Melihat ramainya baliho, spanduk, poster para caleg di seantero kota, mau tak mau muncul diskusi tentang perilaku dongan sabangso sahaporseaon menjelang pemilu legislatif 9 April 2009. Komentar berragam : ada yang mendukung "ta tangianghon ma sai dapot nasida ma karosi i..." atau menolak "angka na mabuk jabatan dohot di arta do i...".
Yang banyak diobrolkan adalah cara-cara caleg Batak Kristen menarik simpati dari komunitasnya. Cara paling sederhana adalah bagi-bagi kartu nama yang dilengkapi dengan partuturonna. Ada yang bagi-bagi kalender. Ada yang datang ke gereja bawa bika ambon, atau bawa semen untuk memelester dinding gereja, atau menyumbang dalam lelang pembangunan gereja. Ada yang datang ke punguan marga (padahal bertahun-tahun 'so hea tinanda bohina') lalu menyumbang acara natal manang bona taon.
Yang asyik punya...ada yang mencantumkan jabatan gerejani pada namanya : ada yang pandita, sintua, penatua,...Akh, sejak kapan pula jabatan gerejawi boleh untuk menarik simpati umat ? Ai tung ula hamu ma na gabe tanggung-jawab muna. Nungga magodang hu gareja dohot ruas dipolitisir secara diam-diam saleleng on. Molo bo i nian, ingkon steril ma gareja sian kepentingan politik. Biarlah umat menggunakan hak suaranya sebagai WARGA NEGARA bukan sebagai WARGA GEREJA. Kalau anggota gereja memang memiliki karunia untuk memimpin di dunia politik, silakan maju : apa yang baik yang dilakukannya selama ini pastilah menarik hati umat untuk memilihnya. Strategi pencitraan melalui spanduk dan sumbangan tak lebih dari pembohongan oleh orang-orang yang tak punya basis massa.
Kalau dilihat-lihat jejak rekam para calon, sebagian adalah orang-orang yang tak punya pengalaman dan pendidikan yang cukup untuk dapat membuat undang-undang, perda, atau mengawasi eksekutif. Andalan mereka adalah kesempatan karena kedekatan dengan petinggi atau pengurus partai, atau nepotisme, atau karena bisa bayar,... Lihat, mereka ada di berbagai partai yang tak jelas juntrung visinya.
Pertanyaanya kepada kita-kita yang awam politik ini : siapa yang kita pilih? Apakah berdasarkan partondongon ? Apakah berdasarkan partondian ? Atau 'logika politik' ? Tapi jelaslah, jangan melihat banyaknya kue yang dibawa, besarnya namargoar manang horbo yang disumbangkan, tingginya nilai uang yang di'hekter' di selebaran partai...palias ma i. Jadi, kek mana? Aku pun bingung : hampir tak ada caleg yang layak pilih.
Alai...tung gomos ma hita martangiang...asa dilehon habisukon di ganup hita mamillit caleg na boi gabe pangusandeaonta molo adong na masa di halak hita. (Btw, ini tidak berarti harus orang Batak atau Kristen... banyak juga halak Batak Kristen na gabe legislator atau pejabat eksekutif yang bikkin malu dan menjadi batu sandungan).
08 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.