16 Desember 2009

Bersama

Tak pernah kita perincikan pada suatu masa, seperti apakah kita 14 tahun kemudian. Aku seperti apa, engkau seperti apa, kita ada di mana, siapa bersama kita, siapa yang tak lagi bersama kita. Tapi, meski tak kuingat jelas, aku yakin kita pernah memperbincangkan sesuatu yang seharusnya berlaku juga saat ini : kita masih tetap bersama.

Seperti itulah, kekasihku. Janji pada suatu Sabtu pagi 14 tahun yang lalu, nyatanya masih kita pegang teguh hingga hari ini.

Kita tak berniat memperbarui atau meneguhkan janji itu. Jika kita masih percaya dan bersandar pada kesetiaan dan kejujuran bibir, maka janji itu tak akan kita ingkari hingga kita mati.

Akh, marilah kita perbincangkan, kekasihku. Ketika kebersamaan itu tidak terusik, adakah mimpi-mimpimu tentang indahnya kebersamaan itu telah menjadi nyata ? Adakah engkau mengucap syukur untuk apa yang ada hari ini, apa yang telah tiada dan belum ada hari ini, apa yang berlangsung dan tidak berlangsung di hari-hari yang telah lalu ? Apakah engkau mencintai hidup sebagaimana engkau menginginkan hidup ?

Tuhanlah yang meneguhkan kebersamaan kita. Dialah juga yang tetap menjadi nakhoda kita mengarungi lautan luas di depan. Dia juga yang memberi makna atas kebersamaan ini.

15 Desember 2009

Pembela Tuhan

Membaca sebuah situs Kristen yang berisi perdebatan doktrin Kristen dengan kata-kata yang kasar, aku bertanya dalam hati : apakah Tuhan pernah meminta untuk dibela dengan cara demikian ?

Siapakah kita manusia sehingga kita tahu siapa yang paling berkenan di mata Tuhan ? Ajaran mana yang paling sejalan dengan kehendakNya ?

Bukankah kita semua hanyalah musafir yang sedang berjalan menuju rumah yang kekal dan tak seorangpun pernah melalui jalan-jalan ini sebelumnya ?

Mengapakah kita berteriak-teriak mengenai kesesatan orang lain, seakan-akan dari sudut pandang orang lain kita ini tak kurang sesatnya ?

Mengapakah kita merasa sedang membela Tuhan ?

Tuhankah yang kita bela ? Ataukah jalan pikiran kita sendiri ?

14 Desember 2009

Di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan

1 Yoh 1 : 5

Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu : Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.

13 Desember 2009

Dua Natal

Sore dan malam ini aku menghadiri dua acara natal.

Pertama acara natal di Sekolah Minggu, kedua acara natal punguan marga ibuku.

Acara yang pertama berlangsung seadanya : kurang persiapan, kurang greget, kurang bermakna. Tampaknya para pengelola sekolah minggu kekurangan tenaga dan sumberdaya, sehingga acara tersebut dibuat tak sebaik acara tahun lalu. Hal yang baik adalah : tidak ada khotbah. Ini baik, karena anak-anak batita dan balita memang bukan jemaat yang siap mendengar khotbah. Namun, anehnya, ada banyak kata sambutan yang berpanjang-panjang yang membuat anak-anak menjadi bosan.

Acara yang kedua berlangsung lebih terrencana, meskipun tidak terlalu hikmat karena banyak anak-anak yang hilir mudik dan bersuara. Sayangnya, khotbahnya berpanjang-panjang, dan tak begitu nyambung dengan thema yang tertera di lembar acara.

Dua acara natal.

Entah yang mana yang membawa orang lebih dekat dan lebih kenal dengan Tuhannya.

09 Desember 2009

Kesetiaan adalah ....

Mengapakah Tuhan mengibaratkan hubunganNya dengan manusia seperti hubungan Mempelai Pria dengan mempelai wanita ?

Mengapakah Tuhan sering mengibaratkan kelakuan manusia yang menyembah berhala sebagai suatu perzinahan ?

Mengapakah Tuhan menyuruh Hosea mengawini seorang pelacur untuk menunjukkan bagaimana perasaanNya terhadap pemberontakan manusia terhadapNya dan bagaimana perasaanNya ketika menerima manusia kembali sebagai umatNya ?

Mengapakah Tuhan memandang penting tentang pernikahan ? Mengapakah Tuhan begitu membenci perceraian ?

Mengapakah Tuhan memandang penting kekudusan hubungan suami isteri ?

Mengapa Tuhan seringkali mengingatkan bahwa Dia setia ?

Mengapa Tuhan berulang-ulang mengingatkan agar manusia berlaku setia ?

Apakah kesetiaan ?

Bukankah itu suatu kejujuran dalam suatu hubungan ?

Bukankah itu suatu kerelaan yang melampaui apa pun ?

Bukankah itu suatu penerimaan tak bersyarat ?

Bukankah itu suatu kesediaan menjalani takdir ?

08 Desember 2009

Luka

Luka
Tak mesti terbuka menganga

Mungkin mengendap diam sunyi
Di sudut-sudut yang tersembunyi

Ada luka yang tak pernah sembuh
Ada luka yang tak diinginkan sembuh
Ada luka yang berulang-ulang dikorek lagi meski telah sembuh

Ada yang gemar menggaruk-garuk luka
Ada yang gemar memamerkan luka atau bekas luka

Luka bisa menjadi alasan
Luka bisa menjadi kebanggaan

Luka bisa menjadi
Selubung segala dusta yang membalut nafsu

07 Desember 2009

Licik

Betapa licik hati manusia
Lancar memilih kata, terampil menata kalimat
Fasih menggerakkan lidah, bersegara menebarkan senyum
Tetapi juga,
Tak sungkan mengurai air mata, tak malu menghiba-hiba

Betapa licik si pendusta
Sehingga hati manusia tak sadar telah dikuasainya

Betapa dalam dusta di hati yang licik
Menjungkirbalikkan pikiran dan perasaan
Tak ragu menggunakan segala cara
Memuaskan keinginannya yang tersembunyi

Betapa licik kita manusia
Bersembunyi di balik kata
Bersembunyi di balik fakta
Bersembunyi di balik kepercayaan
Bersembunyi di balik cinta
Bersembunyi di balik logika
Bersembunyi di balik kesetiaan

Tak peduli apa yang dijadikan tempat persembunyiaan
Hati yang licik akhirnya cuma untuk melayani nafsu kedagingan

Tapi siapa yang percaya ?
Semuanya terbungkus rapi
Bak kado ulang tahun berwarna warni berpita cantik
Siapa percaya di dalamnya anak ular yang siap memagut ?

06 Desember 2009

Menyaksikan anak-anak latihan acara Natal

Di sekolah minggu, anak-anak melakukan gladi bersih acara natal yang berlangsung seminggu lagi. Anak batita hingga remaja memadati ruang serba guna dan melatih liturgi atau penampilan mereka sesuai urutan acara nanti.

Mereka terlihat ceria dan riuh.

Apakah arti Natal bagi anak-anak ?

Kapankah Natal berubah dari sukacita baju baru, pembagian hadiah, pementasan yang semarak,... menjadi sukacita penggenapan penebusan manusia ?

Segala sesuatu ada waktunya.

Sayangnya, banyak di antara kita yang telah dewasa tak pernah beranjak dari nostalgia Natal masa kanak-kanak. Natal hanyalah perayaan seperti pesta lainnya. Dimanakah Kristus ?

05 Desember 2009

Natal

Sore tadi ada acara natal oleh punguan marga.
Acaranya lumayan lancar.
Ada koor bersama.
Semua kebagian membaca liturgi. Oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Pada bagian akhir ada lucky draw. Semua kebagian hadiah.
Orang-orang tampak ceria.
Tampak ceria.
Ceria.

Tuhan, bolehkah damai natal ini menetap ?

29 November 2009

Sebuah partangiangan

Ada partangiangan dari punguan marga sore hari tadi.

Dimulai terlambat hampir satu jam.

Maka kepada pengkhotbah dititipkan pesan, "Unang pola ganjang-ganjang bahen hamu jamita muna i."

Entah karena dikejar waktu atau memang kurang menyiapkan, khotbah yang disampaikan terasa hambar, tanpa greget. Orang-orang pun tampaknya tak tertarik mendengarkan, inginnya cepat-cepat selesai.

Setelah khotbah dan berbagai doa, partangiangan berakhir, dilanjutkan dengan makan malam. Lalu dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai adminstrasi punguan dan urusan adat.

Begitulah. Akhirnya selesai hampir dua jam dari jadwal biasanya.

Namanya partangiangan, tetapi intinya adalah kumpul-kumpul. Mungkin juga untuk setor muka.

22 November 2009

Hari istirahat

Selepas kebaktian dari gereja, kami sekeluarga dan beberapa orang kerabat menggunakan hari libur untuk berjalan-jalan di pantai. Bukan pantai wisata yang indah, tapi jaraknya cuma sejam lebih sedikit dari kota. Berhenti dari keseharian dan mengambil waktu untuk menyegarkan diri dari kepenatan kerja selama enam hari, kami menikmati suara deburan ombak dan kelembutan pasir putih.

Menjelang malam kami kembali ke kota dengan hati yang lebih ringan.

Manusia membutuhkan istirahat.

Manusia diperintahkan Tuhan untuk istirahat satu hari dalam seminggu.

Hari Minggu adalah hari untuk berhenti bekerja.

Hari Minggu adalah hari untuk memperat relasi dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam.

21 November 2009

Mendung di luar, mendung di dalam

Hujan akan segera turun, seseorang berkata lirih seperti untuk dirinya sendiri

Kelam membentang langit
Awan kusam bertindihan menghempang sinar matahari

Tak ada lagi yang layak dinanti, terdengar lagi suara itu seperti menuduh

Aku mencengkeram jeruji waktu
Mencoba menyangkali daun-daun yang berluruhan

Mendung ini tak sedang berdusta
Kelam kusam di luar
Juga di dalam

20 November 2009

Mencobai diri sendiri

Ketika masih kanak-kanak, kita merasa aman dan nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh orang-orang sekitar kita setiap kali kita menangis dan merengek-rengek.

Beranjak dewasa, kita merasa tenteram berada di antara orang-orang yang peduli dan bersimpati dengan pergumulan hidup kita.

Rasa aman, nyaman, tenteram yang berasal dari dukungan orang-orang ketika kita sedang menderita kadang-kadang membuat kita kecanduan. Alih-alih menggunakan kesempatan yang kita miliki untuk menolong orang lain, kita sering membatasi diri dan mencari-cari alasan menderita agar mendapatkan perhatian dan simpati dari orang lain.

Marilah kita lihat di sekitar kita. Begitu banyak orang yang sempurna fisiknya mengeluhkan nasib. Begitu banyak orang dicukupi Tuhan segala kebutuhan finansialnya menyesali hidup. Begitu banyak orang yang diberi teman bersungut-sungut tentang sepinya dunia.

Hita manisia ini sebenarnya sedang melayani kemauan dan keinginan sendiri. Dan dengan itu, kita sedang mencobai diri sendiri. Bukankah ada Firman yang mengatakan itu ?

19 November 2009

2012

Heboh film "2012" bukan saja karena orang membeludak datang ke bioskop untuk menontonnya, tetapi juga beberapa orang merasa perlu 'menyatakan kebenaran' tentang kesesatan film tersebut.

Tanggal 21 Desember 2012 menjadi akhir dari dunia yang kita kenal. Sebagian menyebutnya sebagai kiamat.

Sebagai orang Kristen, kita tak perlu khawatir tentang 2012. Masih ada 2 tahun rentang waktu sebelum saat itu tiba. Di dalam rentang waktu itu apa pun bisa terjadi. Mungkin Tuhan Yesus sudah datang kembali. Mungkin kita sudah mati, dengan alasan apa pun.

Nah, kalau kita sudah mati, apakah artinya 21.12.2012 ? Penghakiman terakhir berlaku bagi mereka yang hidup dan mati.

18 November 2009

Kekayaan itu seperti api

Kekayaan itu - menurutku - mirip api.

Api sangat berguna dalam kehidupan. Api yang dapat dikendalikan digunakan untuk memasak, melebur logam, menjadi alat penerang.

Api yang tak terkendali akan membakar habis benda-benda berharga kita, bahkan kadang-kadang juga nyawa manusia.

Harta yang tak dikendalikan menjadi berkat bagi banyak orang.

Harta yang tak terkendali membakar kepekaan terhadap sesama, membakar tubuh, membakar jiwa.

17 November 2009

Allah itu Maha Kasih dan Pengampun ?

Sungguh sulit memahami hakekat Allah. Ia Maha Esa, tetapi bisa seperti banyak karena ada di mana-mana. Ia Maha Tahu, tetapi bisa membiarkan manusia membuat keputusan yang keliru.

Lalu, ada lagi : Allah Maha Kasih.

Lantas bagaimana dengan penderitaan orang-orang yang dilanda bencana ? Orang-orang yang terlahir cacat ? Orang-orang yang tak bisa lepas dari cengkeraman penguasa dan majikan yang lalim ? Apakah Allah tidak mengasihi mereka ?

Allah itu Maha Pengampun ? Akankah Ia meluputkan semua orang yang berdosa dari hukuman ?

Mari kita baca apa yang dikatakan oleh Nahum :

TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas,
TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah
TUHAN itu pembalas kepada para lawan-lawan-Nya

Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa,
tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah.

(Nahum 1 : 2, 3a)

Sungguh teramat congkak orang-orang yang merasa paling mengerti mengenai Tuhan, Firman Tuhan dan sifat Tuhan! Bagaimanakah mungkin ciptaan bisa memahami sepenuhnya mengenai Penciptanya ? Tidakkah kita seharusnya rendah hati ketika kita berbeda pandangan dengan orang lain mengenai Sang Pencipta dan bukan menyombongkan diri sebagai orang yang paling paham dan paling kenal Tuhan ?

16 November 2009

Peganglah apa yang ada padamu

Mudahnya mengakses informasi telah juga menyebabkan kita mudah mendapatkan berbagai ajaran yang terkait dengan kekristenan. Ragam ajaran yang tersedia luar biasa banyaknya : mulai dari yang sejalan dengan apa yang kita kenal selama ini hingga yang bertolak belakang; dan di sepanjang spektrum itu semua mengaku bahwa ajarannya adalah yang murni sesuai Firman Tuhan.

Kita bisa dibuat bingung oleh keadaan ini. Mulai mempertanyakan sedikit hal, kemudian banyak hal, lalu mulai meragukan sedikit hal, kemudian banyak hal, akhirnya meragukan Firman Tuhan dan pada puncaknya meragukan Tuhan.

Bagaimanakah kita sebagai orang Kristen menyikapi berbagai ajaran ? Perlukah kita mati-matian mengejar jawaban yang 100% benar tanpa cela ? Akh, itu utopis.

Sebagai seorang Kristen , tentu kita telah mendapatkan banyak ajaran-ajaran dasar. Tentang ajaran dasar, banyak aliran Kristen yang sepaham dan mungkin kita sendiri juga merasa sangat paham dan mengenal. Nah, ketika kita dibingungkan oleh rupa-rupa pengajaran itu, baiklah kita tetap teguh dengan ajaran dasar yang telah kita terima. Marilah kita terus hidup dalam kasih yang nyata-nyata merupakan perintah eksplisit dari Tuhan Yesus.


Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang

(Wahyu 2 : 25)

15 November 2009

Parkir di gereja : Memang kalau Kristen seperti apa ?

Ke gereja pagi ini, aku memarkirkan mobil di tempat yang disediakan di halaman gereja. Di sebelah tempatku parkir masih ada sisa tempat luang untuk satu mobil lagi. Seorang pengunjung gereja yang datang hampir bersamaan denganku, alih-alih mengambil tempat itu, memarkirkan mobilnya bersilangan dengan tempat parkir yang kosong, sehingga tempat kosong itu tidak bisa diisi mobil lain. Hal itu dilakukan sang pengemudi agar mobilnya bisa langsung menghadap gerbang keluar.

Petugas konsistori yang membantu untuk mengatur perparkiran mencoba menjelaskan kondisi yang tidak layak itu, mengingat halaman gereja cukup sempit sehingga perlu digunakan dengan efisien. Tetapi, sang pengemudi yang juga pengunjung gereja tersebut bergeming, tak mau memindahkan mobilnya. Diusulkan agar sang pemilik mobil pindah ke jalan di depan gereja (masih ada tempat), dia juga tak mau. Ngotot ditempat yang dipilihnya, tak peduli dia telah menyebabkan ada lahan parkir yang menjadi tak bisa dipakai oleh jemaat lain.

Tak peduli !

Huh, sungguh mengenaskan kelakukan sebagian orang Kristen. Boro-boro peduli pada sesama manusia secara umu, pada sesama anggota gereja juga tak mau tahu. Egois. Akh, itulah... Betapa sulitnya hati ini sekarang untuk merasa nyaman dan aman jika bertemu orang sesama Kristen... 'memangnya kalau Kristen sudah kayak mana kali rupanya' ?

14 November 2009

Hutang

Hutang bukan hanya soal uang.

Jika kita mengajak orang lain (marhara) untuk hadir dalam suatu acara adat dan ikut dalam rombongan kita, maka sebenarnya kita telah berhutang untuk melakukan hal yang sama bagi orang tersebut pada kesempatan lain.

Semakin sering kita membawa rombongan ke acara adat. semakin banyak hutang kita kepada orang lain.

Duh, susahnya jadi orang Batak... Hutang uang saja sudah banyak, harus ditambah pula dengan hutang adat!

13 November 2009

Marria raja

Sudah hampir tengah malam. Habis pulang marria raja di tempat keluarga yang baru saja ditinggal mati salah seorang anggotanya.

Untunglah acaranya tidak berlarut-larut; tetapi, telah larut malam karena dimulainya baru pukul 21.

Ah....berapa ria raja lagi yang akan kuhadiri ?

12 November 2009

Kabar lewat telepon

Kabar lewat telepon. Singkat saja. Beliau akhirnya dipanggil pulang oleh Tuhan setelah berjuang bertahun-tahun melawan penyakitnya dan beberapa hari terkapar di ICU.

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.

Terpujilah Tuhan.

11 November 2009

Negeri para penipu

Beberapa hari ini televisi tak henti-hentinya menayangkan segala pernyataan, sidang, fakta dan opini terkait kasus KPK. Orang-orang yang terlibat dan tersangka menjadi 'penjahat' semuanya menyangkal tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Semua terlihat bersih.

Hampir semuanya menunjukkan kebenaran dan kejujuran dengan bersumpah.

Tapi, pernyataan dan fakta yang disodorkan saling bertentangan.

Tentunya, ada yang berdusta. Atau, setidak-tidaknya berpura-pura. Atau, setidak-tidaknya menyamarkan kebenaran.

Tampaknya, terlalu banyak yang menipu.

Di televisi kita menyaksikan para penipu yang menyandang jabatan-jabatan terhormat sedang mempermainkan rakyat. Tak cukupkah hanya dalam pemilu rakyat dibohongi dengan janji-janji dan harapan ?

10 November 2009

Gelisah

Gelisah bisa datang begitu saja. Kita tak tahu dari mana asalnya dan sejak kapan mulai muncul.

Gelisah kadang tak bisa dikaitkan dengan kejadian lain : entah yang sudah lalu atau yang akan datang.

Gelisah pun tak tentu kaitannya dengan apa yang sedang berlangsung di depan mata.

Gelisah datang mengganggu.

Gelisah menebar seribu tanya.
Kemudian mengolok-olok dengan sejuta alternatif jawaban.

Gelisah tak perlu dipahami.
Gelisah harus dibuang.
Caranya ?
"Berharaplah kepada Tuhan."

09 November 2009

Hidup manusia

Mengunjungi seorang kerabat yang terbaring tak sadar dan tanpa daya di ruang ICU malam ini membuatku teringat akan almarhum ayah yang di akhir hayatnya juga harus tersengal-sengal dengan alat bantu pernafasan.

Pada harinya - suatu hari nanti - kita akan melepaskan nyawa dan roh kembali kepada Pemiliknya.

Bilakah hari itu tiba untuk kita ?

Dengan cara apakah ia akan tiba ?

Daripada mencoba menjawab pertanyaan yang mustahil terjawab, bukankah lebih baik berpikir dan bertindak sungguh-sungguh menjalani hidup yang saat ini masih kita miliki ?

08 November 2009

Partangiangan

Dimulai sedikit lewat dari pukul 20.00, partangiangan dongan sahuta yang aku hadiri baru berakhir menjelang pukul 22.00. Seperti biasanya, acaranya relatif kering : beryanyi; berdoa dari kaum bapa, kaum ibu dan nyonya rumah; mengumpulkan dana untuk punguan; diakhiri dengan hidangan jajanan kecil dan air mineral.

Partangiangan bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk mempererat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal.

Dapatkah wadah ini dibuat menjadi lebih bermanfaat ?

07 November 2009

Hadirin yang tak diundang

Hari ini aku menghadiri sebuah acara tanpa undangan. Hanya karena ibuku tak punya teman ke sebuah partumpolan dan minta diantar, maka aku terpaksa ikut datang, makan dan memberikan amplop 'ganti ni boras.' Soalnya, ini acara partumpolan anak perempuan dari seorang boru marga kami, ibuku merasa wajib hadir setelah ditelepon dan disungguli oleh pengundang.

Sebenarnya, tak bisa dikatakan bahwa aku termasuk 'tamu tak diundang.' Yang punya acara memang masih terbilang dongan sapunguan, tetapi untuk acara partumpolan itu aku memang tak mendapat undangan formal. Lazimnya, memang untuk dongan sapunguan berlaku undangan verbal berupa pengumuman di partangiangan yang diakhiri dengan pernyataan 'las on ma undangan di hita sasudena molo pe so sahat annon kartu manang surat undangan.'

Bagaimana pun juga, meski dengan setengah hati, aku menghabiskan jam makan siang plus plus di acara partumpolan, tanpa mengenal baik siapa yang beracara, dan tanpa memberi salam pada calon pengantin. Akh, acara halak Batak...yang penting uduran atau horong kita kita terlihat ramai.

06 November 2009

Membuat rencana

Membuat rencana adalah seperti hendak mendikte masa depan

Membuat rencana seperti sedang menyuratkan takdir sendiri

Segalanya menjadi terduga, segalanya menjadi terjabarkan

Tetapi, siapakah manusia ?
Yang bisa berkata, "Besok aku akan ke kota X ?" dan
Pasti akan berada di Kota X besok ?

Tuhanlah pemilik masa

Ketika membuat rencana, marilah kita menyerahkannya kepada Tuhan dengan kepasrahan yang penuh, bahwa segala sesuatu ada dalam kendaliNya

05 November 2009

Selamat pagi

Bangun subuh-subuh, membuka jendela mata, melihat dunia menanti matahari pagi
Hari apa hari ini ? Tentu saja Hari Kamis.
Tanggal 5 November 2009

Bagaimana caranya membuat hari ini sebagai hari yang bersejarah ?

Ada sejarah yang diantarkan kepada kita
Ada sejarah yang kita tuliskan sendiri

Bagaimana caranya menuliskan hari ini ke dalam sejarah ?

Buatlah sesuatu yang layak dicatat dalam sejarah

04 November 2009

Menatap masa depan

Berapa panjangkah jalan yang telah kita lewati ?
Apakah yang telah kita dapat dan perbuat sepanjang perjalanan itu ?

Berapa panjangkah jalan yang masih akan kita lalui ?
Apakah yang akan kita dapat dan perbuat sepanjang perjalanan itu ?

Menghitung-hitung hari, membanding-bandingkan catatan perjalanan
Membanding-bandingkan nasib, mereka-reka masa depan
Apakah yang akan kita lalui di sepanjang perjalanan di hadapan kita ?
Akankah masa depan hanya sekedar pengulangan masa lalu, kecuali
hari demi hari kita semakin renta, dan langkah semakin terkulai ?

Mencoba meneropong masa depan berbekal pengetahuan masa lalu
Akankah kita catatan yang kita tinggalkan di ujung perjalanan ini, hanya
beberapa baris kata dan tanggal di palang bersilang :
"XYZ, lahir di xyz tgl xx-yy-zz, meninggal tgl cc-qq-vv"

Tak lebih.

Menatap masa depan :
Bagaimanakah kita bisa membuat sejarah yang
lebih dari sekedar kata dan tanggal di palang bersilang ?

03 November 2009

Jabatan

Sepanjang hari ini televisi menayangkan sidang Mahkamah Konstitusi yang memperdengarkan rekaman telepon antara adik seorang tersangka koruptor yang berkonspirasi dengan pengacaranya dan beberapa pejabat publik, termasuk di Kejaksaan dan Kepolisian, untuk menciptakan skenario yang menjebak pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dengan cara yang menjijikkan, para pejabat tinggi dan bawahannya yang korup itu mengangkangi hukum dan etika.

Di manakah Tuhan ketika mereka mengucapkan sumpah jabatan ? Di manakah Tuhan ketika mereka menistai penegakan keadilan dan membohongi rakyat banyak ?

Apakah arti jabatan yang terhormat, pangkat yang tinggi, reputasi yang dielu-elukan selama ini ?

Beberapa konferensi pers yang digelar sebelum dan sesudah sidang MK tersebut hanya mempertegas bahwa : ada yang berdusta di antara kita. Siapa ?

Tak sulit melihatnya.

02 November 2009

Membuka kenangan

Menyusun foto-foto lama dan men-scan-nya agar bisa disimpan dalam format digital, mau tak mau membuka kenangan yang lama tertumpuk di sudut hati.

Wajah-wajah yang akrab...yang sekarang sudah pergi ke alam lain.
Ada foto bapak. Aku mencintaimu, Pak.
Ada foto ompung. Horas, ompung...!

Wajah-wajah yang begitu muda.
Foto istriku yang bagaikan gadis ingusan.
Foto anakku yang baru berusia beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan.
Foto diriku sendiri dengan berbagai tampang yang tak kukenali.
Foto ibuku yang - pastilah - pernah belia.
Foto adik-adikku.
Foto orang-orang yang sangat kukenal...yang sekarang semakin jauh.

Menata foto lama ke dalam arsip elektronik adalah juga
menata kenangan ke dalam pengalaman hidup yang lebih baru

Mengingat bahwa yang pernah ada...sekarang sudah tak ada
Mengingat bahwa yang dulu muda ... sekarang sudah menjadi tua
adalah
Menyadari bahwa suatu hari kita tak akan lagi ada di bumi ini
Menyadari bahwa pertambahan usia adalah kepastian yang tak terbantahkan

Dimulai dari membuka kenangan-kenangan lama...

01 November 2009

Kurang

Selalu ada yang masih belum kita miliki
Selalu ada yang masih belum kita lakukan

Selalu ada yang belum sempurna

Selalu ada yang masih kurang

Sehingga kita tak pernah kekurangan alasan untuk mengeluh,
untuk bersedih, untuk kecewa, untuk marah, untuk menyesal

Hati dan pikiran kita tertuju kepada apa yang masih kurang
Maka kita tak pernah sungguh-sungguh menikmati kelimpahan kasihNya

31 Oktober 2009

Mencintaimu

Mencintaimu, kekasihku
Adalah amanat
Adalah sumpah

Mencintaimu, kekasihku
Ada kalanya aku harus membuang perasaan
Juga pikiran-pikiranku sendiri

Mencintaimu dan mencintaiku
adalah perjanjian

Mencintai, kekasihku, adalah tentang cinta

Cinta, kekasihku, adalah tentang kekekalan

Cinta, kekasihku, bermula dari Dia dan bermuara pada Dia

30 Oktober 2009

Kesempurnaan

Merindukan kesempurnaan pasangan hidup adalah undangan bagi penyesalan dan pengkhianatan.

Merindukan kesempurnaan adalah alami. Namun yang kita rindukan adalah kesempurnaan diri sendiri, bukan orang lain, atau dunia sekitar kita.

Nah, apakah yang kita herankan mengenai banyaknya rumah-tangga yang bertumbangan meskipun tak ada persoalan yang benar-benar mengganggu ?

29 Oktober 2009

Pengampunan

Kalau saja kita mau mengingat bahwa :
Kita telah diampuni dari kesalahan dengan tuntutan kematian

Kalau saja kita mau mengingat bahwa :
Kita telah diampuni dan dibebaskan dari neraka yang kekal

Seberapa sulitkah mengampuni kesalahan orang lain kepada kita ?

28 Oktober 2009

Mansion over the hilltop

Menjalani hidup di bumi yang fana ini mau tak mau harus mengalami sakit, takut, dan ragu. Agar bisa bertahan dalam kesusahan, hati harus teguh mengarah kepada tujuan akhir : Rumah di Surga yang baka.



I'm satisfied with just a cottage below
A little silver and a little gold
But in that city where the ransomed will shine
I want a gold one that's silver lined

Though often tempted, tormented, and tested,
And like the prophet my pillow a stone
And though I find here no permanent dwelling
I know He'll give me a mansion my own


Don't think me poor or deserted or lonely
I'm not discourage, I'm heaven bound
I'm born a pilgrim in search of that city
I want a mansion, a harp and a crown

Chorus :
I've got a mansion just over the hilltop
In that bright land where we'll never grow old
And someday yonder we will never more wander
But walk on street that are purest gold

(
Ira F. Stanphill, Mansion over the Hilltop lyrics)

27 Oktober 2009

Mengerti

Mengerti : mudah mengatakannya, entah kita mengerti artinya.

Kita pikir kita mengerti, padahal kita cuma menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang kita kenal. Padahal, kita cuma membawa untaian penjelasan dalam dunia orang lain ke dunia kita. Dan, itu belumlah jadi pengertian.

Ketika kita merasa mengerti, basis pengetahuan di dalam diri kita menerima kebenaran apa yang kita rasa kita mengerti. Padahal, basis pengetahuan kita sendiri tak semuanya benar.

Barangkali kita tak pernah tahu apa yang kita mengerti.
Atau, tak mengerti apa yang kita tahu.

26 Oktober 2009

Amarah

Amarah membuat kita tolol.
Amarah membuat kita angkuh.

Amarah membuat kita tidak mau mengampuni.
Amarah membuat kita lupa pernah diampuni.

Amarah membuat kita lengah.

Amarah menyanjung kita hingga berani membantah Allah.
Amarah menjerembabkan kita ke liang dosa yang terdalam.

25 Oktober 2009

Melkisedek

Khotbah di gereja hari Minggu ini didasarkan pada Kitab Ibrani yang membahas tentang Melkisedek. Selesai pembacaan Firman, aku berharap akan ada penjelasan yang gamblang tentang Melkisedek : apakah dia itu seorang manusia atau malaikat atau apa ? Apakah dia sungguh-sungguh pernah ada atau hanya kiasan ?

Namun, pendeta yang berkhotbah tak menyinggung pembahasan ke arah yang kuharapkan. Dia malah menggunakan berbagai ilustrasi tentang cara hidup modern di luar negeri dan memaparkan beberapa teori sekuler yang tak kuingat entah apa lagi.

Hari ini aku ke gereja dan berharap belajar sesuatu tentang Firman Tuhan. Yang kudapatkan adalah pengetahuan yang bisa kucari dengan mudah di internet.

Aku masih perlu mencari tahu siapakah Melkisedek.

24 Oktober 2009

Trouble is a friend

Seorang teman Batak Kristen jatuh ke dalam pencobaan. Ini bukan yang pertama.
Dia tak menduga.
Tetapi, kali ini dia terjatuh cukup dalam.
Hingga melukai dirinya sendiri dan orang-orang yang dicintainya.

Ini bukan yang pertama. Dia selayaknya tahu dia lemah.
Tetapi, dia tak mempersiapkan diri.

Dia selayaknya tahu dia lemah.
Alih-alih menyadari kelemahannya, dia menyalahkan orang lain.
Dan, dia jatuh ke dalam pencobaan.
Dia mencari masalah.
Karena masalah adalah musuhnya...dan juga temannya.



Trouble he will find you, no matter where you go, oh oh
No matter if you're fast, no matter if you're slow, oh oh
The eye of the storm or the cry in the morn, oh oh
You're fine for a while but you start to lose control...
He's there in the dark
He's there in my heart
He waits in the wings
He's gotta play a part
Trouble is a friend yeah trouble is a friend of mine
Ah ooh...
Trouble is a friend but trouble is a foe, oh oh
And no matter what I feed him he always seems to grow, oh oh
He sees what I see and he knows what I know, oh oh
So don't forget as you ease on down the road...
He's there in the dark
He's there in my heart
He waits in the wings
He's gotta play a part
Trouble is a friend yeah trouble is a friend of mine
oh oh
So don't be alarmed if he takes you by the arm
I won't let him win but I'm a sucker for his charm
Trouble is a friend yeah trouble is a friend of mine
ah ooh
How I hate the way he makes me feel
And how I try to make him leave,
I try, oh oh I try.....

(Trouble is a Friend - Lenka)

23 Oktober 2009

Dan lagi...dan lagi...

Berapa banyakkah waktu yang harus dihabiskan seorang Batak Kristen untuk menghadiri kematian ?

Ada lagi SMS pagi ini. Seorang dongan tubu - masih terhitung dongan sapunguan - monding dan pemakamannya hari ini.

Aku tak bisa hadir.

22 Oktober 2009

Rohlah yang memberi hidup

Butir kacang hijau yang diletakkan di atas kapas basah oleh anakku sebagai bagian dari tugas sains di sekolahnya sekarang sudah berubah menjadi batang setinggi 20 cm, dan akan terus tumbuh. Dari sebutir kacang berdiameter kurang dari setengah sentimeter, akan muncul sebatang pohon kacang hijau dewasa yang akan menghasilkan ratusan butir kacang hijau baru.

Tumbuhan adalah makhluk hidup.

Hal yang mirip terjadi pada hewan. Sepasang anjing akan menghasilkan anak-anak anjing kecil yang juga kelak menjadi anjing dewasa.

Juga manusia.

Kita menyebut tumbuhan, hewan dan manusia adalah makhluk hidup.

Tetapi, 'hidup' di dalam Alkitab memiliki makna yang berbeda. Hidup manusia bukan hanya bisa sekedar tumbuh dan berkembang biak. Hidup manusia berasal dari roh.

Persoalan ini pelik : secara biologis, kematian manusia tak beda dengan kematian hewan. Namun, ada dimensi manusia yang tak terlihat oleh mata manusia, yaitu adanya roh. Ketika manusia mati, ikutkah rohnya mati ?

Aku belum mempunyai jawaban.

Tapi, perkataan Yesus ini akan menjadi pegangan :

Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

(Yoh 6 : 63)

21 Oktober 2009

Kita tahu apa yang dikaruniakan Allah kepada kita

Bagaimanakah kita yakin bahwa Tuhan ada ?
Bagaimanakah kita yakin bahwa Yesus adalah Tuhan ?
Bagaimanakah kita yakin bahwa keselamatan akan kita dapatkan ?

Ada macam-macam penjelasan. Mulai dari yang menyerang habis apa yang kita yakini itu, hingga yang mengamininya. Berbagai teori sudah dikembangan untuk menolak dan menghakimi apa yang kita yakini.

Tetapi, orang Kristen tahu apa yang dikaruniakan Allah kepada mereka.

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.

(1 Korintus 2 : 12)

20 Oktober 2009

Facebook

Membuka halaman demi halaman facebook orang-orang yang kita kenal dari masa lalu maupun dari masa kini : membangkitkan rasa rindu, rasa cemburu, rasa kagum, rasa hormat, rasa cinta, rasa haru, rasa bangga,...

Membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan orang lain : menggugah rasa syukur, mencuatkan rasa kecewa, membahanakan rasa hebat, menyembunyikan rasa gagal,...

Menatap wajah-wajah di monitor komputer,
membaca postingan di wall yang mengalir tak henti,
mencermati mail yang terus berdatangan,
memeriksa daftar orang yang mau di-add menjadi teman,
mengaitkan diri ke jejaring sosial yang tak ada batasnya ....

Mengamati wajah sendiri di cermin :
"Siapakah aku bagi diriku sendiri ?"

19 Oktober 2009

Daun yang luruh

Daun yang luruh setahun satu
Tak bisa mengingkari setianya waktu
Menandai jejak kehidupan kita di bumi ini

Daun yang luruh setahun satu
Tertimbun dan hilang bentuk di temaram senja
Siapakah yang akan mengingatkan apa yang telah lalu ?

Waktu yang luruh di temaram senja
Mengingatkan siapakah ?

18 Oktober 2009

Saling memahami

Mudah mengatakan kepada orang lain : "Ayolah...cobalah saling memahami. Bantulah dia dalam pasanganmu dalam kelemahannya. Tak ada salahnya mengalah demi kebaikan."

Pelaksanannya tak pernah mudah.

Pertama : Ketika kita diminta untuk saling memahami, masing-masing menuntut untuk dipahami terlebih dahulu. Dead lock!

Kedua : Ketika diminta untuk membantu pasangan dalam kelemahan, masing-masing melihat bahwa pasangannya sebenarnya dapat menolong dirinya sendiri dan kurang berusaha; tak ada perlunya mengulurkan tangan, hanya membuat sang pasangan tidak mandiri. Dead lock!

Ketiga : Mengalah ? Memangnya siapa yang memulai persoalan ? Dead lock!

Mencoba menyelesaikan persoalan rumah-tangga dengan menggunakan norma sosial sering membawa kita pada keadaan yang dead-lock. Tak ada lagi jalan! Bubar adalah pilihan logis.

Seandainya...ya, seandainya saja...ada rasa takut pada Tuhan.

Seandainya memahami adalah Perintah Tuhan yang harus ditaati. Seandainya menolong pasangan adalah juga Perintah yang tak boleh diabaikan. Seandainya mengalah adalah Perintah yang tak boleh dibantah.

Ya...seandainya...Mungkin masih ada harapan.

17 Oktober 2009

Ibu dan anak-anaknya

Seorang ibu - kadang-kadang - begitu mengasihi anak-anaknya sehingga bagaikan induk ayam menyediakan terus sayap yang melindungi anak-anaknya.

Kadang-kadang seorang ibu menghalangi anak-anaknya tumbuh dan mandiri dengan mengerami terus telur-telur yang sudah siap untuk menantang dunia.

Seorang ibu seringkali mengatasnamakan kasih untuk menjaga anak-anaknya dari pahit-getirnya dunia nyata, tetapi dalam kenyataan dia mengamputasi talenta anak-anaknya untuk menjadi manusia yang bahkan bisa lebih hebat dari orang-tuanya.

Tak mudah menjadi ibu.

Tak mudah mengasihi sebagai ibu.

Tak mudah bertanggung-jawab atas anak-anak yang dipercayakan Tuhan untuk dipelihara.

Tak mudah untuk mengerti : anak-anak sang ibu adalah manusia ciptaan Tuhan, bukan ciptaan sang ibu.

Mengertikah para ibu ?

16 Oktober 2009

Sakit hati

Sakit hati di simpan bukan di dalam hati, tetapi di dalam pikiran.

Sakit hati memang terasa ngilu di suatu tempat di dalam dada - entah itu di hati atau di jantung - kita tidak tahu.

Sakit hati berbeda dengan penyakit hati.

Sakit hati dikumpul dan diendapkan di dalam ingatan dan diledakkan pada saat yang tepat (atau saat yang tidak tepat ?).

Sakit hati membuat kita merasa berhak untuk tidak mengampuni, dan tak perlu meminta pengampunan.

Sakit hati membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain.

Sakit hati menjadi tapis bagi penglihatan dan pendengaran kita.

Sakit hati akan memperanakkan lebih banyak sakit hati.

Sakit hati - jika diperlihara terus - akan dibawa sampai mati.

Orang Kristen dilarang oleh Tuhan untuk sakit hati. Tuhan sendiri telah mencontohkan bagaimana Dia yang dikhianati, ditinggalkan, dimaki, dibunuh, direndahkan, dinista,...oleh manusia menawarkan pengampunan.

Tuhan kita tidak memelihara sakit hati.

UmatNya diajarkan untuk bersikap kasih : dalam kasih tidak ada sakit hati.

15 Oktober 2009

Air mata yang jatuh

Siang ini aku menitikkan air mata.

Lagi berita kematian menghampiriku.

Seorang yang kukasihi akhirnya siang ini menyelesaikan perjalanannya di bumi setelah berjuang beberapa tahun melawan kanker yang menggerogoti anggota tubuhnya.

Hatiku mendua. Seharusnya aku berpikir dia sudah lebih dekat ke Rumah Yang Kekal, tetapi hati kecilku tetap menganggap kematian adalah kekalahan.

Maka, air mataku jatuh.

Aku berduka.

Selamat melanjutkan perjalanan di Negeri Baka, Inangtua tercinta.

14 Oktober 2009

Renungan tentang pernikahan

Sebuah pernikahan hanya bisa bertahan dan mencapai kebahagiaan jika pria dan wanita yang berkomitmen membangun rumah-tangga itu sama-sama tunduk, takut dan hormat kepada Allah yang menciptakan pasangannya.

Sebuah pernikahan hanya berarti jika pasangan suami-istri memberi arti pada pernikahan mereka : pernikahan adalah kesepakatan yang diteguhkan oleh Allah sendiri.

Sebuah pernikahan Kristen hanya mungkin dibangun diatas dasar : "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan akal budi; kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" dan "Istri tunduk pada suami; suami mengasihi istri, seperti Kristus mengasihi jemaat."

Sebuah pernikahan akan langgeng hanya kalau sejak awal direncanakan, diniatkan dan dimateraikan untuk langgeng.

13 Oktober 2009

SMS (lagi dan lagi)

Sore. HP berkelap-kelip. Ada SMS.

Baris pertama terbaca : "Telah meninggal dunia...."

Duh, siapa lagi ?

Membaca SMS begini tampaknya akan menjadi latihan olah-raga jantung. Antisipasi dan rasa takut berbaur dengan rasa tak berdaya.

SMS hari ini giliran seorang tua. Sudah saurmatua. Mertua seorang bapauda. Hari ini marria raja, besok acara adatnya.

Ketika mengatur rencana untuk menghadiri acara ini dengan seorang kerabat, aku diberitahu bahwa dua hari yang lalu juga ada acara parsarimatuan di keluarga seorang dongan tubu. Aku seharusnya hadir. Duh... mengapa hanya berita kematian ?

12 Oktober 2009

Tuhan adalah Roh

Membaca tulisan kalangan new age dan animist modern, tahulah aku : Mereka menganggap Tuhan itu adalah sesuatu : energi atau benda atau keadaan. Mereka mempercayai adanya Yang Maha Kuasa, tetapi mereka mengakui keberadaannya sebagaimana mereka menginginkannya.

Di kalangan Kristen juga mulai berkembang interpretasi yang aneh-aneh mengenai Tuhan. Ada yang menganggap bahwa Kitab Kejadian menceritakan tentang samudra raya yang adalah Tuhan sendiri.

Untukku : Tuhan adalah Roh.

Aku tak tahu apa itu roh. Tetapi jelas benda-benda bukanlah roh.

Aku tak tahu apa itu sejatiNya Tuhan. Tetapi jelas energi bukanlah Tuhan.

Aku tak akan bisa memahami sepenuhnya Apa dan Siapa Tuhan.

Jika Dia ada, maka Dia ada. Entah aku paham atau tidak, Dia tetap Ada.

Jika Dia berdaulat, maka Dia berdaulat. Entah aku mengakui atau tidak, Dia tetap berdaulat.

Jika Dia adalah Roh, maka Dia adalah Roh. Entah aku hanya bisa membayangkannya sebagai Sesuatu yang berwujud, Dia tetaplah Roh.

11 Oktober 2009

Khotbah hari Minggu

Khotbah di gereja hari ini tentang orang muda yang kaya yang bertanya kepada Yesus bagaimana caranya untuk mendapat hidup yang kekal. Orang muda tersebut telah melakukan perintah-perintah dalam hukum Taurat.

Yesus menyuruh orang muda tersebut untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, kemudian datang kepada Yesus dan mengikut Dia.

Orang muda itu merasa sedih. Dia tak sanggup berpisah dengan harta yang telah dikumpulkannya. Harta tersebut lebih berarti baginya daripada hidup kekal.

Bukankah kita juga demikian ?

Kita enggan meninggalkan reputasi, rasa nyaman, karir, peluang bisnis, relasi dengan orang lain, ... demi suatu kehidupan kekal yang tak terlihat mata dan tak tahu kapan datangnya - kalau pun pernah datang ?

Orang muda dalam khotbah Minggu ini lebih jujur dari banyak orang Kristen. Dia tidak kembali kepada Yesus. Dia memilih hartanya.

Kebanyakan kita berpura-pura datang kepada Yesus, sementara hati kita masih terikat pada harta duniawi kita. Mungkinkah kita bisa menipuNya ?

10 Oktober 2009

Badai Pernikahan

Menonton sebuah film Kristen berjudul "Fire Proof" yang menceritakan tentang bagaimana sepasang suami isteri melewati badai pernikahan, aku merenung : Hampir di setiap keretakan keluarga kedua belah pihak berperan. Salah seorang - entah suami, entah isteri - mungkin memulai persoalan. Tetapi, hampir selalu, yang lain menimpali dengan menambahkan kerumitan dalam permasalahan yang ada. Demikian seterusnya : bergantian menambahkan minyak ke bara pertengkaran.

Yang juga terpikir olehku : Hampir semua pernikahan yang pecah adalah keluarga yang salah satu atau kedua orang dalam pernikahan itu tidak mau tunduk kepada Tuhan. Mereka melecehkan aturan pernikahan, mereka memandang rendah ajaran Tuhan, mereka merasa lebih pintar dari Tuhan.

Yang ketiga : pasangan yang bertengkar dipenuhi oleh amarah, dendam, rasa terhina, keangkuhan, akar pahit...dan tidak mau mengampuni dan tidak mau meminta pengampunan.

Film "Fire Proof" memberikan nasihat agar setiap orang kembali kepada ajaran kasih. Kembali kepada Sumber Kasih.

Ini mungkin resep yang menggelikan bagi kebanyakan orang sekuler. Tapi, siapa yang mau belajar tentang pernikahan kepada orang sekuler ? Aku tidak!

Pernikahan adalah perjanjian di hadapan Allah dan harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah. Kurang dari itu tak lebih dari kontrak sosial yang dengan mudah digugurkan dengan alasan sepele.

09 Oktober 2009

Sebuah SMS

Sebuah SMS masuk ke HP.

Memberitakan ada seorang dongan tubu yang juga sapunguan monding. Marria raja malam ini, adatnya besok.

Mendapat berita kematian akan menjadi seperti SMS berlangganan : pasti akan datang meski tak teratur jadwalnya.

Bukankah ini seharusnya mengingatkan kita bahwa suatu hari kelak nama kita yang dicantumkan di dalam SMS itu ?

08 Oktober 2009

Para Farisi

Orang Farisi di dalam Kitab Perjanjian Baru sering diidentikkan sebagai orang munafik : banyak tahu Firman Tuhan, tetapi kelakukan dan sikapnya jauh dari Firman Tuhan. Lebih konyal lagi, mereka suka menggunakan Firman Tuhan untuk menunjukkan kesalahan orang lain, suka membuat berbagai aturan yang menjadi jabaran dan pedoman menjalankan Firman Tuhan, suka menghakimi orang lain.

Namun, mereka adalah orang-orang yang serius mencari tahu Firman Tuhan. Karena itu, meskipun banyak orang Farisi yang munafik, mereka dipuji Yesus juga. Orang-orang yang tidak giat mempelajari Firman Tuhan sebagaimana dilakukan oleh orang Farisi, akan jauh dari Kerajaaan Allah.

Di abad ke-21 ini semakin banyak kita temui Farisi baru di sekitar kita. Mereka rajin belajar Firman, entah formal di sekolah teologia/Alkitab atau belajar sendiri atau kursus-kursus. Dengan petantang-petenteng mereka berkhotbah tentang kesesatan banyak orang-orang Kristen yang mengikuti doktrin tertentu. Dengan lantang pula mereka mengajarkan berbagai pemahaman baru mengenai Firman Tuhan.

Mereka bisa kita temui di gereja-gereja. Di persekutuan doa atau kelompok PA. Mereka mungkin adalah orang dekat kita. Dan sekarang, mereka bagaikan ikan menemukan samudra : jutaan lembar halaman internet dibuat untuk menyebarkan ajaran Para Farisi.

Mana yang benar? Mana yang salah? Mana 'ku tahu ?!!!

Semua merasa benar, semua merasa Alkitabiah, semua merasa dituntun Roh Kudus, semua merasa sedang menegakkan ajaran Yesus yang sejati, semua merasa pintar dan yang lain tolol. Jangan coba-coba mengingatkan Para Farisi untuk lebih banyak berbuat daripada berkoar-koar tentang doktrin; mereka akan punya segudang amunisi untuk menunjukkan hanya orang-orang bodoh dan bebal yang tak mau menggunakan akal budi untuk menyelidiki Firman Tuhan.

Lantas, mengapa umumnya Para Farisi modern itu gemar menggunakan kata-kata kasar, menghina dan sok serba tahu, tak beda dengan Para Farisi zaman Yesus ?

Entahlah.

Aku hanyalah seorang Batak Kristen biasa yang cuma beberapa gram otak sederhana. Aku tahu aku tidak paham cukup banyak mengenai Firman Tuhan. Aku tahu bahwa aku kemungkinan salah mengartikan beberapa Firman Tuhan.

Aku hanya percaya bahwa "barang siapa percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal."

Aku hanya percaya bahwa mengasihi Allah adalah hukum utama dan mengasihi sesama manusia adalah hukum yang sama pentingnya dengan hukum utama itu.

Tentang berbagai ajaran, aku hanya berupaya memahami sebagaimana Tuhan ungkapkan kepadaku. Sesat atau tidak...siapa yang mengangkat Para Farisi modern itu menjadi hakim kita saat ini ?

07 Oktober 2009

Ironi

Menyaksikan TV menyiarkan luasnya dan ngerinya dampak gempa di Sumatera Barat membuat hati bergidik. Sungguh menyeramkan.

Hampir semua statiun TV membuka dompet sumbangan. Begitu juga beberapa operator telepon seluler menyediakan cara penyaluran sumbangan dengan cara yang mudah "ketik ...." melalui SMS.

Ada lagu Ebiet G. Ade yang diulang-ulang.

Juga, gambar-gambar yang memilukan.

Tetapi, TV tetaplah media komersial.

Di antara berita "breaking news", iklan-iklan kondominium, apartemen, dan sebagainya yang menjulang dan mewah ditawarkan dengan iringan lagu yang megah dan presenter cantik yang senyum lebar.

Hanya hitungan hari...bencana ini tak akan lebih dari cerita selingan bagi orang-orang yang tak mengalaminya sendiri.

TV membukakan mata kita akan kenyataan. TV juga mendikte kita tentang suatu ilusi yang wajib kita pahami sebagai kenyataan.

Itulah ironi hidup masa kini.

06 Oktober 2009

Akar

Telah lama aku renungkan, dan belum dapat aku temukan sesuatu yang menyangkalnya :

Akar dari semua masalah manusia adalah dosa
Akar dari semua penderitaan adalah ketidakpercayaan kepada Rancangan Allah
Akar dari semua keputusasaan adalah tidak berharap kepada Allah

05 Oktober 2009

Renungan pagi

Pokok pikiran dalam Saat Teduh pagi ini :

Tak peduli siapa diriku atau apa yang telah kulakukan, Allah mengasihi aku.

04 Oktober 2009

Adat parsarimatuaon

Praktis sehari ini kegiatanku hanyalah mengikuti acara adat parsarimatuan kerabat yang meninggal dunia.

Dimulai dari pukul 08.00 dengan ibadah Minggu di rumah duka, mompo, acara, menyelimutkan saput dan menudungkan tujung, dan acara keluarga. Lalu masuk acara utama dengan masuknya uduran yang tak henti : hula-hula, tulang, bona tulang, bona ni ari, tulang rorobot, hula-hula na marhaha maranggi, hula-hula parsiat, simatua ni boru, raja di boru, raja tinonggo, berbagai dongan, dan diakhiri dongan sahuta. Di sela-selanya ada acara makan siang dan manumpaki. Ada juga acara dondon tua.

Aku permisi pulang ketika masuk ke acara tutup peti. Hari sudah mulai gelap.

Matahari pastilah sudah terbenam ketika jenazah di bawa ke pemakaman. Dan, masih akan dilanjut lagi dengan acara membuka tujung.

03 Oktober 2009

Gempa Sumbar

Gempa berskala 7,6 SR yang terjadi 30 September 2009 menjadi berita yang tak henti disiarkan oleh televisi.

Wajah-wajah kosong, putus asa, histeris; tubuh-tubuh tanpa nyawa. Bencana ini merenggut jiwa-jiwa tanpa ampun. Aku tak mengenal wajah-wajah itu. Tapi, aku ikut menangis. Di ujung lidahku tersendat tanya : Mengapa Tuhan ?

Ratusan nyawa telah melayang. Ratusan lagi jiwa hilang, dan besar kemungkinan tertimbun di kedalaman lebih 10 meter atau di reruntuhan puing.

Belakangan aku dengar, seorang saudara jauh yang tinggal di Mentawai juga tak luput dari bencana. Rumahnya hancur. Puji Tuhan, seluruh keluarga selamat.

Tuhan, jauhkanlah aku dari pertanyaan 'mengapa' itu. Biarkan aku tunduk kepada apa saja kehendakMu. Doaku kepadaMu : apapun kehendakMu, berbelas kasihanlah kepada saudara-saudara kami di Sumatera Barat dan sekitarnya.

02 Oktober 2009

Nunga lao

Pagi tadi aku dapati sebuah SMS di handphone. SMS kemarin malam. Seorang kerabat dekat dipanggil pulang ke rumah Tuhan sekitar pukul 19 kemarin.

Siangnya aku sempatkan mampir ke rumah duka.

Menemui orang-orang yang berduka.

Satu per satu orang yang kukenal meninggalkan bumi.

Setiap kita akan meninggalkan bumi.

Mengapa kita menyia-nyiakan waktu yang masih tersisa ?

01 Oktober 2009

Air

Renungan pagi dari buku pedoman Saat Teduh yang kami baca tadi pagi membahas tentang pentingnya air dalam kehidupan. Air diperlukan untuk memuaskan dahaga. Dalam percakapan dengan perempuan Samaria di pinggir sumur, Kristus mengajar bahwa Dia dapat memuaskan rasa haus rohani kita.

Sepanjang hari ini aliran air PAM ke rumah kami sangat kecil. Air di bak mandi sangat sedikit. Untunglah malam hari air mulai ngocor dengan lebih kencang. Aku mandi jam sepuluh malam. Rasa lengket di wajah dan sekujur tubuh dan rasa gerah yang begitu mengganggu hilang terguyur air. Duh, segarnya.

Tidakkah seharusnya Firman Tuhan tidak hanya memuaskan rasa haus rohani kita, tetapi juga menyegarkannya setelah berdaki-daki dan berpanas-panas menjalani hidup di antara orang-orang yang tak tunduk kepada Tuhan ?

30 September 2009

Engkau berhak ?

Apakah yang kau miliki yang memang merupakan hakmu ?

Apakah karena tiap hari makanan tersedia di mejamu, maka engkau berhak untuk mendapatkan hal yang sama besok ?
Apakah karena tiap hari air melimpah di dalam bakmu, maka engkau berhak untuk mendapatkan hal yang sama besok ?

Apakah karena tersedia rumah yang menaungi engkau hingga hari ini, maka engkau berhak untuk tetap memiliki tempat tinggal besok ?
Apakah karena hingga hari ini engkau memiliki pekerjaan tetap, maka engkau berhak untuk bekerja di tempat yang sama besok ?

Apakah karena engkau berayah dan beribu, beranak dan bercucu, maka engkau berhak untuk memiliki mereka besok ?

Apakah karena bisa berjalan dengan kakimu, maka engkau berhak tetap bisa menggunakan kakimu besok ?
Apakah karena hari ini matamu bisa melihat, bibirmu bisa berbicara, telingamu bisa mendengar, kulitmu bisa meraba, lidahmu bisa mengecap, maka engkau berhak bisa tetap merasakan dunia besok ?
Apakah karena hari ini jantungmu bisa memompa, ginjalmu bisa membersihkan darah, ususmu bisa mencerna, hatimu bisa menawarkan racun, paru-parumu bisa menarik dan menyaring udara,..., maka engkau berhak bisa hidup dengan kesehatan yang sempurna besok ?

Mengapakah engkau merasa berhak atas apa yang ada pada dirimu saat ini ?
Siapa yang memberimu hak itu ?
Dari manakah engkau berasal ?
Engkaukah yang menciptakan dirimu ?

29 September 2009

Perbuatan tersembunyi yang memalukan

Seringkali muncul pertanyaan : Mengapa aturan ibadah dalam Kekristenan tidak jelas ? Mengapa aturan apa yang boleh dan tidak boleh dalam Kekristenan tidak tegas ? Dapatkan Kekristenan dianggap sebagai agama jika aturan-aturannya begitu tidak jelas ?

Untuk pertanyaan demikian, marilah kita balik bertanya : apakah gunanya aturan ? Agar teratur, itu jawaban yang gamblang. Atau lebih tepatnya, agar telihat teratur.

Apakah kurang jelas aturan bagaimana mengasihi sesama ? Apakah kurang jelas aturan bagimana mengasihi Tuhan ?

Hati manusia yang licik sering menuntut kejelasan aturan, agar bisa mencari cara untuk menjalankan aturan (benar secara legalistik) sementara hatinya menyeleweng dan di balik yang terlihat, perbuatannya menyimpang dari aturan.

Orang Kristen adalah orang yang telah diperbarui hatinya. Sebelum hati diperbarui, maka segala aturan - betapapun baiknya menurut ukuran manusia - tak banyak manfaatnya. Kerakusan, kebebalan, keangkuhan dan segala nafsu dan keinginan daging akan mencari cara untuk bermain-main dengan aturan. Lihatlah apa yang terjadi dengan kejahatan korupsi dan penyuapan oleh orang-orang yang menjadi penegak hukum dan keadilan di negeri ini. Apakah mereka kurang mengerti aturan ?

Kita memerlukan aturan, tetapi aturan tidak pernah cukup.

Ketika aturan tidak ada, kita tidak merdeka berbuat sesuka hati kita karena hati kita telah diubahkan dan hanya mau melakukan apa yang baik di mata Tuhan. Bahkan ketika tak ada seorang lain tahu, bahkan di tempat yang tersembunyi, kita tak mau melakukan apa yang memalukan.

Seandainya orang Kristen mau menyadari prinsip hidup Kristen ini, tentulah kita tidak akan bertemu polisi Kristen yang menerima suap, hakim Kristen yang bisa disogok, kepala sekolah Kristen yang mengutil gaji guru, pendeta Kristen yang mengorupsi uang jemaat, dokter Kristen yang memeriksa pasien secara sembarangan, majikan Kristen yang menyiksa pembantu,...


Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

( 2 Korintus 4 : 2)

28 September 2009

Orang bebal binasa oleh kelalaiannya

Berulang-ulang kita mendengar kebakaran yang disebabkan oleh 'arus pendek'. Meskipun penyebab kebakaran sudah jelas, orang-orang tetap saja sembarangan memasang instalasi listrik.

Peralatan listrik dibuat tak mengikuti standar keamanan.Steker sambung tumpuk-menumpuk dibebani berlebihan. Sambungan kawat dan kabel diberi isolasi sembarangan. Instalasi yang sudah uzur tak diganti.

Dan, kita masih akan mendengar terus kebakaran yang disebabkan oleh hubungan singkat arus listrik.

Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya,
dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya

( Amsal 1 : 32 )

27 September 2009

Menjadi Kristen

Menjadi Kristen tentulah bukan sekedar mencantumkan kata Kristen pada kolom agama di dalam KTP atau dokumen lain.
Menjadi Kristen tentulah bukan sekedar hadir di gereja pada setiap Minggu
Menjadi Kristen tentulah bukan sekedar ikut partangiangan rutin mingguan atau bulanan

Menjadi Kristen tentulah tak harus memiliki jabatan pelayanan di gereja
Menjadi Kristen tentulah tak harus bekerja di lembaga berlabel Kristen

Menjadi Kristen tentulah tak harus menempeli atau menggantungi atribut Kristen di leher, di mobil, di rumah, di tempat kerja

Menjadi Kristen adalah menjadi pengikut Kristus

Bagi sebagian orang, ini berarti : "Juallah barangmu, bagikan kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku"
Bagi sebagian orang, ini berarti : "Tinggalkanlah pekerjaanmu, Aku akan menjadikanmu penjala manusia"
Bagi sebagian orang, ini berarti : "Tinggalkanlah ayah ibumu, ikutlah Aku"

Menjadi Kristen berarti mengakui dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuan dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati

Menjadi Kristen berarti percaya bahwa Kristus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup dan di kolong bumi ini tak ada nama lain yang olehnya kita bisa diselamatkan

Menjadi Kristen berarti memiliki iman, pengharapan dan kasih, dan percaya bahwa yang terbesar di antaranya adalah kasih

Menjadi Kristen berarti mencontoh hidup Kristus yang mengasihi manusia hingga rela memberi nyawaNya sendiri

Menjadi Kristen berarti kembali ke Sifat Allah

Allah adalah Kasih

Menjadi Kristen berarti : menempatkan kasih kepada Allah dan kepada sesama melampaui segala apa pun di bumi ini

Sudahkah kita menjadi Kristen ?

26 September 2009

Menghadiri sebuah pesta pernikahan

Aku mengenakan batik. Istriku mengenakan pakaian layak pesta Batak dan memberi hair-spray sedikit pada bagian depan rambutnya.

Hadir di gedung sebelum pengantin tiba.

Bersalaman ke sana ke mari dan menyapa para undangan yang aku kenal.

Ikut menikmati hidangan sangsang horbo, bagot, ikan mas, gado-gado.

Mengantri menyampaikan tumpak pada keluarga pengantin.

Diam-diam pulang. Meninggalkan para kerabat yang lebih tua yang akan duduk di gedung sampai sore menjelang malam pasahathon adat.

Selesailah sudah kewajiban adat yang menyita waktu dari pukul 11.30 hingga 14.30.

Siapa yang kawin ?
Aku tak kenal !

Yang jelas : ada undangan beralamatkan namaku dari dongan samarga yang asalnya dari luar pulau. Kemudian, ada telepon dari namboruku yang mengingatkan agar aku hadir untuk meramaikan undangan paranak.

Bagaimana persisnya partuturon kami dengan pengundang tak terlalu perlu. Pokoknya : satu ompung lah (kira-kira 8 - 10 generasi ke atas). Sebagai orang Batak, sebagai dongan tubu, wajib saling membantu.

Maka...aku menghadiri sebuah pesta pernikahan dimana baik pengantin maupun orang-tua pengantin tak aku kenal. Yang pasti hanyalah, mereka adalah dongan tubuku. Begitulah Batak. Entah baik, entah merepotkan...begitulah adat-istiadat keluarga besar dimana aku lahir, dibesarkan dan terikat secara sosial.

21 September 2009

Engkaukah itu ?

Engkaukah itu, yang kukasihi ?
Yang pertama kulihat ketika mataku terbuka di awal hari
Yang mengisi keheningan dengan sapaan yang merdu

Engkaukah itu, yang kukasihi ?
Yang menyemarakkan hati meneruskan hidup di bumi
Yang menopang tangan yang nyaris terkulai

Engkaulah kekasihku
Yang kupilih dan memilihku
Menjadi milikku dan pemilikku
Denganmu saja jiwaku mau berpadu

20 September 2009

Cinta mula-mula

Mula-mula aku tak tahu mengapa aku tertarik kepadamu
Mula-mula aku tak tahu mengapa aku merasa cinta kepadamu
Mula-mula aku tak mengerti mengapa aku beranikan diri mengatakan cinta kepadamu

Berlembar-lembar hari, bulan dan tahun kita lewati
Aku tak pernah sungguh-sungguh mengerti mengapa aku mencintaimu
Aku pun tak pernah mengerti bagaimana seharusnya mencintaimu

Tapi, aku telah memutuskan untuk menjalani hidup bersamamu
Entah dengan cinta atau tanpa cinta yang kumengerti

Yang kutahu, aku pernah merasakan cinta yang dalam kepadamu
Pada suatu mula-mula

Maka :
Aku akan menjalani hidup terus bersamamu
Sambil terus mengingat cintaku yang mula-mula kepadamu,
Kekasihku selama-lamanya

07 September 2009

Lagu yang mengingatkan

Lagi.

Siang tadi menghadiri pemakaman seorang dongan sahuta. Usianya baru saja melampaui kepala 4, anaknya dua : masih SD. Di rumah duka yang sederhana dengan sound system seadanya acara berlangsung.

Tak berlama-lama. Ini bukan acara adat na gok seperti parsarimatuaon atau parasaurmatuaon. Holan mangido tangiang, begitu yang berulang-ulang diucapkan. Sebelum jam 3 ambulans dan rombongan pengantar berarak menuju pemakaman.

Seorang lagi anak manusia menuju Tuhannya.

Masing-masing kita menunggu giliran. Tak melihat usia, tak melihat status. Na sa jolma ingkon mate. Lagu itu kudengar lagi hari ini. Dan mengingatkanku akan hari-hariku sendiri.

01 September 2009

Mengasihi sesama

Karena kita cukup rajin memasukkan selembar atau beberapa lembar uang kertas ke kantong kolekte untuk pekerjaan diakonia
Karena kita ikut menyumbang untuk korban bencana alam atau tetangga yang tertimpa musibah
Karena kita sesekali menyodorkan receh atau uang seribuan kepada gembel dan anak jalanan

Karena kita selalu mengusahakan hadir di tempat orang yang sedang berduka
Karena kita tak lupa membawa buah ketika mengunjungi orang-orang yang sakit

Karena kita tak pernah melayangkan tinju dan menampar pipi orang lain
Karena kita tak pernah merasa sengaja menyakiti hati orang lain

Karena kita tangkas mengutip firman 'kasihilah sesamamu manusia'

Kita pikir kita sudah hidup mengasihi sesama manusia

Padahal :
Kita sedang asyik masyuk mengasihi diri sendiri

31 Agustus 2009

...kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu

"Telah pulang ke Rumah Bapa di Sorga"

Iklan berbingkai hitam bertajuk tulisan di atas ditambah dengan beberapa ayat Alkitab dapat kita baca hampir setiap hari di Harian Kompas.

Iklan dukacita.

Tetapi, ada juga yang memilih ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menyedihkan, karena Tuhan telah mengalahkan maut dan Dia telah menyiapkan tempat bagi kita di surga. Untuk halak Batak yang saur matua, segala acara adat juga menggiring kerabat untuk memandang mati uzur dengan meninggalkan keturunan yang banyak adalah suatu peristiwa sukacita.

Kelak masing-masing kita akan menyelesaikan perjalanan kita di bumi ini. Akankah kita meninggalkan kerabat yang menangis atau yang bersukacita ? Apakah yang menjadi dasar dukacita atau sukacita mereka ?

Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu : Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

( Yohannes 14 : 28 )

30 Agustus 2009

Lupa

Sepulang gereja kami sekeluarga mengunjungi keluarga seorang saudara dekat. Tidak ada acara khusus, hanya silaturahmi karena setelah mereka pindah rumah, kami belum pernah mampir. Makan siang dan ngobrol-ngobrol jadi menu utama hari itu. Dilanjutkan dengan jalan-jalan ke pemancingan ikan yang memang banyak di sekitar tempat tinggal mereka.

Tak terasa hari telah sore.

Lupa bahwa hari ini pukul 16.00 ada partangiangan triwulanan punguan marga kami.

Aduh.... Harusnya periksa jadual partangiangan di kalender setiap hari Minggu.

29 Agustus 2009

Menghitung hari

Ada kalanya, kesenyapan bersuara lebih keras dari teriakan.

Ada kalanya, sedikit kata berbicara lebih banyak dari untaian kalimat.

Ada kalanya, beberapa baris Firman lebih jelas dari paparan khotbah yang berpanjang-panjang.


Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggannya adalah kesukaran; sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana.

( Mazmur 90 : 10,12 )

28 Agustus 2009

Dukacita membawa pertobatan

Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namu aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa itu menyedihkan hatimu -- kendatipun untuk seketika saja lamanya --,

namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami.

( 2 Korintus 7 : 8-9 )

27 Agustus 2009

Sukacita yang melimpah-limpah dalam penderitaan

Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan mau. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.

Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Dimana-mana kami mengalami kesusahan : dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan.

Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.

Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.

( 2 Korintus 7 : 4 -7 )

26 Agustus 2009

..., sehingga kita sehidup semati

Aku berkata demikian bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan , bahwa kau telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati.

( 2 Korintus 7 : 3 )

25 Agustus 2009

Tempat di dalam hati

Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorang pun, tidak seorang pun yang kami rugikan, dan tidak dari seorang pun kami cari untung.

( 2 Korintus 7 : 2)

Marilah menyucikan diri secara jasmani dan rohani

Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.

( 2 Korintus 7 : 1)

24 Agustus 2009

Aku menjadi Bapamu, dan kamu menjadi anak-anakKu

Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan, demikianlah firman Tuhan Yang Maha Kuasa.

( 2 Korintus 6 : 18)

23 Agustus 2009

Keluarlah dan pisahkanlah dirimu dari mereka

Sebab itu : Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.

( 2 Korintus 6 : 17)

22 Agustus 2009

Menghadiri (lagi) adat parsaurmatuaon

Tubuh ringkih dan tua yang terbujur kaku di dalam peti mati itu tak terusik oleh riuhnya musik dan suara orang-orang yang berbalas kata melalui pengeras suara untuk menjalankan adat parsaurmatuaon.

Lima ratus orang lebih kerabat almarhum berkumpul di dalam rumah dan di bawah tenda yang dipasang di halaman dan di jalan depan rumah. Aku satu di antaranya sebagai dongan sahuta yang juga menurut hubungan marga juga adalah hula-hula parsiat.

Aku tak pernah berinteraksi dengan almarhum semasa hidupnya, bahkan aku sama sekali tak mengenalnya. Aku pernah dua tiga kali saling menyapa dengan salah satu menantunya.

Menggunakan waktuku hari ini untuk menghadiri acara ini dari pukul 10.00 hingga pukul 16.00 yang sebagian besar digunakan untuk duduk menunggu, ada pertanyaan yang mengusik di hati : produktifkah hari-hari orang Batak ?

21 Agustus 2009

Kita adalah bait dari Allah yang hidup

Apakah hubungan bait Allah dengan berhala ? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman ini : "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hiudp di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu.

( 2 Korintus 6 : 16 )

20 Agustus 2009

Bagian bersama orang-orang percaya dan orang-orang tak percaya

Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial ? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya ?

( 2 Korintus 6 : 15 )

19 Agustus 2009

Jangan menjadi pasanagan yang tidak seimbang

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan ? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap ?

( 2 Korintus 6 : 14 )

18 Agustus 2009

Bukalah hati kamu selebar-lebarnya

Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu.

Maka sekarang, supaya timbal balik - aku berkata seperti kepada anak-anaku - Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!

( 2 Korintus 6 : 12,13 )

17 Agustus 2009

Merdeka !

Tanggal tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka
Nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka !
Sekali merdeka, tetap merdeka!
......

Setiap menyanyikan lagu perjuangan, terasa di dalam diri ada semangat yang mengalir keluar. Rasa bangga menyatu dengan harapan yang tinggi.

Sebagai bagian dari Negara Indonesia sejak berdirinya republik ini, halak Batak Kristen yang tersebar di seantero tanah air ikut merasakan pahit getirnya perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu.

Inilah tanah air kita di bumi ini. Inilah negeri yang untuknya kita rela berjuang. Mari kita terlibat sepenuh hati untuk menyejahterakan seluruh rakyat di negara kita - tak pandang suku, agama, ras dan golongannya. Itulah yang dikehendaki Tuhan dilakukan anak-anakNya di kota mana dan negeri manapun di bumi ini Dia menempatkan mereka.

16 Agustus 2009

Mengabarkan Injil secara berterus-terang

Ketika seseorang mengabarkan Injil, maka yang menjadi obyektifnya adalah membuat orang yang diinjili menjadi pemenang. Penginjilan berhasil bukan karena seseorang menjadi Kristen atau kembali kepada iman Kristen yang pernah diyakininya, tetapi ketika orang membuka hatinya kepada kebenaran Firman Tuhan. Artinya, berita sukacita itu didengarkan dengan benar. Entah dia mengambil keputusan untuk mengikut Yesus (atau kembali kepada Yesus), itu adalah urusan masing-masing dengan Tuhan. Justru, kalau orang mengikut Yesus (atau menjadi Kristen) karena kepiawaian sang penginjil untuk mempersuasi orang lain, perlu diragukan apakah Injil itu yang sungguh memenangkan hati pendengarnya atau skill/keterampilan/pesona/kharisma/kekuasaan/kekuatan pemberitanya.

Pemberitaan Injil bukan bertujuan untuk mengoleksi dan menambah jumlah orang yang menjadi Kristen. Itu hanya efek lanjut dari penginjilan yang berhasil. Tapi, jangan dibalik : membuat orang menjadi Kristen, bukanlah bukti bahwa penginjilan berhasil. Orang bisa saja menjadi Kristen (atau tetap Kristen) karena alasan-alasan seperti pernikahan, ekonomi, sosial, pekerjaan,...dll yang tak ada kaitannya dengan pengertian yang benar mengenai Kristus dan karyaNya dalam hubungan Allah dengan manusia. Betapa menyedihkan kalau hal itu terjadi. Lebih menyedihkan lagi kalau sampai ada orang yang mengaku Kristen mengatakan melakukan penginjilan, padahal motif sebenarnya adalah ekonomi dan politik.

Penginjilan yang benar adalah semata-mata menyampaikan kabar baik dari Allah, maka tak ada yang perlu disembunyikan. Kalau ada orang yang takut mendengar kabar itu, apalagi menghalangi-halangi, maka tahulah kita siapa yang menjadi bapanya. Tapi, kalau ada orang Kristen membalut niat jahat dengan bungkus pekabaran injil (seperti zaman penjajahan dulu : gold, gospel and glory), kita pun tahu siapa bapa sebenarnya dari orang yang mengaku Kristen itu.

Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu.

( 2 Korintus 6 : 10 )

15 Agustus 2009

Bagaimana mengenali seseorang adalah pelayan Allah ?

Banyak orang mengaku dirinya pelayan Allah atau dikenal sebagai pelayan Allah dari jabatan formalnya di dalam suatu lembaga gereja atau pelayanan.

Ada juga yang disebut sebagai pelayan Allah dari aktivitas kerohanian dan sosial yang aktif dijalankannya.

Tetapi, ketika Rasul Paulus hendak menunjukkan dia adalah pelayan Allah, maka yang dijabarkannya bukanlah jabatan Pendeta, Sintua, Penatua, Diaken, Evangelis, Guru Huria, Guru Injil,...apalagi gelar-gelar akademis teologis (STh, MTh, MDiv, Doktor Theologia., ...) yang sama sekali tak berkaitan dengan apa yang diimani.

Seorang pelayan Allah dikenal dari karakternya dan perilakunya baik ketika mengabarkan Injil Kerajaan Allah, maupun dalam kehidupannya secara umum. Beginilah menurut Paulus :

Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu : dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,

dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;

dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;

dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela

ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat, atau ketika dipuji; ketika dianggap penipu, namun dipercayai,

sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;

sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

( 2 Korintus : 4 -10)

14 Agustus 2009

Oleh-oleh dari sebuah pesta

Ada undangan pesta adat pernikahan dongan Batak Kristen hari ini.

Aku tak hadir. Istriku mewakili.

Katanya pestanya meriah. Makanannya berlimpah.

Pulangnya isteriku membawa 'oleh-oleh' sepotong rendang dan dua tangkup susu ni horbo. Katanya, di mejanya hanya ada beberapa orang, jadi banyak sisa. Biasanya dia tidak mau membawa, tapi karena yang lain sudah mendapatkan cukup banyak dan mereka memaksa agar dia mengambil juga sebagian, maka akhirnya dia mau menyimpan sepotong rendang dan dua tepek susu horbo itu untuk dibawa pulang.

Akh, gaya Batak. Pulang pesta ada bawaannya.

Aku jadi teringat, ketika masih kecil suka memeriksa tandok bawaan ibuku sehabis pesta. Biasanya ada daging jambar atau sesuap sang-sang, kadang-kadang dapat lampet.

Tahun boleh berganti, kebiasaan tak berubah : mari kita nikmati saja apa yang baik.

13 Agustus 2009

Beruntung dan bersyukur

Sore tadi aku menghadiri acara penghiburan di rumah seorang sahabat yang ayahnya baru meninggal dunia. Ayahnya itu seorang Kristen yang taat dan aktif di gereja.

Meninggal sebagai pengikut Kristus dan dengan keyakinan akan bertemu dengan Bapa di surga sungguh adalah akhir pertandingan yang gemilang.

Bagi anak-anaknya, lahir dan dibesarkan oleh orang-tua yang mengenal Kristus dengan baik dan memperkenalkan Kristus kepada mereka sejak mereka kanak-kanak sungguh adalah kesempatan yang luar biasa.

Tak banyak anak-anak yang lahir dan besar di dalam keluarga Kristen merasa bahwa kesempatan itu adalah anugerah yang tak diberikan oleh Allah kepada semua orang. Mereka menyia-nyiakan apa yang telah diberikan Tuhan secara istimewa bagi mereka.

Hari ini aku belajar bahwa aku pun termasuk orang yang beruntung. Puji syukur kepadaMu, ya Tuhan dan Allahku.

12 Agustus 2009

Tidak membuat orang tersandung

Membaca surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus tentang perilaku orang-orang yang memberitakan Injil dan menjadi pelayan Tuhan, aku jadi ingat lagi akan berbagai lembaga Kristen masa kini yang jauh dari apa yang diteladankan oleh Paulus dkk. Sekolah Kristen yang merampas hak pengguna jalan umum; rumah sakit Kristen yang mendiskriminasi orang miskin; situs blogger Kristen yang bertabur hujatan dan kata-kata kotor; gereja dan yayasan Kristen yang berebut jabatan dan uang.

Ketika mereka mencantumkan label Kristen dalam kegiatannya, maka mereka merasa sah untuk mengatakan aktivitas itu adalah bagian dari pelayanan.

Tapi, dalam praktik, yang terlihat adalah perilaku manusia yang mementingkan diri sendiri atau tak bisa mengendalikan diri. Bagaimana tidak orang akan tersandung melihat pelayanan ala Kristen masa kini ?

Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.

( 2 Korintus 6 : 3 )

11 Agustus 2009

Hari ini adalah hari penyelamatan itu

Tuhan maha kasih. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan meyakini hal itu.

Tuhan mendengar orang-orang yang berseru kepadaNya. Tuhan berkenan ditemui oleh orang-orang yang mendekat kepadaNya. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang meminta tolong kepadaNya.

Tuhan berinisiatif untuk menyelamatkan manusia.

Tuhan mendatangi manusia.

Manusia diberi opsi untuk memilih : menyambut uluran tangan Tuhan atau menampikNya.

Keselamatan adalah kasih karunia Allah yang ditawarkan kepada manusia dengan cuma-cuma. Manusia bisa menyambut, menerima dan hidup dalam kasih karunia itu atau bisa juga menolak dan membiarkan kasih karunia itu sia-sia.

Apakah jawaban kita terhadap tawaran Allah itu ?

Rasul Paulus mengingatkan :

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.

Sebab Allah berfirman : "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

( 2 Korintus 6 : 1,2 )

10 Agustus 2009

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa

Kalau mau mengikuti logika manusia, kehadiran Yesus Kristus di bumi untuk menebus dosa manusia adalah hal yang aneh. Orang Kristen percaya bahwa dengan kematian dan kebangkitanNya, Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Lho, bukankah Yesus adalah Tuhan, untuk apa harus ada pertunjukan kematian dan kebangkitan itu ?

Jika dikatakan Yesus menebus manusia dari iblis, bukankah Tuhan yang berkuasa dan dengan mudah Dia dapat mengambil manusia dari tangan iblis ?

Banyak penjelasan mengenai kedatangan Yesus dan pekerjaanNya di bumi. Tetapi, tidak ada satu penjelasan pun yang bisa memuaskan logika kita.

Memang, itulah soalnya. Kedatangan Yesus di bumi bukanlah mengikuti logika manusia, melainkan logika Allah.

Dalam logika Allah, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa harus dihukum dan - masih dalam logika Allah - hukum itu tak akan dibatalkan. Tetapi, Allah mau manusia bebas dari hukuman itu. Untuk itu, Seseorang mengambil alih hukuman itu dan menjalani kematian yang merupakan upah dosa. Dengan lunasnya hukuman itu dijalani, maka manusia kembali dapat hidup benar di hadapan Allah.

Allah telah membuat Seseorang yang tidak berdosa menjadi dosa dan membawaNya ke Bukit Golgota dan membiarkannya mati tergantung di kayu salib.

Seseorang telah mati menjalani hukuman kita manusia.

Dia kemudian bangkit.

Jika kita ada di dalam Dia, maka kita beroleh hak atas pembenaran oleh Allah.

Itulah logika Allah.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

( 2 Korintus 5 : 21 )

09 Agustus 2009

Berilah dirimu didamaikan dengan Allah

Ketika Allah mengulurkan tanganNya untuk menolong manusia, tidak serta-merta manusia menjulurkan tangan masing-masing untuk menyambutNya.

Ada banyak alasan.

Ada yang tak percaya kepada Allah. Ada yang tak percaya kepada Kristus. Ada yang tak percaya Allah memang menawarkan pertolongan dan pendamaian melalui Kristus.

Ada yang tak mau tahu dengan Tuhan.

Ada yang tak mengerti soal hukuman kekal, penebusan, perdamaian dan hidup kekal.

Ada yang bersikukuh dengan caranya sendiri untuk mengambil hati Tuhan melalui amal dan doa-doanya.

Apapun alasannya, mereka yang tak menyambut Injil Kerajaan Allah telah menolak kesempatan berdamai itu.


Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu : berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

( 2 Korintus 5 : 20 )

08 Agustus 2009

Berita pendamaian

Siapakah Yesus ?

Orang Kristen yang sempat mempelajari dasar-dasar iman Kristen tahu bahwa Yesus adalah juruselamat : Dia mati untuk menebus dosa manusia, sehingga manusia yang percaya kepadaNya tidak lagi binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal.

Itu jelas.

Tetapi, banyak orang - khususnya yang bukan Kristen - memandang Yesus dengan cara yang berbeda. Ada yang menyebutnya sebagai guru moral. Ada yang menyebutnya nabi, setara dengan nabi-nabi lain yang datang sebelum Dia. Ada yang mendaulatnya sebagai model seorang pemimpin, manajer atau CEO yang baik. Ada yang menganggapnya tabib atau dukun. Ada yang menggunakan namaNya untuk ramuan doa dan mantera untuk penyembuhan atau mengusir hantu. Berbagai cara pandang ini menutupi hakikat keberadaan Yesus dan kedatanganNya di bumi sebagai juru damai Allah dengan manusia.

Kristus adalah Tuhan. Sesungguhnya melalui karya Kristus, Tuhan sendiri telah mengulurkan tanganNya untuk mengangkat manusia dari lembah hukuman dan menempatkannya kembali di dalam kerajaanNya. Itulah berita pendamaian. Itulah berita sukacita. Itulah Inji Kerajaan Allah.


Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

( 2 Korintus 5 : 19)

07 Agustus 2009

Janji pernikahan

Hari ini aku menghadiri acara peneguhan pernikahan dan acara adatnya.

Dari lembar tata ibadah kukutip tulisan ini :

Pendeta :
Saudara berdua telah mendengarkan Firman Tuhan tentang dasar pernikahan orang Kristen. Maka sekarang saya bertanya kepada pengantin pria (wanita) : Bersediakah saudara(i) di hadapan Tuhan Yang Maha Tahu dan di hadapan jemaat yang berkumpul di sini menyaksikan bahwa saudara menghendaki saudara(i) ..... ini menjadi istrimu (suamimu) ?
Bersediakah saudara (i) dengan segenap hati mengasihi dia dan berbuat dengan segala kekuatanmu, dan bersediakan saudara(i) bersama-sama dengan dia melakukan kehidupan yang kudus ?
Bersediakan saudara(i) untuk mengerti dan menanggung kelemahannya, dan maukah saudara(i) berjanji bahwa saudara(i) tidak akan menceraikan dia sampai kematian yang menceraikan kamu kelak ?

Pengantin pria (wanita) :
Ya! Saya berjanji dan bersedia! Saya percaya Tuhan menguatkan saya

Pendeta :
Jemaat yang dikasihi Tuhan Allah yang hadir di sini, marilah kita menyaksikan ikrar kedua mempelai ini.

Pengantin pria (wanita) :
Di hadapan Tuhan Yesus Kristus dan gerejaNya saya menyatakan memilihmu menjadi isteriku (suamiku), kekasih dan pendamping hidupku. Sebagai suami (isteri) yang beriman, dengan kekuatan dari Tuhan Yesus saya berjanji akan memelihara hidup kudus denganmu, akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap memeliharamu dengan setia sampai kematian memisahkan kita.

O....betapa indahnya. Jika saja janji ini dipegang teguh, bukankah kita akan menyaksikan rumah tangga Kristen yang harmonis hingga akhir hayat pasangan itu ?

But, wait!

Mana aturan rumah tangga Kristen seperti yang diajarkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose ? Tak perlukah lagi seorang isteri berjanji untuk tunduk kepada suami dan seorang suami berjanji untuk mengasihi isteri seperti Kristus yang rela mati untuk jemaatNya ?

Aha...! Janji yang indah, tapi tak mau taat aturan Kristen. Kesetaraan suami isteri yang ditunjukkan dengan janji yang identik sebenarnya menyimpan masalah tentang misteri keterkaitan antara kasih dan ketaatan. Bukankah hubungan Kristus dengan jemaat adalah seperti hubungan mempelai pria dengan pengantin wanitanya ? Bukankah ketundukan isteri terhadap suami dan ketundukan anak-anak terhadap orang-tua adalah aturan yang jelas tegas ? Bukankah kasih suami terhadap isteri dan ayah terhadap anak-anaknya adalah juga aturan yang jelas tegas yang membuat posisi suami dan ayah tersebut tidak mungkin disalahartikan untuk menindas ? Mengapa aturan tersebut tak lagi disebut dalam janji pernikahan ?

Akh...perlukah kita heran bahwa pernikahan di gereja sekarang ini - yang katanya menurut cara Kristen - tak lebih sakral dari janji Valentine ? Perlukah kita heran bahwa rumah tangga yang diteguhkan dalam suatu upacara pernikahan di gereja sekarang ini gampang gonjang-ganjing dan mudah dibubarkan ? Jika kita tak berniat taat kepada ajaran Tuhan, mengapakah kita menuntut kepadaNya bahwa rumah tangga kita akan langgeng dan membawa kebahagiaan ?

06 Agustus 2009

Pelayanan pendamaian

Pekabaran Injil adalah penyampaian berita bahwa manusia telah berdamai dengan Tuhan melalui perantaraan Yesus Kristus.

Gereja sebagai persekutuan orang percaya mengemban amanat untuk mengabarkan Injil. Para pemimpin umat di gereja menjadi ujung tombak dalam pelayanan pekabaran Injil.

Pekabaran Injil bukanlah untuk meng-Kristen-kan orang, sama seperti pendidikan bukanlah untuk mendapatkan ijazah. Inti pesan Injil adalah pendamaian antara Allah dan manusia.

Bukankah aneh sekali jika di dalam lingkungan gereja di antara umat tidak ada perdamaian, padahal kepala gereja adalah Kristus sang juru damai ? Lupakah para pemimpin umat bahwa kepada mereka dipercayakan pelayanan pendamaian ?

Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

(2 Korintus 5 : 18)

05 Agustus 2009

Ciptaan baru

Melihat banyaknya orang Kristen yang berkelakuan sama atau bahkan lebih buruk dari orang bukan Kristen, mau tidak mau muncul pertanyaan : apa yang membedakan Kristen dengan yang bukan Kristen ?

Kalau kita melihat tanda-tanda yang terlihat mata, kita akan kecewa. Banyak orang bukan Kristen yang hidupnya jauh lebih susila, lebih saleh, lebih beribadah, dan hal-hal baik lainnya dibandingkan orang Kristen.

Sangat menyedihkan, banyak orang yang mengaku Kristen bermegah diri bahwa hal-hal lahiriah seperti itu tidak utama dalam keselamatan, yang penting Kristen. Bah!

Kunci untuk memahami keadaan ini adalah : siapakah yang sebenarnya layak disebut pengikut Kristus ? Tentu tidak setiap orang yang menyebut diri sendiri sebagai Kristen. Juga tidak setiap orang yang memanggil Tuhan kepada Yesus.

Siapa mengikut Kristus ada di dalam Kristus. Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Seluruh kehidupannya sudah diubahkan. Termasuk perilakunya. Dia memang belum sempurna, bukan makhluk suci. Tetapi, perbuatan jahat mencuri, membunuh, berzinah, berbohong, merampas hak orang lain, menipu, sombong, berlaku kasar, tidak peduli,... adalah masa lalu yang sudah dilepaskannya. Bagaimana mungkin seorang mengaku sebagai pengikut Kristus can ciptaan baru jika ia masih mempertahankan dan menghidupi kelakukan jahatnya itu ?

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

(2 Korintus 5 : 17)

04 Agustus 2009

Ukuran untuk menilai orang

"Dia orang yang berhasil."

"Aku orang gagal."

"Anaknya orang-orang hebat."

"Hidupnya betul-betul sukses."

"Mereka bukan siapa-siapa."

Ketika kita menilai seseorang - termasuk diri sendiri - tentulah kita secara sadar atau tidak menggunakan ukuran atau kriteria tertentu. Yang paling mudah adalah menggunakan ukuran yang lazim digunakan oleh kebanyakan manusia lain. Karena itu, banyak orang berduyun-duyun mengidolakan seseorang yang disanjung oleh banyak orang lain. Banyak orang ingin seperti orang yang diidolakan oleh banyak orang.

Kita mengukur dengan apa yang kita pandang baik.

Padahal, sebagai orang berdosa, alat ukur kita banyak yang sudah rusak.

Lihatlah! Kita mengelu-elukan orang yang berhasil menjadi pemimpin - meskipun dia adalah seorang yang curang dan korup. Kita mengelu-elukan orang yang berhasil secara finansial - meskipun dia sering memanipulasi orang lain. Kita mengelu-elukan seorang pesohor - meskipun pola hidupnya jauh dari kesusilaan.

Lebih menyimpang lagi : kita juga mengukur Kristus menurut ukuran manusia. Kita membandingkannya dengan nabi-nabi dan pengajar-pengajar dunia ini.

Bukankah seharusnya kita kembali kepada ukuran yang baku, yaitu ukuran Sang Pencipta Alam Semesta ? Siapakah orang itu di mata Tuhan ? Siapakah aku di mata Tuhan ? Siapa Kristus menurut Tuhan ?

Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian.

( 2 Korintus 5 : 16)

03 Agustus 2009

Mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri

Untuk apakah manusia hidup ? tanyaku kepada isteriku sehabis mengantar anakku ke sekolah.

Bayangkan, ujarku, jika pola ini kita jalani bertahun-tahun yang akan datang. Aku akan mengantar ke sekolah ribuan kali. Persis seperti yang dahulu dilakukan oleh ayahku untuk kami anak-anaknya. Sekarang bapak sudah tidak ada; aku mengulangi siklus yang dilakukannya.

Soal rutinitas mengantar sekolah hanyalah contoh kecil dari hidup cuma sekedar pengulangan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita.

Skenario yang lazim : Orang dilahirkan, mengejar pendidikan tinggi, menggapai karir yang sukses, mencapai tingkat penghasilan yang super...untuk apa ? Untuk hidup. Lalu, hidup untuk apa ?

Bagaimana jika : sekolah kandas, karir mentok bahkan terkapar oleh PHK, hidup dari mengais rejeki... bagaimana mau bicara tentang menikmati hidup ? Lalu, hidup untuk apa ?


Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

( 2 Korintus 5 : 15)