Ada ratusan atau bahkan ribuan agama dan kepercayaan di dunia. Mengapakah seorang mempercayai (atau tidak mempercayai) Dewa Q, Dewi R, Rasul S, Maha Guru X, Nabi Y, Juruselamat Z ? Mengapakah seorang mengimani (atau tidak mengimani) adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta dan berkuasa atasnya ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas selalu menimbulkan kontroversi. Banyak orang mencoba melakukan generalisasi, yaitu mencari satu jawaban tunggal. Padahal, begitu banyak jawaban.
Mengimani atau mempercayai sesuatu (Sesuatu) yang ada di luar nalar memang penuh kontroversi. Berbagai interpretasi dan spekulasi muncul untuk menjelaskan hal-hal yang tak terjelaskan. Nah, di sinilah persoalan besar muncul : karena tidak ada dasar yang sama untuk melakukan penilaian, maka berbagai interpretasi dan spekulasi dapat dihadirkan (bahkan dipaksakan) sebagai kebenaran. Putus asa dengan ketidakmampuan manusia untuk memahami rasionalitas kepercayaan/iman, ketidakkonsistenan satu kepercayaan/aliran/agama dengan lainnya serta dampak buruk dari mengikuti kepercayaan/aliran/agama, banyak orang mengambil posisi yang berseberangan : menolak keberadaan Tuhan dan segala pernik-perniknya (Penciptaan, Nabi, Rasul dll).
Memang tidak mudah menjadi orang yang sungguh-sungguh percaya. Di satu sisi kita harus menjawab skeptisme (keragu-raguan) yang, entah bagaimana, sudah tertanam di dalam diri masing-masing kita. Di sisi lain, antara sesama orang percaya pun kita tidak memiliki pemahaman yang sama mengenai apa yang kita percayai. (Aku jadi ingat tentang Bunda Theresa yang juga kadang-kadang mempertanyakan imannya...sekali waktu aku perlu baca bukunya)
Masalahnya begini. Kalaulah iman memang harus didasarkan pada pemahaman yang mendalam mengenai sesuatu yang kita percayai, khususnya yang berkaitan dengan agama, maka hanya orang-orang pintarlah yang bisa memiliki iman yang benar (yaitu yang bisa membaca kita suci langsung dalam bahasa aslinya dan tahu mana versi aslinya). Tetapi, kalau iman cukup didasarkan pada 'asal percaya' apa yang ada di depan mata (artinya : yang selama ini kita percayai secara turun temurun atau dipercayai oleh lingkungan kita), maka kepercayaan/iman tersebut tak lebih dari tahayul dan dongeng nenek moyang.
Mencari dasar iman melalui pengetahuan ternyata tidak benar-benar 'tokcer'; buktinya : pada tiap agama dan aliran selalu terdapat cerdik cendikiawan hingga profesor cerdas yang memiliki argumen untuk membuktikan kebenaran pemahamannya, yang sayangnya, berseberangan dengan apa yang dipercayai agama dan aliran lain. Anehnya lagi, ada yang setelah mendalami agamanya, lalu berpindah ke agama lain atau bahkan menjadi tidak beragama. Demikian pula sebaliknya, ada yang tadinya tidak percaya Tuhan, setelah mendalami "ketidakpercayaan"nya dengan dalam, malah 'bertobat' menjadi percaya.
Memiliki iman yang semata-mata setia pada tradisi kelompok asal kita, jelas hanya menciptakan manusia boneka yang bertentangan dengan fitrah manusia. Orang-orang yang sekedar manut kepada norma kelompok tanpa pernah mempertanyakannya adalah boneka-boneka lucu para pemimpin yang pintar memainkan psikologi massa. Keluguan pengikut dibiarkan oleh para pemimpin untuk kepentingan mereka.
Kalau begitu, apakah yang layak dijadikan dasar iman ? Biasanya jawabannya menjadi suatu tautologi : imanku benar karena aku yakin akan kebenarannya. Nah loe....
Karena itu, diskusi para ahli agama atau ahli filsafat (baik yang theist maupun atheist) tentang kebenaran dan iman tidak begitu menarik untukku. Kebanyakan buang-buang waktu dan lebih banyak pamer kepiawaian memilin ayat dan teori.
Aku beriman kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta yang pada suatu masa mengambil rupa sebagai manusia untuk memperdamaikan diriNya dengan manusia. Aku tahu ada banyak yang tak mempercayai hal ini. Aku juga tahu bahwa ada banyak versi pemahaman mengenai Tuhan Pencipta Alam Semesta dan mengenai Yesus Kristus yang aku percaya sebagai Allah yang mengambil rupa manusia. Aku tak tahu mengapa aku memilih untuk mempercayai daripada tidak mempercayai. Dan ketika aku mempercayai, aku dituntun pada ayat Alkitab bahwa Roh Kudus lah yang menuntun orang mengenal Allah dan menyebut Yesus sebagai Tuhan. Jadi, kalau kupikir-pikir aku percaya karena kepadaku telah diberikan tuntunan untuk percaya. Lebih jauh lagi, aku dituntun untuk percaya bahwa sebenarnya bukan aku yang memilih siapa yang kupercayai, tetapi Dia yang telah memilih aku.
Lalu, bagaimanakah dengan orang-orang yang tidak percaya Tuhan atau menganut kepercayaan lain ? Mereka tentu punya versinya sendiri mengenai ketidakberimanan atau imannya itu.
Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Tidak ada yang perlu dipaksakan.
Kembali ke topik hari ini : apakah yang dapat dijadikan sebagai dasar iman ? Untukku, jawabnya adalah : kesungguhan hati mencari kebenaran dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan untuk memahami kebenaran.
Haporseai ma hata i
Ai i do haluaon
Haposi Tuhan Jesus i
Mudarna i ma golom
Ai nang gok dosa rohami
Malua do bahenon ni
Tutu, tutu...Malua bahenon ni
(Buku Ende No. 174)
11 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.