24 Januari 2009

Tirani Orang Kecil

Ketika terungkap berbagai penyelewengan, korupsi, persekongkolan dan sebagainya yang dilakukan oleh orang-orang terhormat yang berpendidikan tinggi di negeri ini, banyak orang mencibir betapa bobroknya kelakukan "orang besar." Melihat jumlah uang yang ditilep, busuknya dusta yang coba ditutupi dan kejinya fitnah yang disebar, mau tak mau orang membelalakkan mata menyadari bahwa orang-orang yang selama ini 'manusia-manusia teladan' itu tak lebih dari penjahat berjas.

Di kedai kopi dan warung makan pinggir jalan kita orang kecil merasa kejahatan sekaliber itu hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang ber'kaliber'. Dan, kerusakan negeri ini merupakan akibat dari 'kejahatan' para pemimpin.

Betulkah ?

Betulkah orang-orang 'besar' itu mendadak besar atau dilahirkan sudah 'besar' dan mendadak melakukan 'dosa besar' ? Rasanya...tidak. Semua dimulai dari pelanggaran kecil dan dosa-dosa sepele yang, menurut kita, seharusnya boleh ditoleransi.

Jika kita berpikir bahwa hanya orang besar yang menindas orang kecil, cobalah lihat jalan-jalan di sekitar pasar tradisional. Pedagang merangsak menguasai jalan umum sehingga jalan yang tiga lajur hanya tersisa satu lajur...dan jangan coba-coba melarang mereka atas nama Perda atau apapun.

Sepeda motor dan kendaraan angkutan kota (angkot) menerabas lampu merah (btw, apakah ini mengingatkanmu akan kota Medan?)...dan tak usah mengingatkan mereka akan peraturan lalu lintas, kalau tak mau dimaki-maki jika kita 'menghalangi' mereka dengan berhenti di depan mereka di perempatan yang sedang mendapat giliran lampu merah.

Beca barang atau beca penumpang dengan penuh percaya diri berjalan melawan arah dan di kawasan yang menurut peraturan bebas becak.

Pegawai rendahan di kantor kelurahan meminta 'uang rokok' Rp.20 ribu untuk meminta tanda-tangan lurah bagi sebuah surat keterangan yang secara resmi adalah gratis.

Lantas ? Ya, sudahlah, seberapalah itu. Atau, sudahlah, kasihan...mereka cuma cari makan. Atau, 'kan 'gak apa-apa, yang penting tak ada yang celaka.

Banyak orang-orang besar memang telah menzalimi kita. Tetapi, orang-orang kecil pun tak lebih baik. Pada waktunya orang kecil yang menjadi orang besar atau anak-anak orang kecil inilah yang akan menjadi penjahat besar di negeri ini.

Sebagai pengikut Kristus, kita diminta untuk setia pada perkara kecil. Menjadi "wong cilik" bukanlah alasan dan pembenaran untuk melakukan pelanggaran apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.