Masih tentang mengikut Yesus.
Ikut-ikutan bukanlah ciri pengikut Kristus. Yesus bertanya kepada muridNya,"Menurutmu, siapakah Aku?" Setiap orang yang mengikut Yesus diminta untuk mengenalNya secara pribadi.
Sayangnya, banyak orang menjadi pengikut Kristus, seperti gerbong kereta yang selalu ikut lokomotif di depannya. Mereka tidak mengarahkan dan menjalani hidup sesuai dengan iman kepercayaannya, tetapi bergantung pada arahan pemimpinnya. Alih-alih menerima dan menjalankan fungsi sebagai "imamat yang rajani", mereka membiarkan hidup rohaninya disetir oleh pemimpin umat. Mereka malas merenungkan firman Allah melalui pembacaan Alkitab dan enggan berdoa sendiri dalam saat teduh pribadi. Kekaguman yang berlebihan kepada kharisma seorang tokoh jemaat dan kepatuhan kepada arahan pemimpin yang melebihi ketaatan kepada Allah telah memunculkan berbagai aliran dan gereja baru di lingkungan Kristen.
Beberapa orang meng-klaim telah mendapatkan mandat langsung dari Tuhan untuk mengembalikan umat dari kesesatan yang dilakukan oleh gereja. Berbekal karunia penyembuhan, karunia mengusir setan, karunia retorik, karunia kekayaan (untuk beli air time atau buat stasiun televisi/radio sendiri) dll , mereka memisahkan diri dari jemaat lama dan membuat jemaat baru yang "murni, benar, sejati." Yang menarik bagiku, kebanyakan pengurus gereja baru ini biasaya adalah 'inner circle' nya, yaitu orang-orang yang dekat dengan tokoh sentral yang mendirikannya. Seringkali kepemimpinan gereja diteruskan kepada anaknya. Aliran baru ini biasanya merasa "benar sendiri", sedangkan jemaat gereja yang lain, khususnya yang bernaung di gereja lama (mainstream), adalah 'sessaaa....tttt.'
Nah, yang menjadi perhatianku adalah unsur peng-kultus-an pemimpin jemaat. Seakan-akan apa yang dikatakan oleh pemimpin jemaat adalah kebenaran, bukan penjabaran dan interpretasi tentang kebenaran. Seakan-akan setiap ucapan sang pemimpin yang mengutip ayat Alkitab sama nilainya dengan ayat itu sendiri. Jemaat digiring pada suatu pemahaman tunggal, yaitu pemahaman sang tokoh sentral. Tema khotbah dan lagu pujian dan penyembahan pun berfokus pada salah satu aspek ajaran Yesus yang menjadi "differentiation" dari jemaat baru tersebut.
Alih-alih merangkul umat Tuhan untuk bersama-sama menyembahNya dan mempelajari firmanNya, orang-orang digiring ke dalam 'ajaran yang benar'. 'Ajaran alternatif' yang menggantikan 'pakem' seakan-akan menjadi jawaban atas 'kegagalan' gereja lama untuk menghidupi iman Kristen yang benar. Dalam kenyataannya, 'ajaran yang benar' tersebut seringkali hanyalah penonjolan dari salah satu aspek ajaran Kristen; pemberian perhatian pada aspek ajaran tersebut akhirnya mengaburkan esensi ajaran Kristus yaitu : kasih Allah yang besar akan manusia ciptaanNya sehingga Dia mengutus AnakNya yang Tunggal untuk menebus kita dari dosa dan perintah kepada manusia untuk mengasihi Allah dan saling mengasihi sesama. Para pemimpin yang dikultuskan dengan sengaja menonjolkan 'kelebih-benaran' pemahaman mereka, sehingga mereka dapat memiliki posisi yang unik di benak pengikutnya. Dan para pengikutnya ? Seperti gerbong yang manut dengan lokomotifnya, tak lagi mempertanyakan apakah sang pemimpin akan membawa kepada Yesus atau kemana.
Setiap kali ada kejadian - entah itu di kalangan Kristen atau di kalangan agama lain - yang menyangkut aliran sempalan, aku bersyukur kepada Bapa di Surga, bahwa setiap umatnya diberi kesempatan untuk berdoa langsung kepadaNya dan FirmanNya telah terdokumentasi di dalam Alkitab, sehingga setiap umatNya sebenarnya diberi karunia untuk menilai manakah yang benar manakah yang keliru. Merenungkan FirmanNya dan berdoa mohon petunjukNya akan menghindarkan kita dari kesesatan yang bermula dari peng-kultus-an pemimpin jemaat.
17 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.