12 Januari 2009

Mago Ruas Alani Parbadaan Angka Pangula Huria

Namanya Aduena boru Aduena (real person, disguised to protect those who are innocence). Usianya 20 tahunan. Setiap minggu rajin ke gereja. Sebelum makan selalu berdoa seperti orang Kristen lain. Jadi, tak pernah terbersit sedikit pun di pikiranku bahwa dia bukan Kristen menurut definsi orang Kristen umumnya, karena ternyata dia belum pernah malua atau tardidi. Ini baru aku tahu ketika dia beberapa waktu yang lalu akhirnya menjalani ritual tersebut dan menceritakan latar belakang hidupnya.

Konon orang tua dan orang sekampungnya (suatu desa yang terpencil di hita an) sebelumnya sebagian besar adalah pengikut Kristus. Mereka mempunyai gereja yang dulu menjadi pusat pembinaan iman umat. Pada suatu masa tertentu, para petinggi jemaat gerejanya di Pusat, berkelahi habis-habisan memperebutkan jabatan tertinggi di gereja, dan ini merembet menjadi perpecahan jemaat. Termasuk di gereja orangtua Aduena. Perpecahan ini memuncak dengan perkelahian fisik, fitnah, permusuhan, perusakan...(kalian pasti membaca juga di koran, karena itu jadi isu nasional). Jemaat kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin jemaat. Juga kehilangan kepercayaan terhadap iman Kristen. Mereka akhirnya kembali kepercayaan orang Batak asli. Di komunitas ini mereka kembali mendapatkan kedamaian dan kasih yang "...holan hata do i di halak Kristen." Ketika perseteruan dan perebutan jabatan tersebut akhirnya selesai, mantan jemaat tersebut sudah 'alergi' terhadap hipokrisi orang-orang Kristen.

Begitulah. Aduena yang lahir dan dibesarkan pada masa pergolakan gereja itu tak dibaptiskan oleh orangtuanya, dan akhirnya juga dibesarkan sebagai penganut agama Batak. Tetapi, rupanya Tuhan tidak mau kehilangan milikNya; ketika tinggal berpisah dari orangtua dan melanjutkan sekolah ke ibukota kecamatan, Aduena (dan juga beberapa saudara kandungnya) tinggal di komunitas Kristen, dan dimulai dari ikut-ikutan pergi ke gereja, akhirnya beriman kepada Kristus. Orangtua mereka cukup toleran membiarkan anak-anak mereka mengikuti kebiasaan 'agama baru', hanya meminta anak-anak mereka agar jangan mengajak-ajak kembali ke agama itu. Bagi orang tua mereka keputusan meninggalkan agama Kristen sudah final, tetapi anak-anaknya boleh memilih.

Tetapi, karena tidak ada pembinaan dan pengarahan, Aduena dan saudara-saudaranya tidak pernah dibaptis atau belajar katekisasi. Setelah Aduena pindah ke ibukota provinsi, bertemulah dia dengan orang-orang Kristen yang menganjurkan untuk 'memformalkan' imannya. Itulah yang membawanya ke sakramen 'pandidion nabadia' dan 'manghatindanghon haporseaon' tersebut. Menurut Aduena, di kampungnya hingga saat ini banyak mantan Kristen (termasuk orangtuanya) yang emoh kembali kepada Kristus.

Hatiku terenyuh. Beginilah akibat keserakahan para pemimpin jemaat. Alih-alih membina jemaat, mereka berebut jabatan dan pengaruh, dan tidak sedikitpun mereka menunjukkan kasih Kristus. Mereka manipulasi jemaat demi kepentingannya sendiri. Ini cerita lama. Mungkin ada yang mengatakan, tak usahlah diungkit-ungkit. Tetapi, tolonglah lihat akibatnya hingga saat ini.

Apakah yang akan dikatakan Tuhan nanti kepada para gembala yang membunuhi domba milikNya? Kepada para penggarap yang mencuri dari kebun anggurNya? Akankah para pemimpin jemaat itu 'ngeles' dan berkata seperti Kain, "Akukah penjaga adikku?"

Marilah kita tidak menghakimi mereka. Itu adalah hak Tuhan. Sebagai halak Batak Kristen awam aku hanya bisa berdoa dan berharap agar setiap anggota tubuh Kristus mendapatkan hikmat dari Tuhan untuk mengenali para pemimpin rohani yang palsu dan jemaat berani secara terang-terangan membukakan kemunafikan mereka ketika pemimpin palsu tersebut masih berstatus penipu kelas teri. Jika kita sungguh-sungguh meminta kepada Pemilik Kawanan Domba dan Pemilik Ladang, maka Ia akan mengirim penjaga dan penuai yang benar pada waktunya. Sementara kita terus membangun persekutuan di dalam gereja sebatas kapasitas jemaat awam, baiklah kita memelihara iman melalui persekutuan pribadi dan persekutuan rumah tangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.