(1)
Ketika tiba saat menunaikan ibadah agama tertentu dalam suatu pertemuan bisnis yang aku hadiri ternyata aku sendiri yang tak ikut, sehingga tinggalah aku sendiri di ruang rapat. Seseorang kemudian bertanya apakah aku bukan xxxxxx ? (agama mereka). Sebelum aku menjawab, kolegaku mendahului menjawab untukku,"Belum,Pak." Aku hanya tersenyum, tak perlu menjelaskan. Dan dengan bercanda temanku bertanya,"Kapan Pak? Pindah jadi xxxxxx saja." Tidak ada yang SARA dalam hal ini, karena aku tahu selama ini di tempat pekerjaan aku tak pernah didiskriminasi karena agama yang berbeda. Itu cuma tawaran yang simpatik dari seorang sahabat yang barangkali baru mendapatkan nikmat dan kedamaian dari ritual keagamaan yang baru dijalankannya. Setelah itu kami cuma diskusi pekerjaan.
(2)
Sekali waktu lagi, ada seorang kenalan mengajakku menghadiri suatu pertemuan kelompok aliran kebatinan lintas agama yang sama-sama mencari Tuhan. Aku tak tahu persis acaranya, yang pasti bukan sekedar diskusi, tetapi akan ada ceramah 'pencerahan' dan kontemplasi atau meditasi. Aku pun menolak dengan halus.
(3)
Ketika aku kuliah dulu, ada matakuliah Agama dan Etika, dimana aku belajar tentang agama lain selain Kristen dan beberapa aliran kepercayaaan serta 'aliran sempalan' Kristen. Pelajaran ini memberiku pemahaman tentang apa yang jadi dasar kepercayaan orang lain. Akhirnya aku mencari tahu lebih banyak pertanyaan yang paling mendasar bagiku : Mengapa seseorang harus beragama dan mempercayai sesuatu yang transendental ?
Aku belum tahu jawaban yang pasti.
(4)
Sejak lama aku memperhatikan semakin menjamurnya buku-buku dan pelatihan motivasi yang meningkatkan kesadaran akan kehebatan pribadi manusia (kita ini manusia super, unggul, dahsyat, luar biasa, unlimited, giant, whatever...). Sejalan dengan itu, berkembang pula pengungkapan "the secret" : apa yang menjadi rahasia keberhasilan orang-orang hebat. Salah satu cara untuk mendapatkan kekuatan adalah menghubungkan diri dengan 'universal power' yang maha dahsyat. Kadang-kadang ramah terhadap agama (tetapi bersifat sinkretisme), kadang-kadang sinis terhadap agama (bersifat humanisme), berbagai aliran 'new age' menggantikan Tuhan Pencipta Alam sebagai pribadi, dengan 'ultimate power' yang tak punya pribadi.
(5)
Bagiku sendiri : Apakah hidupku lebih baik dan lebih bermakna jika mempercayai adanya Pribadi Tuhan pencipta alam semesta ? Dan mempercayai adanya kejatuhan manusia ke dalam dosa dan penebusan oleh AnakNya yang tunggal ? Apakah aku memerlukan cara lain memahami apa yang kupercayai di samping yang kudapat dari Penelaahan Alkitab, Partangiangan, Saat Teduh, dan khotbah di gereja ? Apakah Yesus masih harus disertai 'suplemen' ?
Jawabannya kutemukan dalam berbagai peristiwa hidup yang kualami atau kusaksikan. Tanpa Tuhan segalanya menjadi tak bermakna. Cukup dengan Yesus saja, makna hidupku dipulihkan kembali.
Inilah lagu dan doaku :
Holan Jesus do hubaen donganku
Ai Ibana pasonangkon au
Ingkon sai tong-tong tiur langkangku
Molo raphon Jesus i au lao
Molo raphon Jesus i au lao
(Buku Ende No.260)
13 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.