun banyak pula yang berpendidikan tinggi, berjabatan hebat atau berkekayaan banyak.
Di dalam pertemuan non-formal dengan ringan anggota jemaat akan mengritik perilaku dan unjuk kerja pemimpin jemaat. Kalau ada yang tidak cocok di hati, kadang-kadang mereka akan melakukan gerakan untuk 'menyingkirkan' sang pemimpin. Gereja menjadi tidak berbeda dari organisasi sekuler. Di sisi lain, memang ada pula pemimpin jemaat yang mencari 'ladang' yang subur dalam arti memberi jaminan finansial; berbeda sekali dengan pemimpin jemaat mula-mula yang kerinduannya adalah memberitakan Injil hingga keujung dunia, bahkan dengan membiayai sendiri (ada yang jadi pembuat tenda) atau dengan dana dukungan dari jemaat asalnya.
Pertanyaannya : layakkah jemaat memandang rendah kepada pemimpin rohaninya ? Jelas tidak! Kepemimpinan rohani bukanlah hirarki organisasi semata, tetapi perwujudan amanat Sang Immanuel untuk 'menggembalakan domba-dombaNya'. Betapa tidak wajarnya jika jemaat mencoba 'mengatur-atur' para pemimpinnya.
Sebenarnya, pemimpin rohani haruslah menjadi teladan dan tempat pengaduan terakhir bagi umat. Sayangnya, banyak pemimpin jemaat tidak mempunyai kapasitas sebagai pemimpin (sebagian menjadi pemimpin jemaat sebagai 'profesi'). Di sinilah dilemanya.
Di masyarakat Batak Toba yang dari sononya sudah egalitarian, sungguhlah sulit untuk memberi hormat kepada seseorang yang tidak punya kapasitas menjadi jadi pemimpin. Oleh karena itu, baiklah gereja sungguh-sungguh menyiapkan para pemimpin rohani yang sungguh-sungguh melayani jemaat karena panggilan Tuhan. Terlepas dari pendidikan formal (ingat murid-murid Yesus yang berasal dari nelayan) dan kemampuan bawaan mereka (ingat Musa yang tak berbakat pidato), para pemimpin yang diurapi Tuhan akan membawa umat kepada kebaikan.
Betapa indahnya jika kita bisa melihat gereja dimana jemaat menghormati para pemimpinnya dan bahu membahu mencukupi kebutuhan pemimpinnya, sementara pemimpin jemaat pun mengayomi umat tanpa pilih kasih.
Galatia 6:6
Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.
04 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.