09 Januari 2009

Parsaripeon ni Halak Batak Kristen

Aku tak begitu tahu sejarah ompung-ompung nenek moyang orang Batak. Sejauh yang kutahu, di tarombo ompung kami (kira-kira 17 generasi ke belakang), rata-rata beristeri satu. Kalau ada yang isterinya dua, biasanya karena dari isteri pertama tidak punya anak laki-laki. Tampaknya ada kecenderungan orang Batak bersifat monogami. Ketika kekristenan masuk ke Tanah Batak, tampaknya perilaku monogami menjadi tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi. Dulu, sempatnya pria Batak Kristen terkenal sebagai suami yang setia, yang tak akan menceraikan isterinya (molo so sinirang ni hamatean).

Alai, saonari on ?

Pernikahan orang Batak Kristen yang berujung di meja pengadilan sudah jamak. Segala kekhidmatan peneguhan pernikahan di gereja dan kesempurnaan acara adat di sopo godang dengan mudah dilupakan. Sabda 'apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia' dianggap angin, ketinggalan zaman, seakan-akan "Tuhan tidak gaul, tidak mengerti problematika rumah tangga masa kini". Beberapa gereja pun mulai menerima jemaat yang bercerai hidup. Dan menikahkan orang yang pernah bercerai. Lalu, mereka mencari pembenaran akan kelakuan tersebut, sehingga perceraian menjadi sah secara hukum dan secara gereja (tertentu).

Dulu...seorang isteri Batak sangat hormat dan tunduk kepada suaminya. Suami adalah kepala rumah tangga yang berdaulat atas rumahnya. Sekarang...lihatlah sendiri. Dulu...seorang suami setia pada satu isteri dan menyanjung isterinya sebagai "parsonduk bolon naburuju". Sekarang...KDRT dan selingkuh pria Batak Kristen bukanlah berita baru.

Ketika di awal tahun lalu aku menghadiri pesta pernikahan anak seorang dongan tubu, air mataku menitik. Ini bukan pertama kali aku menitikkan air mata jika melihat sepasang pengantin berlutut dan menerima pemberkatan nikah. Aku sangat terharu... sepasang orang muda berani berjanji di hadapan Allah yang maha tinggi bahwa mereka akan saling mengasihi, saling menghormati, saling menjaga dalam susah dan duka...dan tak ada yang dapat memisahkan mereka kecuali kematian. Luar biasa! Sungguh janji yang luar biasa! Jemaat seperti sedang memeberangkatkan seorang tentara muda ke medan perang yang dahsyat dimana harapan untuk kembali dalam keadaan hidup sangat tipis; begitulah, harapan untuk memenuhi janji pernikahan tersebut sangat tipis. Aku teringat orang-orang sekitarku dan keluargaku sendiri : betapa banyak yang telah menyangkal janji itu. Dan di depan altar itu...ada lagi yang mengucapkan janji yang sama.

Aku merindukan parsaripeoan Halak Batak Kristen seperti yang kita pahami dulu : satu suami dan satu isteri... di tambah anak cucu jika Tuhan berkenan. Di rumahnya hanya ada kasih dan damai yang tak berkesudahan. Dalam susah dan duka mereka saling menjaga dan saling menghormati. Rumah tangga mereka dipelihara oleh Tuhan yang telah menebus mereka.

Martua dongan angka na sabagas, na mardonganhon Tuhan Jesus i
Namangoloi Ibana mansai ringgas, na so marholang tangiang na i
Tongtong holong rohana di Ibana
Manungkun lomo ni rohana i
Huhut tongtong marguru tu hatana
Dihaben sandok pangalaho na i


Martua baoa dohot ina-ina, sisada roha mida Jeusi i
Na rap marholong roha di Tuhanna, marsaulihon hatuaon i
Na sahat sian asi ni rohana
Tu halak na porsea sasude
I do dibaen nasida haposanna
Manang beha parsorionna pe

(Buku Ende No. 159)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.