Entah mengapa, pada masa dua minggu di awal tahun ini banyak sekali na masa di lingkunganku. Praktis tiap dua hari ada yang meninggal dunia. Entah itu dari kalangan keluarga, kalangan teman dan kalangan dongan sahuta.
Setiap hari Jumat dan Sabtu selalu ada acara pernikahan. Pada awal tahun ada juga yang menikah di hari Senin.
Banyak saudara, banyak teman, banyak kenalan memanglah baik. Ikut menangis dengan orang yang berduka, ikut tertawa dengan orang yang bahagia : itu adalah tanda sahabat dan saudara yang baik. Aku layak mengucap syukur, karena di sekitarku terdapat begitu banyak yang bisa kuhitung sebagai saudara, teman dan tetangga.
Yang menjadi soal, kalau ada acara halak Batak Kristen, kita harus hadir pada saat tertentu, yaitu acara puncak yang ditandai dengan rap mangan dan rampak mangan. Akibatnya, susah mengatur waktu untuk kita yang bekerja kantoran; konon, susah juga untuk yang martiga-tiga. Hanya para bos dan pengusaha besar yang bebas mengatur waktunya. Kita-kita orang kecil ini terpaksa mencuri waktu kerja kalau mau menghadiri berbagai acara yang dilaksanakan pada jam kerja.
Paling susah adalah menjelaskan kepada bos yang bukan Batak tentang "kedekatan" kita dengan seseorang yang meninggal atau yang menikah. Apa yang bagi kita adalah keluarga dekat "apala tulanghu, apala anggi/haha ni simatua, apala ompung na marhaha maranggi,...", bagi mereka 'tak perlu-perlu kalilah meninggalkan kantor untuk itu. Susah menjelaskan bahwa kehadiran kita dibutuhkan pada saat tertentu di dalam acara itu.
Meminta dispensasi dari tempat kerja bagi orang Batak Kristen tentulah bukan solusi, bahkan (menurutku) sangat jelek. Cuek dengan acara adat dengan alasan tak ada waktu...sama jeleknya.
Jadi macam mana ? Dapatkah kita orang Batak membuat suatu mekanisme atau prosedur adat yang baru untuk mengakomodasi perubahan zaman ?
20 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.