Karena liburan Imlek, kemarin aku punya waktu untuk membaca-baca majalah lama. Kebetulan aku menemukan beberapa edisi majalah bacaan istriku yang membahas tentang kisah cinta sepasang selebriti : seorang cantik, seorang tampan, dua-duanya terkenal, kaya; singkat cerita mereka menikah secara spektakular di Pulau Dewata dengan acara yang didesain seperti pernikahan dewa dewi (btw, apakah dewa dewi menikah?). Dalam berbagai wawancara mereka menunjukkan besarnya cinta mereka satu sama lain (larger than life) dan betapa mereka adalah pasangan yang memang ditakdirkan untuk bersatu.
Tapi, itu cerita beberapa tahun lalu.
Majalah edisi terakhir menceritakan sang istri mengeluhkan bagaimana dia sungguh-sungguh tidak memahami suaminya. Karena memang mereka selebriti, maka keretakan rumah tangga ini terrekam oleh media, dan tampaknya perpisahan tinggal menunggu waktu.
Lalu, apa kaitannya dengan hita halak Batak Kristen ?
Cerita ini sudah jadi tipikal dalam rumah-tangga masa kini. Tak lihat suku, tak lihat agama, tak lihat status sosial. Plotnya begini : Cinta menggebu...muncul perselisihan...bubar (pecah kongsi, kata orang Medan). Di komunitas Batak Kristen pun ini bukan cerita asing, padahal dulu (akh, itu kan cerita tahun 70-an), kalau ada yang sirang...betapa tabunya. Orang yang bercerai kena "ban" dari gereja. Sekarang ? Gereja pun sudah menerima perceraian (artinya : mudah-mudahan Tuhan bertoleransi dengan kedegilan hati manusia).
Mengapa pasangan bercerai, padahal pernikahan didasari cinta yang mendalam dan menggebu ? Dan, bukankah janji pernikahan mempersyaratkan tidak ada perpisahan kalau bukan karena kematian ? Juga, suami dan isteri akan saling menghormati dan menolong dalam susah dan duka? Kemanakah perginya gebu semangat di masa pacaran dan awal pernikahan itu ?
Sejak lama aku sudah "mencurigai" kata 'jatuh cinta'. Aku tak percaya bahwa jatuh cinta itu dikendalikan oleh suatu yang murni, apalagi tuntunan supranatural dari Tuhan. Aku lebih percaya bahwa jatuh cinta (aku berbicara antara lelaki dan wanita dewasa) lebih digerakkan oleh suatu dorongan biologis dan psikologis, yang dikemas dalam kata-kata penuh bunga dan sayap bidadari. Jatuh cinta sering kali impulsif dan emosional.
Manusia diminta untuk mengasihi Tuhan Allah dan sesama, bukan untuk jatuh cinta kepadaNya dan kepada mereka. Mengasihi bukanlah sesuatu yang muncul secara impulsif, tetapi itu adalah perintah. Artinya : mau tidak mau, kita diwajibkan untuk mengasihi. Ini berbeda dengan jatuh cinta : boleh pilih-pilih. Mengasihi Tuhan Allah haruslah juga dengan menggunakan akal budi. Ini berbeda dengan jatuh cinta : 'kalau sedang jatuh cinta xxxxxx jadi rasa coklat'.
Kembali tentang pernikahan. Manakala 'sihir cinta' sudah berakhir bagi pasangan yang menikah, saatnya ingat tentang apa yang utama dalam hidup, termasuk pernikahan : kasihilah suamimu (apapun keadaannya dan kesalahannya kepadamu), kasihilah istrimu (apapun keadaannya dan kesalahannya kepadamu)...bisa diteruskan : kasihilah anak-anakmu, kasihilah natorasmu, kasihilah simatuamu, kasihilah edamu, kasihilah laemu, kasihilah sude hula-hulamu, kasihilah sude dongan tubumu, kasihilah sude borumu, kasihilah dongan sahuta dohot hombar balokmu, kasihilah pangula huriamu, kasihilah pemerintah setempat...singkatnya, kasihilah mereka yang hadir dan mendoakan pernikahanmu, jangan tipu mereka dengan janji pernikahanmu yang kau ucapkan di hadapan Tuhan dan mereka semua.
Matius 5: 32
Tetapi Aku berkata kepadamu : Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah, dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah
Matius 19: 8
Kata Yesus kepada mereka : "Karena ketegaran harimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian".
27 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.