Dalam suatu acara parsarimatuaon aku ikut dalam rombongan pelayat yang akan 'pasahaton adat' kepada keluarga almarhum. Ketika akan mangulosi (kami termasuk horong hula-hula), parhata meminta kepada parmusik/pargoci yang sebelumnya mengiringi tor-tor dengan gondang "Musik i ma bahen hamu, amang parmusik nami". Musik di sini berarti alat musik modern. Aku pikir permintaan wajar saja, karena untukku juga suara gondang yang relatif monoton kurang asyik kalau terus menerus diperdengarkan ketika manortor. Tetapi, salah satu dari anggota rombongan kami yang berada di sebelahku mencoba menjelaskan," Molo hami par Kharismatik ndang boi margondang."
Musik tradisional (gondang) yang sudah dikenal oleh angka ompungta najolo memang terkait erat dengan tradisi menyembah leluhur, yang sayangnya masih diteruskan oleh sebagian halak Kristen Batak secara sadar atau tidak sadar. Ini jelas bertentangan dengan iman Kristiani yang hanya boleh menyembah Tuhan Yang Esa. Maka, bisalah dipahami mengapa gondang ditolak oleh sebagian umat.
Nah, persoalannya : apakah alat musik gondang yang harus ditolak atau penyembahan leluhur? Jawabannya jelas : Gondang yes! Menyembah leluhur No! Kekhawatiran bahwa gondang akan membawa umat kepada dosa menyembah nenek moyang memang haruslah diatasi dengan melatih lebih banyak musisi Kristen yang mampu menggunakan alat musik tradisional itu tanpa mengkompromikan imannya.
Ketika kawan-kawan Kharismatik khawatir tentang (bahkan menolak) penggunaan gondang, aku pun sebenarnya khawatir (tetapi tidak menolak) penggunaan musik modern yang menghentak bagaikan konser musik metal dalam kebaktian. KKR yang seyogyanya berpusatkan pada pekerjaan Roh Kudus seringkali digantikan oleh 'trance' buatan manusia.
Jadi, soalnya bukanlah gondang atau musik modern. Semuanya itu berasal dari Allah Pencipta Semesta. Kita manusialah yang harus menggunakannya untuk kemuliaan Tuhan.
19 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
What is this ?
BalasHapus