Setiap kali seseorang mengajakku diskusi tentang "pandangan yang benar" tentang cara pembaptisan, makanan yang haram dan halal, Kristiani tidaknya merayakan Natal, penguburan/kremasi orang mati, bahasa Roh, tanda-tanda akhir zaman dll, biasanya aku enggan. Orang yang mengajak diskusi seperti ini biasanya sudah punya pandangan sendiri dan punya agenda untuk membuatku 'bertobat' dengan mengikuti pemahamannya. Padahal, aku tak memandang penting mempersoalkan hal-hal seperti itu. Aku jauh lebih tertarik dan ingin belajar praktik tentang hukum yang utama dan terutama, karena ternyata sangat sulit untuk mengasihi Allah dan sesama. Mungkin, kalau ada hirarki atau level, maka aku ini ada di level 1, yaitu level paling dasar dalam pemahaman agama Kristen. Tetapi, entah mengapa, kalau memang level itu ada, aku tak merasa penting untuk dapat naik level demi memahami apa yang menjadi concern kawan-kawan itu.
Bagiku : baptisan yang diselamkan atau dipercikkan, makan daging dan darah hewan tertentu atau tidak, sah atau tidaknya merayakan Natal tanggal 25 Desember, apakah orang mati boleh dikremasi atau tidak, benar tidaknya konflik Timur Tengah sebagai tanda akhir zaman dan sebagainya...tidaklah sepenting diskusi dan tindakan untuk mengasihi dengan sungguh-sungguh.
Teramat banyak sekarang ini orang Kristen suka memperdebatkan firman Tuhan, mendadak menjadi 'ahli agama' dan (sepertinya) piawai menafsir Firman Tuhan. Padahal, Yesus sendiri jelas-jelas menunjukkan bahwa yang utama dan terutama adalah menjalankan hukum kasih. Tetapi, sebagian orang Kristen begitu ingin menonjolkan perbedaan pemahaman tentang hal-hal yang trivial dibandingkan dengan hal yang utama. Menurut pengamatanku, sebagian alasan melakukan hal tersebut adalah untuk menghindar dari menjalankan hukum yang utama, misalnya : pendeta atau evangelis yang berteriak lantang di depan podium mengenai baptisan ternyata belum berdamai dengan saudara-saudaranya (padahal untuk pergi pergi beribadah saja Tuhan menyuruh kita berdamai dulu dengan saudara kita). Gembala jemaat yang mendakwa orang yang makan X akan dihukum mati oleh Tuhan, ternyata adalah orang yang masih memendam dendam terhadap seseorang dan tidak akan mau mengampuni orang yang bersalah kepadanya itu. Mengasihi memang lebih sulit daripada mengikuti aturan keagamaan tertentu.
Sebagai orang bodoh, apalagi soal-soal agama, aku tak sanggup memikirkan hal-hal yang tinggi. Aku bersyukur bahwa orang pintar seperti Paulus telah mengingatkan bahwa pemahaman dan pengetahuan yang hebat bukanlah jalan untuk menyenangkan hati Allah. Karena itu, aku tetap merasa nyaman saja ketika terlihat bodoh dan berbeda dalam banyak hal dengan saudara seiman yang sudah cekatan mengutip firman dan mendemonstrasikan kehebatan pemahamannya atau doktrik gereja/alirannya, tetapi aku merasa sangat tidak nyaman setiap kali kusadari bahwa aku belum mengasihi dengan sungguh-sungguh.
I Korintus 13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
25 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.