05 Januari 2009

Marsiurupan

Di daerah Sumatera Utara (aku tak tahu di daerah lain) biasanya komunitas halak Kristen yang tinggal berdekatan membentuk suatu perkumpulan kemasyarakatan atau syarikat (atau sarekat) yang lazim disebut Syarikat Tolong Menolong alias STM. Jika ada ulaon las ni roha atau habot ni roha, maka anggota STM lah yang aktif membantu suhut (sebagai dongan sahuta).

Sungguh mengagumkan 'institusionalisasi' kepedulian antar tetangga di masyarakat Batak Kristen. Memang, akhir-akhir ini peran STM tampak makin berkurang, berhubung semakin sulitnya mengharapkan kehadiran anggotga STM dalam jumlah besar jika ada ulaon, khususnya pada hari dan jam kerja. Pekerjaan marhobas semakin tergantikan oleh 'boru na burju' alias catering. Nevertheless, semangat bersekutu untuk tolong menolong masih menjiwai eksistensi STM.

Dapatkah semangat ini kita ejawantahkan secara lebih mendasar? Seberapa banyakkah di antara kita yang peduli sungguh-sungguh hingga rela mengorbankan sebagian dari hak miliknya (harta, waktu atau kesempatan) demi menolong sanak saudara, kerabat atau tetangga ? Misalnya, dapatkah kita menggalang dana untuk menolong yang putus sekolah di antara kita melalui program tertentu (bukan sekedar 'manjanglangkon sadia na taronjor sian roha') ? Atau, menyediakan bantuan ambulans, peti mati, dan sebagainya (bukan sekear 'pangganti krans bunga') ? Tentu, ini bukan program satu STM, tetapi program komunitas Batak Kristen yang lebih luas. Tegakah kita berpesta besar (entah mengawinkan anak atau saur matua) atau mangolopi rumah seukuran istana, sementara.... di antara pemulung jalanan yang putus sekolah, pelacur ingusan yang mencari makan dengan menjajakan tubuh, ibu muda yang terkapar di beranda rumah sakit menangisi anaknya yang kena DB tak terrawat karena tak ada biaya... terdapat 'sesamamu manusia' dan 'lebih-lebih kawan seimanmu' ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.