Beberapa hari yang lalu kami mengadakan acara mangapuli di sebuah keluarga yang baru saja berpisah dengan kepala keluarganya karena kematian. Sementara anak-anaknya (semua sudah dewasa dan bekerja, meskipun belum menikah) terlihat tegar, sang ibu masih tampak tertekan dan tak bersemangat. Kepergian sang bapak secara tiba-tiba rupanya telah membuat sang ibu sangat terpukul.
Ditinggal mati oleh orang yang kita kasihi adalah suatu kehilangan yang amat mendukakan. Kepergian itu menyisakan ruang-ruang kosong di hati dan pikiran kita. Yang hilang bukan hanya orang yang kita kasihi, tetapi juga beberapa elemen eksistensi kita yang kita konstruksi di alam pikiran kita. Inilah yang membuat keguncangan, kebingungan, dan kegelisahan.
Setiap kali aku menghadiri ulaon parmondingan atau kegiatan mangapuli, aku diingatkan bahwa segala yang disebut sebagai milikku bukanlah milikku. Ketika ayahku tercinta dipanggil Tuhan, aku disadarkan bahwa dia pun adalah milik Tuhan yang telah dipinjamkan Tuhan kepadaku selama puluhan tahun dan akhirnya dimintaNya kembali. Kesadaran itu mengingatkanku : secara biologis dan kultural aku adalah turunan dari ayahku, tetapi aku (dan juga ayahku) ada di bumi adalah atas kehendak Tuhan.
Rasa kehilangan memang adalah reaksi manusiawi ketika ada satu tali yang mengikat kita dengan seseorang terputus. Ketika satu per tali temali hubungan keluarga atau pertemanan hilang diputuskan oleh kematian, kita tahu bahwa kita memerlukan tangan yang kokoh untuk menatang kita dan menjaga kita dalam keseimbangan. Tangan itu Tangan Tuhan.
22 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.