Di masyarakat halak hita sangatlah lazim untuk memberi kesempatan bagi orang yang hadir di suatu acara untuk mandok hata. Nah, kesempatan ini digunakan oleh banyak orang untuk memberikan sambutan dan ucapan terima kasih hingga petuah dan nasihat tertentu. Mula-mula tentulah tidak semua fasih untuk mandok hata, tetapi karena kebiasaan maka jadi lancar juga. Biasanya seorang pemula meniru apa yang dikatakan oleh orang lain, kemudian mengembangkan 'style'nya sendiri. Tetapi, tentunya, tidak semua orang berbakat menjadi parhata.
Yang aku perhatikan ada kemiripan orang Batak mandok hata, yaitu dibuka dengan intro "Parjolo tadok ma mauliate tu Amanta Debata na mangalehon di hita...." (dengan varian-nya). Sayangnya, itu sering menjadi sekedar kata-kata tak bermakna, karena dalam kenyataan orang-orang lebih mengandalkan uang, koneksi dan kekuasaan untuk mencapai tujuannya. Sebagai contoh, pernah ada yang berhasil mendapatkan suatu pekerjaan, jabatan, proyek atau bisnis dengan kecurangan tertentu lalu mengadakan syukuran yang dimulai dengan doa "Mauliate ma di Ho, Debata nami, ..." Ikutkah Tuhan dalam konspirasi itu ?
Lalu, jika konteksnya adalah memberikan nasihat, maka meluncurlah berbagai pepatah yang sudah dihapalkan atau pun ayat-ayat Alkitab yang lazim dikutip. Pada awalnya aku sering kagum akan keluhuran kata-kata yang diucapkan. Sebagai contoh, seseorang memberi nasihat,"Sai masi amin-aminan ma hamu, masi tungkol-tungkolan, songot suhat di robean". Dalam kenyataan, orang yang mengucapkan kata-kata tersebut terlibat 'perang' dengan saudara-saudara kandungnya.
Mungkin tidak disadari, umpasa atau ayat Alkitab yang asal diucapkan tanpa sungguh-sungguh disampaikan akan membuat orang yang mendengar menjadi jenuh dan semua itu seperti omong-kosong. Ada iklan rokok yang menuliskan "talk less, do more." Tampaknya di samping "raja parhata", kita juga memerlukan "raja pangalaho sitiruon".
15 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.