06 Januari 2009

Marbada

Ketika orang-orang yang bekenalan baik berkumpul dari berbagai lokasi dan daerah di suasana tahun baru, maka cerita yang asyik-asyik juga bertebaran. Bagi orang Batak Kristen rupanya salah satu topik yang menarik adalah parbadaan ni angka pangula atau majelis jemaat. Muncullah kisah gereja-gereja yang mengadakan dua kelompok kebaktian terpisah (satu jemaat, tetapi dua kebaktian dengan 'pemimpin jemaat' yang berbeda). Dengan mata telanjang, jemaat dapat pula melihat bagaimana, setelah berakhirnya konferensi puncak/muktamar/sinode gereja, jabatan di struktur gereja dibagi-bagi sesuai dengan kedekatan dengan pemimpin tertinggi yang terpilih di organisasi gereja, sementara pecundang di-'bye-bye beibeh'-kan. Inilah yang manambah banyak benih-benih parbadaan.


Sebenarnya, aku sebal mendengar 'fakta dan peristiwa' seperti ini dan biasanya tidak tertarik untuk mempersoalkannya karena ujung-ujungnya muncul kesimpulan "...ia nuaeng dang Pandita be na tajou martangiang molo adong angka na masa di hita ruas,...alai angka Pandita i do sitangianghon on ni hita ruas, ai holan namarbadai do ulaon ni angka naposo ni Debata i." Terlalu menyakitkan dakwaan ini, tetapi faktanya terbeber nyata di seantero tanah air. Jadi, bagaimanakah umat dapat dibina, jika mereka sudah kehilangan respek dan kepercayaan terhadap para pemimpinnya ?

Di tengah kekelaman dan carut marut organisasi gereja yang tampak di permukaan, ada sekelompok kecil pelayan Tuhan yang tak dikenal namanya, tak jelas lokasinya, tak jelas bagaimana hidup dengan pendapatan yang sangat kecil...dengan keikhlasan dan ketaatan kepada Sang Pemberi Amanat Agung menggembalakan domba-domba yang tersesat. Ladang penggembalaan mereka terlalu kecil dan tak berarti untuk dijadikan ajang parbadaan. Itulah usulku kepada angka dongan : marilah kita kurangi pelean dohot hamulaiateon ke gereja kita yang di kota ini, tapi marilah itu kita salurkan secara langsung ke jemaat yang terpencil untuk mendukung pendeta/guru huria/penilik jemaat/hamba Tuhan yang melayani di sana dan menjangkau umat yang tak sanggup beli buku Kristen, atau tak bisa menyaksikan tele evangelist, atau tak bisa mendengar siaran rohani di radio... Mudah-mudahan ketika gereja kota sudah lagi tidak marlomak, hanya mereka yang sungguh-sungguh mendapat panggilan dari Tuhan yang akan tertarik untuk melayani gereja kota. Pada saat itulah parbadaan... mudah-mudahan ... akan mereda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.