10 Januari 2009

Salah kaprah soal takut akan Tuhan

Ketika aku kecil dan cukup berani untuk keluar masuk gudang barang rongsok di belakang rumah, orang-orang dewasa di sekitarku sering menakut-nakuti (agar aku terhindar dari bahaya paku berkarat, beling, binatang berbisa) dengan mengatakan "awas, di sana ada hantu". Dan ketakutan akan hantu mencegahku untuk pergi ke tempat berbahaya.

Apa yang dilakukan oleh orang tua dan orang dewasa kalau anak-anaknya nakal, berbohong dan tidak patuh ? "Awas ya, jangan nakal, nanti dihukum Tuhan. Orang berdosa akan dimasukkan ke neraka." Tuhan menjadi pribadi yang menakutkan. (Btw, juga polisi : "awas nanti kau kukasitahu sama polisi, biar ditangkap kau")

Rupanya banyak juga orang yang "trauma dengan Tuhan" karena pada masa kanak-kanaknya sering ditakut-takuti. Termasuk orang-orang di luar negeri.

Konon di Inggris ada sekolompok atheist (orang yang menolak eksistensi Tuhan) dan humanist (orang-orang yang mengagungkan manusia) sangat terganggu dengan iklan di bus umum yang memperkenalkan sebuah situs, yaitu JesusSaid.org. Nah, di situs tersebut ada kutipan-kutipan Alkitab yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya akan Yesus dan tetap tinggal di dalam dosa akan dihukum. Maka, mereka membuat tandingan iklan di bus dengan slogan "There’s probably no God. Now stop worrying and enjoy your life." (artinya : mungkin tidak ada Tuhan, buanglah cemasmu dan nikmatilah hidup). Gerakan ini mendapat dukungan luas dari masyarakat, terbukti dengan cepatnya dana terkumpul untuk mendukung program tersebut.

Tampaknya ada salah pemahaman mengenai "takut akan Tuhan" pada orang yang percaya maupun tidak-percaya. Seakan-akan Tuhan ada untuk menjadi "hantu yang menakuti-nakuti anak kecil."

Padahal Tuhan ada, karena Ia ada. Dia adalah yang "ada pada mulanya", tanpa sebab, tanpa perlu menjelaskan kepada yang lain mengapa Ia ada dan bagaimana Ia ada. Ia adalah Pencipta yang mengasihi ciptaanNya, tetapi juga memiliki hukum sendiri terhadap pelanggaran. Ia juga konsisten terhadap hukum-hukum yang difirmankanNya. Tetapi, lihatlah pengampunan yang tak henti Dia berikan. Hukum-hukumNya tetap dijalankan, tetapi pengampunannya pun tak berkesudahan. Kulminasinya adalah pengampunan di dalam karya Yesus.

Perlukah takut kepada Tuhan karena "api telah tersedia bagi orang-orang jahat" ?

Kalau kita tergolong orang jahat yang telah menerima pengampunan melalui Yesus, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Bagi mereka yang tergolong orang jahat yang tidak percaya kepada Tuhan dan Yesus, juga tidak ada yang perlu ditakukan, karena hukum tersebut (setidak-tidaknya dalam pengertian mereka) tidak akan pernah ada.

Jadi, mengapa harus 'alergi terhadap Tuhan' ? Mengapa harus alergi terhadap orang Kristen yang sekedar menyampaikan apa yang dipercayainya ? (Aku buka situs www.JesusSaid.org dan isinya tidak ada yang menakuti-nakuti). Aku melihat bahwa atheisme dan humanisme sekarang ini sudah menjadi seperti 'agama' yang mengabarkan 'kabar baik' versinya sendiri.

Akhirnya, kembali kepada kita masing-masing. Apakah kita mendapat damai sejahtera dan hidup yang bermakna dari posisi kita yang 'takut akan Tuhan' atau 'tidak takut akan Tuhan' ? Baiklah kita memilih sendiri dengan hati dan pikiran yang jernih. Ujilah setiap ajaran dan propaganda.


Aku memegang apa yang dikatakan oleh penulis Amsal, "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan/kebijakan". (Takut di sini berarti rasa hormat dan ketaatan yang tinggi kepada Tuhan). Aku lebih bisa memahami kehidupan dan makna keberadaanku di bumi saat ini dengan mengakui adanya Tuhan. Jadi, slogan "stop worrying and enjoy your life" akan tercapai ketika aku menyerahkan hidupku kepada Yesus.

Jadi, i hita halak Batak Kristen, mungkin boi do kasus on gabe parsiajaran. Unang taboan halak, termasuk ma i angka dakdanak ta, tu haporseaon ta alana mabiar tu api narokko (hei, bukankah banyak gereja, khususnya 'gereja baru' yang begitu menekankan armageddon dan zaman akhir?). Ajarkanlah selalu tentang hukum yang utama : Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Maka, yang terutama bagi kita adalah memahami dan menjalankan hukum itu, soal neraka dan pernik-perniknya adalah 'pembalasan adalah hakKu, kata Tuhan'. Sementara kita tetap percaya akan ada hari penghukuman dan neraka bagi orang-orang tertentu, mari kita fokuskan hidup kita untuk menyembah dan memuliakan Tuhan, menikmati kasih dan pengampunan Tuhan dan membagikannya kepada sesama manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.